Pendidikan

Cerita Mahasiswa Asal Kota Bekasi Kuliah di Jerman

Semua Jadwal Hampir Selalu Tepat Waktu

Javana
MAHASISWA: Javana-mahasiswa asal Kota Bekasi yang kuliah di Jerman.Istimewa

Radarbekasi.id – Javana (20) merupakan mahasiswa asal Kota Bekasi yang kuliah di Jerman. Ia sedikit berbagi cerita mengenai alasan dan pengalaman menempuh pendidikan di negara yang terletak di benua Eropa tersebut.

Javana baru saja menyelesaikan ujian semesternya ketika dihubungi oleh Radar Bekasi melalui aplikasi pesan instan whatsapp. Remaja berkaca mata ini merupakan mahasiswa program studi sarjana Mechanical Engineering, Faculty of Mechanical Science and Engineering, Dresden University of Technology, Jerman.

Hobinya menyaksikan program televisi asal Jerman yang kerap kali disiarkan oleh stasiun televisi lokal, merupakan alasan yang membuatnya yakin terbang ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya pasca lulus dari bangku SMA pada 2017 silam.

“Waktu SMA saya sering nonton program televisi Deutsche Welle (DW) asal Jerman yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi lokal. Isi acaranya itu selalu tentang perkembangan teknologi dari Jerman. Dari situ sih saya jadi ada keinginan untuk kuliah di Jerman,” ungkap remaja yang orangtuanya tinggal di wilayah Kelurahan Bekasi Jaya Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi ini, Selasa (18/8).

Javana yang sudah menjalani dua semester masa perkuliahaannya ini, menjelaskan alasannya memilih program studi yang saat ini tengah dirinya jalani. “Karena waktu SMA itu saya merasa suka dan paham sama bidang fisika mekanik, itu sih yang membuat saya mau lanjut kuliah ambil jurusan teknik mesin,” jelas lulusan SMAN 2 Kota Bekasi.

Meski sudah berangkat sejak November 2017, sesampainya di sana Javana tidak dapat langsung mendaftarkan diri untuk kuliah di universitas yang ada di Jerman. Dirinya masih harus menjalani beberapa rangkaian penyetaraan selama kurang lebih dua tahun.

“Saya berangkat itu awal November 2017, sesampainya disana saya lanjut kursus bahasa Jerman dan kursus untuk ujian masuk Studienkolleg—sekolah penyetaraan untuk pelajar internasional—sampai Agustus 2018. September 2018 – Mei 2019, saya mulai belajar di Studienkolleg. Pada akhir masa Studienkolleg saya ikut ujian yang nilainya digunakan untuk daftar ke universitas. Setelah daftar di kurang lebih 10 universitas, akhirnya saya diterima dan mulai kuliah di Technische Universitat (TU) Dresden,” paparnya.

Kehidupan di Jerman yang benar-benar harus Javana mulai secara mandiri contohnya untuk urusan birokrasi administrasi, membuat dirinya kesulitan pada awal kedatangannya di Jerman terutama dari segi bahasa. Dengan bantuan dari senior yang sudah lama tinggal di sana dan usaha untuk memperlancar bahasa Jermannya, akhirnya semua kesulitan tersebut dapat dirinya atasi.

Keteraturan jadwal di berbagai fasilitas umum contohnya jadwal kendaraan umum yang hampir selalu tepat waktu merupakan hal yang sangat dikagumi oleh Javana selama tinggal di negara kampiun Piala Dunia Sepakbola tahun 2014 tersebut.

“Di Jerman ini semua jadwal hampir selalu tepat waktu, ini sangat melatih kedisiplinan saya terhadap waktu yang selalu menggunakan kendaraan umum untuk ke kampus. Tinggal di sini juga saya mulai berlatih untuk hidup seimbang sesuai proporsinya masing-masing, misal kalo udah waktunya belajar di kelas saya berusaha banget untuk tidak menggunakan handphone untuk hal yang bukan berkaitan dengan pelajaran,” ungkap anak sulung dari empat bersaudara ini.

Javana yang sering masak makanannya sendiri sejak tinggal di Jerman mengatakan memiliki target menjadi wirausaha dalam waktu beberapa tahun ke depan. “Cita-cita saya pengin jadi entrepreuner dalam 10 tahun kedepan, khusus berkenaan dengan masalah humanitarian yang berhubungan langsung dengan teknologi,” pungkasnya yang menjadikan William Soeryadjaya sebagai role modelnya dalam bidang bisnis. (mg1)

Related Articles

Back to top button