BekasiBerita Utama

Sampel Swab Test Membludak

UJI SPESIMEN: Petugas medis melakukan pengujian sample spesimen Covid di Labkesda  RSUD Kota Bekasi,  Selasa (1/9). Tingginya spesimen yang di tes laboratorium kesehatan daerah Kota Bekasi  membuat kondisi antrean spesimen membludak hampir 1.000 spesimen. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Antrian sampel swab test membludak di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bekasi. Kondisi ini karena banyaknya warga Kota Bekasi yang terkonfirmasi Covid-19. Pemerintah Kota Bekasi hingga saat ini terus melakukan tracking di lingkungan RW.

Dengan membludaknya jumlah sampel dari hasil tracing tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengeluarkan surat edaran nomor 440/3970/Dinkes.Set untuk mengatur pengiriman spesimen kepada seluruh kepala Puskesmas dan rumah sakit di Kota Bekasi. Baru-baru ini, ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bekasi telah mengeluarkan surat edaran nomor 440/5427/Dinkes tentang tracing pasien Covid-19.

Mereka diantaranya yang menjadi sasaran adalah setiap orang yang melakukan kontak erat hubungan keluarga dengan pasien, kontak erat lingkungan tempat tinggal pasien, kontak erat di lingkungan kerja, dan kontak erat tenaga kesehatan di Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes).

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, penularan dapat ditekan utamanya jika tetap menggunakan masker. Meskipun diakui penting untuk menekan angka penularan, didukung oleh Peraturan Gubernur (Pergub) untuk memberlakukan sanksi terhadap warga yang tak mentaati protokol kesehatan, Pemkot Bekasi masih mempertimbangkan situasi ekonomi masyarakat dalam situasi pandemi seperti ini.

“Yang penting pakai masker. Minimal masker aja dulu deh yang katanya kena denda segala macam, sudah lah yang tidak menggunakan masker itu nanti urusan sama tuhan saja,” katanya, Selasa (1/4).

Diakui, antrian sampel untuk dilakukan pengujian di Labkesda Kota Bekasi mencapai 1.000 sampel hasil tracing pada 31 Agustus lalu. Lebih banyak lagi, pada 27 Agustus antrian sampel di Labkesda mencapai 1.050 sampel. Rahmat menilai, jumlah sampel yang menumpuk tersebut dapat membahayakan ribuan orang jika tercecer.

Saat ini terdapat 37 RW di dalam 22 kelurahan terkonfirmasi positif, masyarakat terus diminta untuk mentaati protokol kesehatan. Untuk melakukan uji sampel terhadap spesimen yang telah diambil dari hasil tracing, Pemkot Bekasi mendapat satu tambahan alat PCR portable dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Namun, hingga 31 Agustus siang lalu, PCR yang diterima dari Provinsi Jawa Barat belum bisa dipakai lantaran belum menerima cairan atau reagen untuk melakukan pengujian sampel, masih menggunakan dua alat PCR yang tersedia di Labkesda dengan kapasitas 160 sampel per hari. Untuk mempercepat proses, Dinkes Kota Bekasi diminta untuk mengajukan pinjam pakai alat PCR, Rahmat juga telah menandatangani surat pengajuan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melengkapi reagen.

Bersikukuh untuk tetap memacu laju perekonomian disamping menekan dan memberikan perawatan medis kepada pasien terkonfirmasi Covid-19, Ia menilai hal penting yang harus terus dilakukan adalah mencari kasus baru, dan masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Cara ini yang akan terus dilakukan sehingga tidak lagi menghentikan aktivitas perekonomian di tengah masyarakat.

Contoh kasus sepekan yang lalu, didapati penyebaran kasus di salah satu perusahaan manufaktur di Kota Bekasi. Setelah dilakukan rapid test oleh perusahaan, dilanjutkan menggunakan metode swab, didapati 22 karyawan terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 8 karyawan di rawat di rumah sakit, sementara sisanya melakukan isolasi mandiri.

Sementara itu, Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Dezy Syukrawati mencatat pada Jumat (28/8) pekan lalu antrian sampel dari Puskesmas dan hasil tracing mencapai 1.000 sampel. Penerimaan sampel ditarget mulai berlangsung normal Kamis (3/9) besok.

“Makanya kita atur proses pengiriman sampelnya. Kita ingin menyelesaikan dulu antrean itu dan insyaallah ini sudah jalan dan hari Kamis mungkin sudah selesai, dan jumat kita kembali normal untuk pengiriman sampel,” terangnya.

Di waktu yang sama, proses pengujian sampel di laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi juga ditunda selama dua hari untuk perawatan alat. Proses pengujian dan penerimaan sampel untuk seluruh rumah sakit di Kota Bekasi kembali normal awal pekan kemarin.

Pantauan Radar Bekasi, kegiatan uji spesimen berlangsung di laboratorium RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi. Petugas laboratorium beraktivitas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) di ruang laboratorium. Sementara di area Labkesda, Radar Bekasi tidak memperoleh izin untuk melihat aktivitas dari luar ruang laboratorium.

Meskipun demikian, Dezy mengatakan bahwa aktivitas uji spesimen di Labkesda sudah berjalan, sejak Senin malam lalu, jumlah spesimen yang diuji meningkat dari 160 sampel menjadi 240 sampel dengan bantuan alat PCR portable dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Jadi mudah-mudahan hari Kamis kita selesaikan yang tertunda (antrean sampel) kemarin, Jumat sudah normal. Per hari ini (Selasa) sampel kita hanya 500an,” tukasnya.

Dua alat PCR milik Pemkot Bekasi yang berada di Labkesda masing-masing dapat memproses 80 sampel dalam sekali putaran, ditambah dengan alat PCR dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan kapasits 80 sampel. Sementara di laboratorium RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi mampu memproses lebih dari 360 sampel dalam satu hari.

Angka reproduksi (R0) saat ini disebut berada diangka 0,8. Masyarakat diminta untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, disamping Dinkes berjanji untuk tetap mengusahakan semaksimal mungkin pengujian sampel hasil tracing temuan kasus.

Menunggu antrean sampel selesai dilakukan pengujian, masyarakat yang bersangkutan diminta untuk mentaati protokol kesehatan, terutama menggunakan masker untuk menekan angka penyebaran kasus, sehingga tidak terjadi penyebaran lebih luas, dan tetap melakukan isolasi mandiri.

Pemerintah Kota Bekasi hingga saat ini memutuskan untuk tidak menutup area publik, termasuk area perkantoran. Cara yang dipilih saat ini adalah melakukan isolasi mandiri maupun penanganan medis terhadap temuan kasus, sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan baik sosial maupun ekonomi. (Sur)

Related Articles

Back to top button