Pendidikan

Lulus Sekolah Minimal Hafal Lima Juz

Program Hafalan Quran SDIT Gameel Akhlaq

SDIT-Gameel-Akhlaq
SETORAN HAFALAN: Seorang siswa saat setoran hafalan Alquran bersama gurunya di sekolah. Menciptakan siswa hafal quran menjadi salah satu program unggulan di sekolah tersebut.HANY FITRIANI/MAGANG RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menciptakan siswa hafal Alquran, menjadi salah satu program unggulan di SDIT Gameel Akhlaq. Bagaimana metode hafalan quran di sekolah tersebut.

Minimal hafal Alquran lima juz setelah lulus sekolah merupakan target yang harus dikejar oleh peserta didik SDIT Gameel Akhlaq. Untuk membantu program tersebut, SDIT Gameel Akhlaq melibatkan konsultan Asy-Syarief Training Center (ATC) dengan metode ummi.

Program ini dapat berjalan dengan bantuan sistem. Dalam sistem tersebut terdapat silabus, program unggulan, evaluasi, materi, hal ini dilengkapi bagaimana metode dalam pembelajarannya. Salah satu yang diarahkan kepada sekolah dalam mengontrol hafalan agar bisa tercapai yaitu setiap kelas dibagi menjadi tiga kelompok yakni A, B dan C.

Bagi kelompok A yaitu siswa yang sudah lancar, bagus dan bacaan Alquran, Bagi keompok B yaitu yang sudah bagus dalam bacaan Alquran, namun belum lancar. “Bagi kelompok C yaitu masih kurang dalam segi bacaan Alquran, hal ini dilakukan untuk memudahkan guru dalam mengajarkan perlu pendampingan khusus dan tidak bagi setiap siswa untuk mengotrol hafalannya,” kata Kepala SDIT Gamel Akhlaq, Agung.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, hafalan Alquran dilakuan setiap pagi di halaman sekolah sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai. ”Karena kalau pagi pikiran yang masih jernih, fresh, tidak ngantuk ataupun hal lainnya. Dimulai dari 07.30 WIB sampai 10.00 WIB khusus materi pembelajaran Alquran,” lanjutnya.

Dia mengaku ingin menjadikan sekolah ini sebagai taman Alquran, yang memiliki jargon taman Alquran, dan science yaitu bagaimana menjadikan sekolah seolah-olah adaa taman Alquran di kelas, teras, dan masjid. Karena pembelajaran Alquran, tidak harus selalu di kelas.

“Jika kondisi normal, kesan orangtua terhadap sekolah yaitu setiap pagi hari itu seolah-olah melihat ada pesantren. Setiap pagi SDIT dan SMPIT kelompok dan lingakaran Alquran,. Hal ini dilakukan sudah termasuk tahfidz dan tahsin,” sambungnya.

Pada tahun pertama, siswa tidak diwajibkan untuk menghafal, namun perbaikan bacaan, tajwid dan tahsin. Dengan metode ummi bagi kelas satu semester satu memiliki enam jilid, targetnya bagi setiap siswa yaitu minimal tiga sampai empat jilid, dilanjut untuk semester dua harus sudah selesai enam jilid tersebut dipastikan sudah bagus dalam segi bacaan, dan peguatan dalam tahsin.

Nah, pada tahun ke dua, siswa sudah bisa hafalan mandiri, sementara guru hanya menunggu setoran hafalan. ”Tahun pertama itu berat sekali, karena di sini siswa diajarkan bacaan, tajwid dan mahroj,” tegasnya.

Untuk memudahkan hafalan, lanjutnya, setiap siswa ditarget sehari hafal tiga baris. Jadi dalam sepekan pada siswa sudah hafal satu halaman. ”Nanti siswa setoran sama guru bisa melalui video call atau datang langsung ke sekolah,” lanjutnya.

Selain itu, Agung mengaku untuk melancarkan program tersebut pihaknya melibatkan orangtua atau wali murid agar mau mendampingi saat belajar atau hafalan di rumah. Jika sudah hafal, siswa setoran datang ke sekolah.

“Dibagi perkelompok. Untuk datang ke sekolah bergilir bagi setiap kelompok diberi waktu satu jam. Hal ini dilakukan tetap dengan mematuhi protokol kesehatan, mulai dari (memakai) face shield, masker, dan hand sanitizer,” tandasnya. (han)

Related Articles

Back to top button