Bekasi

Pakar Epidemiologi : Perketat PSBB

ILUSTRASI: Sejumlah pengendara ketika mengikuti proses rapid test drive thru di komplek Stadion Patriot Candrabhaga belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menyampaikan, pelacakan sampel harus dilakukan lebih ekstra guna menekan angka penyebaran Covid-19. Pelacakan kasus pada klaster keluarga ini lebih rumit lantaran kontak dari masing-masing anggota keluarga harus ditelusuri lebih detail.

Sementara pada klaster keluarga yang telah ditemukan, pemerintah harus menyediakan tempat isolasi bagi warga yang terpapar Covid-19. Isolasi mandiri di rumah masing-masing dinilai sudah tidak tepat untuk melakukan isolasi meskipun kasus tanpa gejala.”Sekarang bukan jamannya lagi isolasi mandiri, karena rumah-rumah kita itu nggak siap untuk isolasi, apalagi yang rumahnya kecil,” katanya

Menurutnya, cara menekan penyebaran kasus dengan melakukan karantina wilayah bisa dilakukan. Meskipun demikian, yang lebih penting adalah penyediaan tempat isolasi khusus bagi warga yang terpapar.

Terpisah, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono meminta pemerintah kota untuk membatasi kerumunan dan pertemuan dalam jumlah lebih dari 50 orang. Beberapa waktu lalu, Tri telah memberikan saran untuk pemerintah Kota Bekasi menghentikan Car Free Day (CFD) lantaran berpotensi menimbulkan kerumunan, sehingga terjadi penyebaran Covid-19. Sedangkan pemerintah Kota Bekasi sendiri telah telah menghentikan kegiatan CFD awal pekan kemarin.

Kemudian, yang perlu dilakukan adalah pelaksanaan PSBB ketat, bukan PSBB transisi pada wilayah berstatus zona merah. Rencana untuk kembali melakukan karantina wilayah mandiri disebut pilihan tepat dari Pemkot Bekasi untuk menekan angka penyebaran kasus.

“Jadi kalau di kelurahan merah ya pastikan di kelurahan merah itu dilakukan PSBB yang benar, bukan PSBB transisi. Menurut saya (karantina wilayah) sudah tepat,” paparnya.

Berkenaan dengan klaster keluarga yang terjadi di Kota Bekasi, isolasi mandiri yang selama ini dilakukan perlu menjadi bahan evaluasi untuk dilakukan pengawasan lebih ketat. Kehati-hatian perlu dilakukan untuk tidak menularkan kepada anggota keluarga diatas usia 40 tahun, hal ini dinilai membahayakan. (Sur)

Related Articles

Back to top button