BekasiBerita Utama

Pembatasan Setengah Hati

ILUSTRASI : Sejumlah warga berolahraga memadati kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Minggu (19/7). Delapan orang pengunjung CFD reaktif Covid 19 setelah dilakukan Rapid test masal. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Libur panjang akhir pekan ini dimanfaatkan warga untuk berwisata atau mudik ke sejumlah daerah. Kondisi ini berpotensi membuka peluang transmisi penyebaran virus Covid-19 menjadi besar. Seperti d ketahui, kasus positif Covid-19 di Indonesia maupun di Bekasi terus merangkak naik.

Ya, belum lama ini Presiden Joko Widodo mengeluarkan Kepres nomor 17 tahun 2020 sebagai penetapan cuti bersama, sehingga pada pekan ini hari libur dapat dinikmati selama empat hari mulai Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun swasta.

Informasi yang dihimpun oleh Radar Bekasi Kamis (20/8) kemarin, pergerakan warga Kota Bekasi meninggalkan tempat tinggalnya menuju wilayah lain sebanyak 794 orang, menggunakan 122 kendaraan bus. Sementara itu kedatangan masyarakat di wilayah Kota Bekasi tercatat sebanyak 196 orang, menggunakan 125 kendaran bus.

Pergerakan warga baik Kota maupun Kabupaten Bekasi di lokasi wisata dan antar wilayah ini menurut Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono membuka peluang transmisi penyebaran Covid-19 semakin besar. Dalam hitungan satu orang saja akan berhadapan dengan banyak kelompok masyarakat dalam perjalanan empat hari ini, lebih besar ketika satu keluarga berjumpa dengan banyak kelompok masyarakat.

“Dengan berantai seperti itu, kalau kita bertemu dalam perjalanan, maka peluang transmisinya akan besar. Itu dalam perjalanan saja, kemudian kalau pertemuan-pertemuan maka semakin besar probabilitasnya,” terang Miko, Kamis (20/8).

Meskipun pelaksanaan PSBB proporsional di wilayah Bodobek telah diperpanjang oleh Gubernur Jawa Barat hingga 31 Agustus mendatang, Miko menilai PSBB proporsional tidak tegas untuk menekan angka penularan. “’Bancinya’ adalah dilakukan pembatasan sosial, di saat yang sama dilakukan pelonggaran sosial, seperti setengah hati,” tukasnya.

Lebih lanjut, pelaksanaan PSBB terpaksa disaat yang sama dilakukan pelonggaran (menjadi PSBB Proporsional) lantaran tekanan ekonomi. Sehingga mau atau tidak mau harus dilakukan pelonggaran sosial, membuka tempat wisata, mall, dan beberapa sektor yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi.

Salah satunya di kawasan Situ Rawa Gede, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Hilir mudik warga Kota Bekasi nampak di wilayah ini, pantauan Radar Bekasi, warga mengunjungi kawasan ini tidak untuk waktu yang lama, berkisar antara 15 hingga 30 menit untuk sekedar berfoto, naik perahu, atau untuk mencicipi kuliner di kawasan tersebut.

Warga asal Kecamatan Pondok Gede, Kartika Sari memilih kawasan wisata di dalam kota ini selain murah juga lantaran masih menaruh kekhawatiran terhadap penularan virus Covid-19. Ia datang bersama orang, kakak, dan anaknya.”Menghindari macet satu, kedua itu Corona, lebih dekat juga karena udah cukup buat nyenengin anak-anak,” katanya, Kamis (20/8).

Di lokasi yang sama, Ketua Kelompok Pemuda Pecinta Lingkungan (KPPL) Situ Rawa Gede, Krisda mengatakan bahwa kawasan ini mulai ramai dikunjungi oleh warga Kota Bekasi dua bulan terakhir sejak memasuki masa adaptasi kebiasaan baru. Selain warga Kota Bekasi, diakui ada beberapa warga dari luar Kota Bekasi juga datang.

Pada hari biasa, setidaknya 200 orang datang hilir mudik di kawasan ini, sementara pada hari libur warga yang datang cukup padat, antara 1.500 hingga 2.000 orang. Untuk memecah kerumunan orang, pihaknya membuat dermaga tambahan sebanyak dua buah, masing-masing berukuran 15 meter, meskipun diakui kedua dermaga tersebut diluar konsep yang telah dibuat.

Untuk mengontrol kepadatan warga di kawasan situ selebar 7,3 hektar tersebut, enam pemuda KPPL ditugaskan untuk mengontrol di enam titik berbeda. Jika didapati warga telah padat di kawasan wisata tersebut, pintu masuk area wisata ditutup sementara.

Puncaknya pada hari libur 17 Agustus lalu, pengunjung yang datang diluar kapasitas area situ, sehingga pintu masuk situ ditutup.”Kalau mau kita tampung bisa saja, tapi kita mengedepankan kapasitas dan kesehatan pengunjung. Bahkan sampai ada yang antri (menunggu di depan pintu masuk),” ungkap pria yang menginisiasi penataan situ secara swadaya tersebut.

Pada masa pandemi seperti ini, setiap pengunjung yang datang diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan dan mengenakan hand sanitizer yang telah disediakan di pintu masuk, serta di cek suhu. Ia menilai peningkatan pengunjung ini terjadi lantaran selama pelaksanaan PSBB tempat wisata ditutup termasuk Situ Rawa Gede, sehingga warga haus dengan tempat wisata.

Di terminal Bekasi, salah satu warga yang hendak bertolak ke wilayah Cirebon, Lusi (40) mengaku mengunjungi rumah sanak saudaranya pada hari libur ini. Meski masih menyimpan ketakutan terhadap Covid-19, namun ibu rumah tangga tersebut yakin setelah menyiapkan masker dan hand sanitizer. Rencananya, ia akan kembali ke Kota Bekasi pada Minggu (23/8) mendatang. Pasalnya, keesokan harinya ia harus kembali beraktivitas di Kota Bekasi.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi saat dihubungi oleh Radar Bekasi mengaku Pemkot Bekasi tidak melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan warga keluar kota maupun ke tempat wisata. Beberapa waktu lalu, orang nomor satu di Kota Bekasi ini menyebut beberapa faktor menyebabkan peningkatan kasus pada tiga pekan terakhir, diantaranya transmisi kewilayahan hingga kelalaian warga terhadap protokol kesehatan.”Yang terpenting menggunakan masker, jika terasa ada kelainan kondisi tubuh, hubungi puskes atau posko di gate 14 untuk mengecek kondisi badan,” terangnya.

Informasi terkahir, jumlah kasus terkonfirmasi di wilayah Kota Bekasi tercatat 1.324 kasus. Dibalik itu, persentase pasien yang memiliki hasil positif Covid-19 (Positivity Rate) berada diangka 7,7 persen. Sementara angka reproduksi dasar (R0) berada di angka 1,5.

Sementara itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat adanya penambahan kendaraan yang melintasi Tol Jakarta-Cikampek. ”Dari pagi ini kendaraan sudah ada peningkatan, buktinya kita sudah melakukan rekayasa lalu lintas Contraflow dari jam 9.00 WIB,” ungkap Humas Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Hendra Damanik, Kamis (20/8).

Dirinya menegaskan, di masa libur ini pembatasan kendaraan hanya diterapkan pada truk Golongan tiga ke atas. Dimana, kendaraan golongan tersebut diberhentikan di Tol CIkarang Barat. Menurutnya, peningkatan sudah dirasakan pada H-1 libur Tahun Baru Islam. Dimana, sebelumnya PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 162.938 kendaraan meninggalkan Jakarta.

Terhitung, pada H-1 libur Tahun Baru Islam 1442 Hijriah, (19 Agustus 2020). Angka tersebut merupakan kumulatif arus lalu lintas (lalin) dari beberapa Gerbang Tol (GT) Barrier/Utama, yaitu GT Cikupa (arah Barat), GT Ciawi (arah Selatan), dan GT Cikampek dan GT Kalihurip Utama (arah Timur).“Total volume lalin yang meninggalkan Jakarta ini naik 39, 2% jika dibandingkan lalin normal,” imbuhnya. (sur/dan)

Related Articles

Back to top button