Cikarang

Kemenperin Dorong Peningkatan Utilitas Industri

BERI KETERANGAN: Dirjen ILMATE Kemenperin, Taufik Bawazier, memberikan keterangan usai meninjau salah satu sektor industri munafaktur di PT Tata Metal Lestari, Cikarang Barat, Kabupaten bekasi, Senin, 14/9). DAN/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah pandemi Covid -19, sektor industri manufaktur di tanah air masih menunjukkan geliatnya. Hal itu terbukti dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus yang berada di level 50,8 atau menandakan sedang ekspansif, karena melampaui ambang netral (50,0).

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) Kemenperin, Taufik Bawazier menuturkan, pencapaian tersebut tidak akan terealisasi bila tidak didukung berbagai pihak.

“Jadi, semua stakeholder harus memberikan ruang, agar semua industri tetap berjalan beriringan dengan protokol kesehatan. Itu adalah upaya produktivitas. Dan ini juga ditunjukkan dengan aktivitas industri yang meningkatkan utilitasnya. Salah satunya adalah industri di PT Tata Metal Lestari, yang menunjukkan kemampuannya, baik domestik maupun ekspor. Dan ini, untuk kesekian kalinya (Tata Metal Lestari) melakukan ekspor ke luar negeri, yaitu Pakistan dan Thailand,” ujar Taufik kepada awak media, Senin (14/9).

Ia mengungkapkan, salah satu upaya yang telah dilakukan Kemenperin agar aktivitas industri bisa berjalan dengan baik, adalah pemberian Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI).

“Sebagai upaya merambah pasar ekspor di tengah pandemi yang terjadi saat ini, merupakan sebuah prestasi bagi sektor manufaktur Indonesia. Upaya ini juga menunjukkan satu model bisnis baru, bahwa industri tetap berjalan, walaupun dalam tekanan Covid-19,” terang Taufik.

Jadi, kata dia, model lecture yang bisa dipelajari oleh semua industri, bahwa industri tetap beroperasi dan tetap mengacu pada protokol kesehatan, dan utilitas-nya meningkat. Itupun bisa mengisi pasar dalam negeri dan ekspor.

Dia menjelaskan, sektor industri berkontribusi 20 persen terhadap perekonomian nasional. Belum lagi ditambah turunan jasa-jasa industri, jumlahnya bahkan bisa mencapai 30 persen.

“Kami melihat bahwa aplikator-aplikator dari Tata Metal juga bekerja. Apalagi di dalam aplikasi protokol kesehatan di industri Tata Metal ini, zero yang terkena corona. Artinya, contoh yang bisa dilakukan oleh semua sektor industri, sehingga mampu bekerja, walaupun di tengah tekanan Covid-19. Kami berharap, Covid-19 bisa cepat selesai, paling tidak di sektor industri tetap semangat untuk bisa menumbuhkan utilitas dan tetap memenuhi kebutuhan-kebutuhan produk-produk baja sektor hilir,” beber Taufik.

Sementara, CEO PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi mengungkapkan, PT Tata Metal Lestari dan PT Tatalogam Lestari merupakan perusahaan penyedia Baja Lapis Zinc Aluminium dengan merek Nexalume dan Baja Ringan TASO.

Guna mendukung pemerintah dalam menekan penyebaran virus Covid-19, perusahaan-nya juga terus memonitoring kesehatan dan keamanan pekerja-pekerja di pabrik dan proyek selama masa pandemi ini.

Protokol-protokol Covid-19 dijalankan secara ketat untuk mencegah penularan di area pabrik. Dan saat ini, sesuai anjuran pemerintah, perusahaan juga melakukan monitoring ke seluruh karyawan untuk mencegah penularan di luar area pabrik.

“Protokol Covid-19 yang cukup ketat ini lah yang membuat kami masih tetap bisa bekerja. Dan kebetulan, bulan ini utilisasinya juga sangat tinggi. Sudah hampir 100 persen, sehingga bisa ekspor. Di bulan ini, kami melepas ekspor ke Pakistan dan Thailand. Memang secara volume, lebih rendah dari bulan Agustus lalu. Bulan lalu, kami ekspor 3.000 ton. Tapi bulan ini hanya 1.200 ton. Dan kami memang mengurangi sedikit, karena untuk pemenuhan industri di dalam negeri dulu, karena secara demand meningkat,” tandas Stephanus. (dan)

Related Articles

Back to top button