Metropolis

Abai Protokol Kesehatan, Kasus Covid-19 Melonjak

RAPID TEST: Petugas medis mengambil sampel darah saat melakukan rapid test di Kawasan Pondok Cipta, Kelurahan Bintara, Bekasi Barat, Rabu (7/6). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus positif Covid-19 di wilayah Kelurahan Arenjaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi dikabarkan mengalami peningkatan signifikan hingga 36 kasus.

Jumlah tersebut terhitung dari Juli hingga 4 Agustus 2020, sesuai informasi yang beredar dari pesan WhatsApp, Lurah Arenjaya. Kabar tersebut nampaknya bukan hisapan jempol belaka.

Kepala Puskesmas Arenjaya, Dwi Wahyuningsih saat dikonfirmasi, tidak menampik kabar peningkatan kasus positif di wilayahnya tersebut. Namun demikian, dirinya tak bisa menyampaikan secara detail data kasus tersebut karena, ia menilai itu data internal bukan untuk konsumsi publik.

”Data itu sifatnya internal sehingga tak bisa berikan untuk konsumsi publik. Tapi yang jelas, saya kemarin sudah sampaikan ke Bu Lurah dan jajarannya, sampai ke tingkat RT bantu woro-woro ke warga agar bisa menekan penyebaran Covid-19 di wilayahnya,” kata Dwi saat dikonfirmasi Radar Bekasi.

Dwi menyebut, peningkatan kasus Covid-19 itu tak dapat dipungkiri terjadi di Kota Bekasi, khususnya di wilayah Arenjaya yang memang berbatasan dengan beberapa daerah lain, seperti Kabupaten Bekasi dan DKI Jakarta.

“Yang jelas, situasi ini tak bisa kita pungkiri dan mungkin dalam kesehariannya itu warga lupa akan protokol kesehatan yang harusnya bisa tetap ditaati dan dipatuhi, dengan tujuan mencegah penyebaran virus Covid-19,” tuturnya.

Lebih jauh, diakui Dwi, di masa Adaptasi Tatanan Hidup Baru (ATHB) ini pihaknya pun masih tetap bertugas melakukan pengawasan pada setiap kasus-kasus yang terjadi di wilayahnya. Hal ini, dalam rangka mendukung kebijakan Wali Kota untuk proses pemulihan perekonomian di Kota Bekasi.

“Kami sampai saat ini masih tetap melakukan tugas dan tanggung jawab kami di wilayah, karena memang tugas kami itu untuk dapat mengawasi warga baik yang terkonfirmasi maupun yang tidak. Dan proses tracking pun masih berjalan, bahkan kepada pasien sembuh pun tetap terus kita awasi kondisinya,” ungkapnya.

“Intinya, kami mendukung kebijakan pak Wali untuk upaya pemulihan

ekonomi di masa ATHB ini. Makanya, soal kondisi kesehatan warga biarkan kami yang menangani dengan memantau yang menjalani isolasi mandiri di wilayah, setidaknya hal ini bisa meringankan tugasnya di tengah Pandemi,” sambungnya.

Akan tetapi, dia menegaskan, dalam tugasnya ini tentu tenaga medis butuh dukungan dari seluruh unsur baik jajaran pemerintah di wilayah maupun warga masyarakat, agar bisa mengantisipasi dan mencegah bertambahnya kasus tersebut.

“Sejujurnya, kami yang bertugas ini sudah cukup kepayahan karena setiap hari tak berhenti terjun ke lapangan. Dan untuk meringankan tugas ini, kami cuma minta jangan lupakan protokol kesehatan yang ada sehingga virus ini bisa dicegah sampai betul-betul hilang,” tutup Dwi.

Terpisah, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi pun tak menampik adanya peningkatan kasus positif Covid-19 di wilayahnya, khususnya klaster baru dalam lingkungan keluarga. Namun, dia memastikan kalau kasus ini masih dalam batas yang aman atau tak mengkhawatirkan.

“Ya memang betul di kita terdapat peningkatan pada klaster keluarga, tapi buat saya yang paling penting itu kemampuan dalam menangani secara cepat kasus tersebut, seperti kita siapkan alat rapid test, kit swab, tenaga medis yang kuat untuk menangani kasus, dan termasuk pusat rujukan perawatan RS untuk menampung jika ada peningkatan yang luar biasa,” tegas Rahmat.

Disamping itu, Rahmat menegaskan, adanya peningkatan kasus yang ada sampai hari ini berdasarkan data masih sangat aman, karena kini jumlah angka kematiannya sudah tidak terjadi dan angka kesembuhan pun meningkat signifikan.

“Kami pastikan, untuk kasus Covid di kita ini meskipun meningkat tapi masih aman. Hal ini dibuktikan, dengan angka kematian yang saat ini sudah 0,000 persen, sementara untuk angka kesembuhan mencapai 99,999 persen. Jadi, InsyaAllah peningkatan ini belum ditingkat yang mengkhawatirkan,” pungkasnya. (mhf)

Close