Pendidikan

Guru Tanggapi Beragam UN jadi Asesmen Nasional

SMP NEGERI 2 KOTA BEKASI
ILUSTRASI: Seorang guru memberikan materi saat simulasi kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di SMP Negeri 2 Kota Bekasi, beberapa waktu lalu. Sejumlah guru di Kota Bekasi menanggapi beragam UN resmi diganti menjadi asesmen nasional. Raiza Septianto/Radar Bekasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah guru di Kota Bekasi menanggapi beragam terkait Ujian Nasional (UN) resmi diganti menjadi asesmen nasional mulai 2021.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam SMP Kota Bekasi Mansyur mengatakan, asesmen nasional 2021 bukan merupakan pengganti yang terbaik untuk dunia pendidikan.

“Sudah cukup baik, namun belum menjadi yang terbaik. Kenapa? karena asesmen yang dilaksanakan pada saat ini masih bersifat kepada pengetahuan peserta didik,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (13/10).

Berdasarkan laman resmi Kemendikbud, asesmen nasional 2021 diartikan sebagai pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Asesmen nasional terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. “Semua teknisnya menurut saya sudah cukup baik, dalam hal ini asesmet nasional melihat pada kemampuan dari masing-masing sekolah. Karena memang nyatanya sekolah memiliki sarana dan prasana yang berbeda-beda,” kata Mansyur.

Ketua MGMP Sejarah SMK Kabupaten Bekasi Rahmawati mengungkapkan, pihaknya menghargai kebijakan yang telah dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim untuk merubah UN menjadi asesmen nasional.

“Saya sebagai guru sangat menghargai kebijakan tersebut, karena prestasi akademik bukan satu-satunya jaminan keberhasilan siswa kedepan,” ujarnya.

Ia berpendapat, hasil prestasi akademik dengan nilai tinggi tidak akan otomatis menjadi orang sukses kedepannya. Menanamkan karakter kepada siswa sebagai orang yang berkeahlian menjadi hal yang perlu dilakukan saat ini.

“Tidak harus berpatokan dengan nilai tertinggi. Kalau kita cermati kita gali lebih mendalam, memang benar kita butuh skill dalam hidup untuk bertahan, yang berarti bukan hanya mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan skill sama sekali,” paparnya.

Menurutnya, UN masih sangat perlu dilakukan sebagai standar penentu kelulusan siswa. Akan tetapi, dengan sistem skill dan karakter sebagai tolak ukur.

“Kebanyakan orang sukses adalah orang yang mempunyai skill dan karakter, maka penting dilakukan penanaman itu kepada para peserta didiknya,” tukasnya. (dew)

Related Articles

Back to top button