BekasiBerita Utama

Waspada, DBD Mengancam

Illustrasi DBD
Illustrasi DBD

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Memasuki musim penghujan dan cuaca yang cenderung lembab di wilayah Bekasi memicu berkembangnya nyamuk aedes aegypty. Untuk itu, masyarakat diminta waspada terhadap penyakit demam berdarah dengue atau DBD di tengah pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bekasi, total kasus DBD dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ini atau bersamaan saat datang wabah Covid-19, sebanyak 511 kasus (lihat grafis). Namun, beruntung tak sampai ada korban jiwa.

“Dari ratusan kasus DBD di Kota Bekasi, untuk korban meninggal nihil. Semoga tidak ada korban jiwa,” kata Kepala Bidang (Kabid) Penyakit di Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezy Syukrawati, Selasa (23/6) di Posko Covid-19 di Stadion Patriot Candrabhaga.

Dezi menyebut, jika dibandingkan tahun lalu dengan priode bulan yang sama, kasus DBD di Kota Bekasi tahun ini angkanya meningkat. Namun, tak terlalu signifikan hanya 9 kasus. “Ya, jika dihitung tiga bulan terakhir ada peningkatan 9 kasus dengan tahun lalu yang totalnya ada 502 kasus, yakni 220 kasus di bulan Maret, 152 di bulan April, dan 130 di bulan Mei,” jelasnya.

Dari 12 Kecamatan yang ada di Kota Bekasi, kasus DBD tertinggi pada tahun 2020 ini yakni di Kecamatan Bekasi Utara, disusul kedua ada di Kecamatan Bekasi Barat dan terakhir Jatiasih. “Ya 12 kecamatan di Kota Bekasi, kasus tiga besar ada di wilayah itu,” ungkapnya.

Selain berpotensi menjadi penyebar virus DBD, nyamuk aedes aegypty juga bisa menjadi penyebar virus chikungunya. Warga yang terkena virus yang dibawa nyamuk aedes aegypty itu menderita demam, ngilu, dan nyaris lumpuh. “Nyamuk aedes aegypty sangat berbahaya sebagai penyebar chikungunya dan demam berdarah. Pengobatan terhadap penderita saja tidak cukup, melainkan harus dilakukan pemberantasan sarang nyamuk serta pengasapan,” tegasnya.

Dia berharap saat beradaptasi kebiasaan baru seperti sekarang ini, masyarakat dapat memanfaatkan untuk pemberantasan sarang nyamuk. Hal tersebut dapat dilakukan di sekolah, rumah ibadah dan maupun lingkungan  warga.

Dia menekankan keluarga untuk berinisiatif dalam pemberantasan nyamuk sehingga demam berdarah dapat dicegah. Masyarakat dapat melakukan pencegahan utama melalui 3 M yakni menguras, menutup dan mendaur ulang.

Saat ini, lanjutnya, Dinkes Kota Bekasi ‎telah berkoordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit se-Kota Bekasi untuk mempercepat penanggulangan kasus DBD, yakni melalui grup WhatsApp. Tak hanya itu, gerakan pemberantasan sarang nyamuk pun telah dilakukan secara masif di berbagai wilayah, termasuk pembinaan masyarakat, agar dapat menjaga lingkungan rumahnya dan sekitar dari bahaya DBD dengan ikut aktif menjadi kader Jumantik.

“Kami sedang berusaha mendorong untuk membentuk kader jumatik di tiap rumah, sehingga tak andalkan petugas atau kader di wilayah untuk datang ke rumah mengecek kondisi jentik-jentik nyamuk. Intinya, demi cegah berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti itu terpenting, sadar dengan kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan,” tandasnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi Dariyanto menambahkan, Dinkes melalui puskesmas harus aktif memberikan edukasi dan juga turun kemasyarakat untuk bersama menanggungi masalah yang ada, agar bisa memberikan rasa aman masyarakat terhadap bahaya covid dan juga demam berdarah, karena mempunyai gejala yang hampir sama.

“Bisa dioptimalkankan peran RW siaga penangan Covid-19 beserta penanggungan DBD dengan melaksanakan program kerja bakti di lingkungan. Jadi selain melakukan penyemprotan disinfektan disertai juga dengan kegiatan 3M dan pelaksanaan jumantik,” tegasnya sembari menambahkan, penyakit DBD bisa menjadi ancaman jika tidak dicegah dengan baik.

Sementara itu di Kabupaten Bekasi, kasus DBD hingga merenggut korban jiwa. Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Irfan Maulana mengatakan, jumlah penderita DBD pada 2020 mengalami penurunan dibandingkan 2019 lalu. Menurutnya, peningkatan kasus DBD ini mengalami peningkatan setelah banjir kedua di awal tahun.

Dirinya memastikan, penurunan kasus DBD pada tahun ini dikarenakan keperdulian masyarakat pada kesehatan setelah adanya wabah Covid-19 yang merebak di Kabupaten Bekasi. “Aware masyarakat akan kesehatan dengan Covid-19 ini menjadi pemicu positif masyarakat menjaga kesehatan lingkungannya,” tuturnya.

Dia mengaku, kecamatan Tambun Selatan paling banyak terjadi kasus DBD. Menurutnya, disebabkan jumlah penduduk yang padat di wilayah tersebut. “Karena jumlah penduduknya hampir 600 ribu orang, mobilitas penduduknya cepat, bisa dari mana saja pergerakan orang,” ucapnya.

Masih Irfan, pihaknya sejauh ini sudah melakukan edukasi ke masyarakat mengenai kasus DBD. Terutama ke wilayah yang ada jumantik. “Sejauh ini kita rutin melakukan edukasi kepada kelompok masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 68 ribu kasus demam berdarah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kasus tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat, Lampung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kalau kita lihat jumlah kasus ada 68 ribu kasus DBD seluruh Indonesia di mana kita tentu melihat kembali lagi provinsi-provinsi yang juga memiliki kasus COVID tertinggi dan juga kasus DBD tertinggi,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia.

“Jadi kalau kita lihat, saat ini yang tertinggi misalnya Provinsi Jabar, kemudian ada Provinsi Lampung, kemudian ada NTT, Jatim, Jateng, dan Yogyakarta. Termasuk juga Sulawesi Selatan yang kita tahu juga secara jumlah kasus COVID-nya cukup tinggi,” sambungnya.

Siti mengatakan fase masa DBD kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Siti menyebut puncak DBD sebelumnya terjadi pada Maret, tapi tahun ini hingga Juni masih ada penambahan kasus.

“Jadi kalau kita lihat DBD kita lihat puncak kasusnya setiap tahunnya selalu terjadi bulan Maret. Dan ada satu hal yang berbeda tentunya pada tahun ini adalah kami melihat penambahan kasusnya sampai di bulan Juni kami masih temukan penambahan kasus yang cukup banyak. Artinya, angka ini adalah sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita melihat bahwa sampai saat ini kita masih temukan 100-500 kasus per hari,” ujarnya. (mhf/pra/dtk)

Data Fakta Kasus DBD

 

Kabupaten Bekasi

Januari                  : 30 kasus

Februari               : 21 kasus

Maret                   : 69 kasus

April                       : 56 kasus, 1 meninggal

Mei                        : 54 kasus

 

Kasus tertinggi di Kecamatan Tambun Selatan

Kota Bekasi

Januari                  : 75 kasus

Februari               : 97 kasus

Maret                   :165 kasus

April                       : 178 kasus

Mei                        : 169 kasus

 

Kasus tertinggi di Kecamatan Bekasi Utara, Bekasi Barat dan Jatiasih

 

Gejala DBD

  1. Demam tinggi mencapai 40 derajat celsius selama 2-7 hari
  2. Nyeri kepala berat
  3. Nyeri pada sendi, otot, dan tulang
  4. Nyeri pada bagian belakang mata
  5. Nafsu makan menurun
  6. Mual dan muntah
  7. Pembengkakan kelenjar getah bening
  8. Ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam
  9. Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening
  10. Perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit
  11. Muntah darah
  12. BAB berwarna hitam
  13. Dehidrasi

 

Pertolongan Pertama

  1. Tirah baring (bedrest)
  2. Perbanyak minum air minimal 2 liter per hari
  3. Kompres hangat
  4. Berikan obat pereda demam, jika demam tinggi
  5. Jika dalam 2-3 hari gejala semakin memburuk bawa ke RS

 

Pencegahan

  1. Menguras tempat-tempat penampungan air
  2. Menutup rapat semua tempat penampungan air
  3. Mengubur barang bekas

Related Articles

Back to top button