Berita UtamaMetropolis

Saling Tuding Dugaan Pencemaran

Gubernur Diminta Turun Tangan

PERLU PENANGANAN: Air Curug Parigi di kelurahan Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi terlihat menghitam dan mengeluarkan buih, akibat dugaan pencemaran. Kondisi ini perlu penanganan serius. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKAS

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penanganan pencemaran sungai di dua wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi belum menemui titik terang. Pencemaran terus berulang tanpa ada penanganan serius.

Saling tuding dugaan titik pencemaran juga dilontarkan pihak pemerintah daerah Kota Bekasi mapun Kabupaten Bogor. Kota Bekasi menuding dugaan titik pencemaran dari hulu sungai di wilayah Cileungsi Kabupaten Bogor.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengaku tengah berupaya untuk dapat menyelesaikan persoalan itu. Namun kata dia, Gubernur atau Kementerian terkait yang sejatinya mampu menyelesaiakan karena pencemaran terjadi di dua wilayah.

“Ya harusnya itu pak Gubernur atau Kementerian yang bisa selesaikan masalah ini, sebab kalau kita kan melaporkan saja dan itu juga sudah sering. Bahkan, Lab (uji laboratorium) juga sudah sering kita lakukan hingga ke Bogor kita sudah membuat kerjasama,” ujar Rahmat Effendi, Rabu (22/7).

Pihaknya juga berencana melakukan komunikasi dengan pihak kepolisian dan Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk penanganan tersebut, utamanya dari aspek pelanggaran dan sanksi.

“Saya kira memang harusnya di tambah lagi dengan pak Kapolres dan juga pak Kejari. Saya nanti mau ngomong menindaklanjuti hal ini. Akan tetapi, kalau pelanggaran ada disana (Kabupaten Bogor), kita tidak bisa apa-apa,” ungkapnya.

Menurut Wali Kota dua periode ini, pihaknya sangat terbuka untuk bekerjasama dalam rangka penanganan limbah tersebut. Dia pun yakin, limbah bukan dari hulu yang jauh sampai Hambalang. Ia meuding limbah berasal dari kawasan pabrik di wilayah Cileungsi.

“Saya yakin ini limbah gak sampai hulu-hulu banget, tapi paling berasal dari kawasan pabrik di Cileungsi. Itu kan disana banyak sekali pabrik-pabrik terus ke sini perbatasan Kota Bekasi. Kasus ini sudah berpuluh-puluh kali, termasuk hasil lab juga sudah di lakukan. Dan ini kan pasti jenisnya sama berbusa seperti itu dan pasti dari pabrik yang sama dan mengeluarkan limbah yang sama,” tuturnya.

Ia mengaku pencemaran Kali Bekasi yang terjadi sejatinya sudah bisa terdeteksi dari mana asal limbah ini sesuai produksinya. ”Dan ini orang-orang ahli kimia pasti sudah cukup paham dari pabrik apa,”jelasnya.

Pepen menegaskan, untuk segera menyelesaikan persoalan yang telah bertahun-tahun terjadi ini perlu sinergitas baik dari pihak keamanan maupun kerjasama Kota Bekasi dan Pemkab Bogor.

“Tapi yang paling penting tentunya, itu Gubernur dan Kementerian yang perlu harus turun tangan langsung,. Itu pun kalau ingin Kali Bekasi bisa dinikmati airnya, baik menjadi air bersih maupun aspek pariwisata,” tutupnya.

Terpisah, menyikapi kondisi Sungai Cileungsi yang sering kali tercemar, Plt (Pelaksana tugas) Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bogor Anwar Anggana mengaku Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor telah membahas secara bersama terkait pencemaran limbah yang terjadi di sungai tersebut.

Kedua pihak, menurutnya, telah sepakat untuk membentuk tim sebagai tindak lanjut limbah yang mengalir sampai saat ini. Tim ini nantinya akan melakukan penyusuran dimulai dari Jembatan WIKA, Canadian di wilayah Kota Wisata, kemudian sekitaran SD Curug Parigi (Kota Bekasi).

Dia menjelaskan sebelumnya hasil pertemuan di September 2019 lalu di Ombudsman penanganan sungai akan berkordinasi terlebih dulu dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) melalui DLH Jabar.

Lebih lanjut, dia menegaskan, pencemaran limbah yang terjadi di aliran Sungai Cileungsi ini bukan saja akibat pabrik-pabrik yang berada di wilayah Kabupaten Bogor melainkan, pabrik di Bekasi menjadi salah satu penyebab perubahan kondisi air di sana.

“Lokasi ke tiga itu di Jembatan Canadian. Aromanya sangat bau. (Bukan di Bogor saja) Pabrik di Bekasi juga buang limbah 20 menit yang lalu (saat pengecekan),” tegasnya.

Dia menilai, pencemaran limbah di sungai tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi wilayah. Pasalnya, sambung dia, air sungai secara alamiah mengalir dari hulu menuju ke hilir. Pencemaran seperti ini telah terjadi sejak berdirinya industri atau pabrik di kedua wilayah.

“Untuk itu diperlukan pembentukan tim terpadu secara bersama antara DLH Kabupaten Bogor dan DLH Kota Bekasi serta yang utama difasilitasi oleh DLH Provinsi Jabar karena penanganannya melintasi dua wilayah yang berbeda,” singkatnya.

Seperti diketahui Pemerintah Kota Bekasi belum lama ini telah menyampaikan surat aduan kepada Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang kemudian akan diteruskan kepada Bupati Bogor berikut DLH Kab. Bogor. Diketahui Pemkot Bekasi meminta agar Pemprov Jabar dapat merealisasikan normalisasi sungai.(mhf/reg/rbg)

Related Articles

Back to top button