BEKACITIZENOpini

Masalah Baru Dunia Pendidikan: Harapan Orangtua dan Education Gap

Oleh : Didi Suradi, M. Pd

Didi Suradi, M. Pd
Didi Suradi, M. Pd

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jika guru menginginkan peserta didiknya saat ini memiliki kompetensi sama dengan peserta didik tahun-tahun sebelumnya, maka sebaiknya dipikir ulang. Mengingat proses pembelajaran yang dilakukan dimasa pandemi ini, kualitasnya tidak sama dengan sebelumnya.

Begitu juga orangtua, jangan mengharapkan anak-anaknya memiliki kemampuan sama dengan kakak-kakaknya yang lulus ditahun-tahun sebelumnya.

Meskipun secara umum, semua sekolah telah berupaya maksimal tidak menurunkan kualitas pembelajarannya, tetapi nyatanya terlalu banyak kendala dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

Lahirnya kurikulum darurat dimasa pancemi covid19 ini adalah sebagai antisipasi dari kemungkinan tidak tercapainya seluruh target kurikulum. Muatan kurikulum yang semula disajikan secara utuh, telah dipangkas sebagian.

Hanya menyisakan muatan-muatan yang esensial dan memiliki korelasi dengan materi berikutnya. Namun demikian, berkurangnya muatan ini dapat dimanfaatkan guru dan peserta didik untuk memperkaya materi yang dipelajari. Sedikit namun lebih mendalam, bukan banyak tetapi bias. Dengan demikian sekolah, peserta didik dan orangtua tidak terlalu dibebani oleh materi pelajaran.

Prioritas edukasi yang perlu ditekankan dimasa pandemi ini adalah kesehatan dan keselamatan. Hal inilah kemudian menjadi sebuah permasalahan baru didunia pendidikan yang disebut dengan education gap atau kesenjangan pendidikan.

Kesenjangan ini akan terlihat dari kualitas lulusan. Contoh yang paling mudah diamati adalah lulusan Taman Kanak-Kanak (TK). Dengan proses pembelajaran yang terjadi saat ini, mustahil bagi guru dapat maksimal membantu perkembangan peserta didiknya.

Dengan pembelajaran tatap muka saja sangat dibutuhkan kesabaran dan ketekunan guru dalam menyampaikan seluruh bidang pengembangan, apalagi dengan metode daring.

Disisi lain, harapan orangtua terhadap sekolah masih sangat tinggi. Mereka memiliki keinginan sekolah tetap memberikan pelayanan pendidikan yang sama sebelum maupun dimasa pandemi ini.
Mereka tetap menginginkan anak-anaknya memiliki kompetensi yang tinggi agar mampu melanjutkan sekolah di jenjang berikutnya tanpa kendala.

Kenyataannya, lulusan Taman Kanak-Kanak dimasa pandemi ini, jangankan dapat membaca, menulis dan berhitung dengan baik, beberapa kemampuan motorik halus dan motorik kasarnya mungkin tidak dapat berkembang secara optimal karena kurangnya “sentuhan” guru-guru di sekolah.
Demikian pula dengan bidang pengembangan lainnya, semuanya akan mengalami perbedaan kualitas dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian, harapan orangtua terhadap kemampuan anak-anaknya tidak mungkin dapat dipenuhi secara maksimal oleh sekolah. dengan demikian, apakah sekolah salah?

Dalam hal ini tidak ada yang perlu disalahkan. Sekolah yang tidak mampu memenuhi harapan orangtua atau harapan orangtua yang tinggi terhadap kemampuan anaknya memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang diperlukan saat ini adalah kesadaran memahami keadaan.

Pandemi ini terjadi juga dinegara-negara lain, mereka juga mengalami masalah serupa. Dampak Educational gap akan dirasakan setidaknya dalam satu atau dua tahun kedepan.

Sangat wajar jika kemampuan CALISTUNG siswa kelas satu sangat rendah. Guru tidak perlu mengeluhkan masalah ini. Orangtuapun tidak perlu merasa khawatir. Inilah dampak educational gap yang pasti terjadi diseluruh penjuru dunia.

Bagaimana mengantisipasi permasalahan ini? Jika yang jadi persoalan adalah masalah rendahnya pengetahuan, maka dapat diatasi dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia diberbagai sarana. Terutama sumber belajar digital. Materi pelajaran tersedia dimana-mana dan jumlahnya sangat banyak.

Para guru, orangtua dan pendamping belajar harus lebih sabar dan sungguh-sungguh memberikan bantuan bagi peserta didik. Bekali mereka dengan kemampuan learning to learn (belajar untuk belajar). Dengan kemampuan ini peserta didik secara auto pilot akan menjadi pribadi yang haus ilmu pengetahuan.

Untuk mengatasi masalah karakter, maka guru, orangtua dan para pendamping belajar seharusnya menjadi suri teladan bagi peserta didiknya. Dengan memberikan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadi role model bagi peserta didik dalam mengembangkan karakternya.

Selain itu, berikan mereka bacaan biografi tokoh-tokoh yang telah terbukti memiliki karakter yang baik. Yang terpenting dari pendidikan karakter adalah membangun budaya dan konsistensi dalam menjalankannya.

Demikian pula dengan pendidikan keterampilan. Fokuskan pada keterampilan yang akan mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Melatih berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi, tidak perlu menggunakan barang-barang mahal.

Cukup menggunakan barang-barang yang ada dilingkungan sekitar rumah saja, keempat komponen keterampilan itu dapat dikuasai. Oleh karena itu guru, orangtua dan pendamping belajar, jangan terlalu fokus pada konten atau materi yang diajarkan.

Dalam kesempatan bertatap muka dengan peserta didik melalui daring, manfaatkan untuk melatih keempat keterampilan di atas. Masalah konten dapat dicari oleh peserta didik secara mandiri, karena sudah tersedia dimana-mana.

Yang perlu diingat adalah peserta didik perlu dilatih mencari tahu sumber pengetahuan yang dibutuhkan, bukan hanya diberi tahu. Pengetahuan yang dicari sendiri akan lebih lama tersimpan daripada pengetahuan yang diberikan secara instan. (*)

Guru di Yayasan Al Muslim.

Related Articles

Back to top button