Cikarang

Umur Boleh Tua, Semangat Ngaji Tetap Muda

Mengitip Santri Lansia di Pondok Iqro Paul

BELAJAR NGAJI: Sejumlah santri lansia sedang belajar mengaji di Pondok Iqro Paul di Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. AND/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Semangat para orangtua lanjut usia (lansia) ini pantut diacungi jempol. Sebab, kekurangan mereka yang tidak bisa membaca Hijaiyah, tidak mengurangi niat untuk menimba ilmu. Mau tahu ceritanya? Berikut ulasannya:

Laporan:

Andi Mardani, CIKARANG BARAT

Mungkin Sabda Rasulullah SAW sangat tepat bagi para orangtua lansia yang belajar di Pondok Pendidikan Alquran Usia Lanjut (Paul).

Dalam Sabda Rasulullah ‘Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkan-nya’. H.R. Bukhori

Berdasarkan hadits tersebut, dan dalam rangka untuk mencerdaskan kaum muslim akan Kitab Suci, para pengurus bertekad dan semangat berjuang mengajarkan orangtua bisa membaca Alquran.

Ya di Musala itu dibangun konsep panggung menggunakan susunan bambu tanpa dinding, sehingga lebih menyerupai saung. Ukurannya pun tak lebih dari 3×3 meter persegi, atau hanya cukup untuk sekitar sembilan makmum plus satu imam saat salat berjamaah.

Tepat di sebelahnya, terdapat ruang belajar dengan ukuran yang hampir sama dengan Musala. Setiap malam, seusai salat magrib, ruangan belajar dan Musala menjadi pusat aktivitas di majelis yang dinamakan Paul.

“Rata-rata masih Iqro. Ada yang Iqro 2, 3 ada juga yang sudah Juz Amma. Tidak apa-apa, yang penting mereka mau belajar,” ujar Ketua Pondok Iqro Paul, Tarjoni, di Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat.

Tarjoni mengisahkan, berdirinya pondok ini berawal dari dua santri yang minta diajarkan mengaji setahun lalu. Kedua santri ini mengaku, tidak bisa mengaji meski umurnya sudah tidak muda lagi.

“Ya mungkin, karena kesibukan bekerja, sehingga tidak sempat belajar mengaji. Tapi setelah lansia baru sadar, tidak bisa mengaji. Apalagi saat anak cucu mereka bertanya huruf hijaiyah, tidak bisa menjawab. Baru di situlah mereka minta diajarkan,” ucap Tarjoni.

Saat mengajar dua santri itu, pondok belum terbentuk. Mereka pun masih harus berpindah-pindah tempat mulai dari rumah warga hingga ke beberapa kamar kontrakan.

“Karena pindah-pindah, pengajian sempat dinamai Majelis Al-Geser, karena geser-geser terus,” tutur ustad ini seraya melempar senyum.

Anehnya, meski nomaden, mereka tidak pernah mengadakan pengajian di Masjid atau Musala warga. Bukan karena berbeda aliran, alasannya justru sederhana, yakni malu.

Para santri ini malu, karena Masjid berada di tengah pemukiman warga, sehingga mereka takut jika ketahuan tidak bisa mengaji.

“Saya sempat diejek sama bocah-bocah. Masa katanya sudah bapak-bapak tapi bacaannya Iqro,” beber salah seorang santri, Lukman (57)

Rasa malu ini yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Iqro Paul, termasuk lokasi yang dipilih agak jauh dari pemukiman warga.

Beberapa warga pun menyebutnya pondok nyumput. “Ya awalnya memang malu, biar enggak dikatain. Namun selanjutnya lokasi ini juga enak, sunyi, jadi bisa khusyu belajarnya,” terang Lukman.

Pondok ini dapat diakses melalui sebuah gang pemukiman. Sekitar 500 meter berjalan kaki, kemudian akan sampai di sebuah lapangan sepak bola. Kemudian pondok berdiri di sebidang lahan tidak terpakai, tepat di belakang gawang lapangan bola. Pondok berdampingan dengan bagian belakang salah satu pabrik.

Dijelaskan Lukman, Pondok Iqro Paul, didirikan secara gotong royong oleh para santri. Setelah meminta izin kepada pemilik lahan, kebun yang tidak terpakai itu kemudian disulap menjadi pondok sederhana.

“Jadi yang punya bambu sebatang, dua batang bawa. Ada juga yang bawa palu, dan perkakas tukang. Alhamdulillah jadi ini pondok,” terangnya.

Meski sederhana, Lukman meyakini, pondok tersebut mampu mengubah para santri untuk setidaknya bisa membaca dan memahami isi Alquran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen + 2 =

Close