BEKACITIZENOpini

Pendekatan Pendidikan Karakter : Dunia Nyata dan Dunia Maya

Oleh : Didi Suradi, M.Pd.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pendidikan karakter hendaknya dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan di dunia nyata dan dunia maya. Mengingat peserta didik saat ini hidup di alam nyata dan di alam maya. Pendidikan karakter yang kita lakukan selama ini baru sebatas di dunia nyata. Yaitu dengan melatih dan membimbing peserta didik agar menunjukkan perilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pendidikan karakter perlu dibudayakan di sekolah agar peserta didik dapat mematuhi norma dan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.

Demikian pula dengan kehidupan di dunia maya. Disana terdapat juga norma dan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Norma dan nilai-nilai ini dibuat agar tercipta keteraturan dan kenyamanan para pelakunya. Pergaulan dan perilaku peserta didik di dunia maya sangat luas dan sulit dikontrol. Meskipun ada norma dan nilai yang harus diterapkan, tetapi selalu saja ada celah untuk dilanggar. Peserta didik dapat bergaul dengan siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Selain itu didukung pula oleh beragam platform yang bisa digunakan untuk bersosial media, membuat mereka sangat leluasa untuk menunjukkan jati dirinya, agar dikenal banyak orang. Disinilah kadang mereka menggunakan cara-cara yang kurang baik, tidak sesuai norma dan nilai-nilai yang harus dijalankan, yang penting bisa terkenal dan kalo bisa mendapatkan keuntungan berupa uang.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, jejak digital itu tidak bisa hilang. Apapun yang disematkan disana akan segera beredar luas. Jika setiap hari peserta didik menyematkan konten positif, misalnya tentang minat, prestasi, pesan moral, cita-cita dan sebagainya, maka jejak digital itu akan menjadi hal positif yang akan dinilai orang tentang pribadi dia. Sebaliknya jika yang disematkan itu adalah konten negatif, maka jejak digital itu akan menjadi hal negatif yang dinilai orang tentang pribadi dia.

Jejak digital dapat menunjukkan jati diri dan kompetensi seseorang. Itulah yang disebut sebagai personal branding. Personal branding menunjukkan karakter dan kepribadian yang melekat pada seseorang. Dengan demikian sangat penting membangun personal branding sejak masa sekolah. Karena itu guru seharusnya membimbing peserta didiknya dalam membentuk personal branding mereka.

Seorang personalia sebuah perusahaan dapat mengetahui kepribadian calon karyawan hanya dengan melihat profil pelamar di media sosial. Jejak digital yang pernah dituliskan disana akan dipelajari dari awal hingga akhir, sehingga tampak jelas perilaku si pelamar. Bayangkan, jika jejak digital yang ditampilkan berkonten negatif. Sebagus apapun profil yang dituliskan di curriculum vitae, menjadi tidak memberikan informasi yang dipercaya bagi personalia. Karena curriculum vitae yang sesungguhnya adalah jejak digital tersebut. Oleh karena itu sejak sekarang harus dibudayakan memposting konten positif di media sosial.

Itulah pentingnya memberikan pendidikan karakter di dunia maya. Sekolah harus memiliki kurikulum pendidikan karakter tersebut untuk membimbing peserta didiknya berperilaku positif di dunia maya. Ajari mereka memposting konten-konten yang membangun personal brandingnya. Misalnya, mengajarkan mereka untuk saling memberikan komentar positif atas postingan yang dituliskan teman-temannya di media sosial. Gunakan kalimat-kalimat yang memotivasi dan bermanfaat. Postinglah setiap prestasi yang dicapai, sekecil apapun prestasi itu. Tuliskan juga target-target yang akan dicapai dalam menempuh pelajaran di sekolah. jika harus memposting foto atau video, pastikan tidak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Biasakan menuliskan sumber bahan tulisan jika terpaksa harus mengutip dari orang lain. Dan yang penting lagi guru harus membimbing dengan keteladanan. Jika ada peserta didik yang lalai, harus segera diingatkan jika perlu diberikan sangsi yang mendidik.

Setiap guru yang memasuki ruang kelas digitalnya, jangan mengajarkan konten atau materi pelajaran saja. Karena konten dapat diperoleh peserta didik dari banyak sumber. Yang paling penting adalah tetap memberikan pendidikan karakter. Alasannya, masih banyak peserta didik yang belum paham cara berinternet sehat. Internet yang mereka konsumsi sehari-hari lebih banyak digunakan untuk keperluan bersenang-senang, bukan untuk keperluan peningkatan pengetahuan dan keahliannya.

Dimasa pembelajaran jarak jauh ini, kesempatan peserta didik menggunakan perangkat digital semakin tinggi. Hampir setiap saat mereka terhubung dengan internet. Inilah kesempatan baik bagi guru untuk memberikan pendidikan karakter di dunia maya, agar peserta didik dapat mematuhi dan berperilaku sesuai norma dan nilai-nilai yang berlaku di dunia maya. (*)

Guru Di Yayasan Al Muslim

Related Articles

Back to top button