BekasiKesehatan

Sedihnya Merasa Dikucilkan, Senangnya Disuplai Sembako dan Buah

Cerita Mantan Penyintas Covid-19 di Kota Bekasi

Kholis Ridho Ashidiq, mantan penyintas Covid-19 di Kota Bekasi.

Penyintas Covid-19 di Kota Bekasi merasakan masih ada sebagian warga yang mengucilkan mereka selama menjalani masa isolasi. Ada pula yang menaruh perhatian besar dengan menyuplai kebutuhan makanan dan buah-buahan setiap hari.

ZAENAL ARIPIN, KOTA BEKASI

Kholis Ridho Ashidiq, salah satu penyintas Covid-19 di Kota Bekasi. Pria berusia 35 tahun ini selama sebulan menjalani isolasi mandiri di kediamannya, Taman Wisma Asri (TWA), Telukpucung, Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Menjadi penyintas Covid-19 berawal saat sang adik dinyatakan positif pada Minggu, 20 September 2020. Usai menjelani pemeriksaan kesehatan di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi. ’’Dia punya sakit asma. Pulang dari menginap di rumah temannya, asmanya kambuh dan demam,’’ ungkap Kholis mengawali ceritanya kepada Radarbekasi.id.

Hari itu juga sang adik langsung menjalani isolasi di RSUD Kota Bekasi. Dokter pun menyarankan ia dan keluarganya agar melakukan tes swab dan menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Dua hari kemudian, tepatnya Selasa 22 September 2020 menjalani pemeriksaan PCR dengan sampel swab nasofaring. Dua hari kemudian, Kamis 24 September 2020, petugas Labkesda di RSUD mengonfirmasi hasil tes bahwa dirinya terdeteksi/positif. Hasil pemeriksaan yang sama juga diterima kedua orangtua Kholis, yaitu Suparno (62) dan Rumaidah (58).

Selama menjalani masa isolasi mandiri di rumah, cerita Kholis, keluarganya tidak mengalami kekurangan sesuatu apapun dari bahan pokok dan buah-buahan. Kerabat, saudara, dan lingkungan tempat tinggal banyak yang suplai makanan dan buah-buahan untuk keluarganya.

’’Makanan dan buah-buahan banyak yang kirim. Saking banyaknya kiriman itu, istilahnya sampai saya begah. Banyak yang gak kemakan,’’ ungkap Kholis.

Orangtuanya yang aktif dalam satu arisan di lingkungan rumah, juga menadapat support dari anggota sesama arisan. ’’Bapak kebetulan ikut arisan. Banyak yang support kami sekeluarga saat isolasi,’’ imbuhnya lagi.

Kendati demikian, diakui pria yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan penerbitan media ini, masih ada masyarakat juga yang memandang sinis kepada keluarganya saat itu. Pernah dialaminya langsung.

’’Di situ saya merasa, gimanaa gitu…Kok masih ada yang berpikiran seperti itu,’’ keluhnya ketika suatu hari terpaksa keluar rumah untuk mengambil nomor antrean pemeriksaan jantung orangtuanya.

Alhamdulillahnya, sambung Kholis, orang yang berpikiran sempit itu tidak banyak. Masih banyak yang memberi perhatian dan bergotong royong membantu keluarganya saat menjalani isolasi mandiri.

Keluhan apa yang dirasakan selama dinyatakan positif Covid-19? Kholis mengaku kalau dirinya pribadi tidak merasakan sesuatu yang luar biasa. ’’Saya tidak merasakan keluhan apapun. Demam, batuk, pilek, panas, tidak ada. Penciuman juga masih normal,’’ ungkapnya.

Ternyata, kata Kholis, tidak begitu halnya dengan yang dirasakan orangtuanya. ’’Mungkin karena beliau-beliau sudah lanjut usia, jadi terasa betul keluhannya. Terutama indra penciumannya bermasalah. Minyak kayu putih dan parfum itu sama sekali tidak bisa dicium aromanya,’’ ungkap Kholis.

Selama menjalani isolasi mandiri di rumah, Kholis dan keluarganya menjalani dua kali swab test. Beruntung, pada swab test tahap kedua yang dijalaninya pada 15 Oktober 2020. Dan hasilnya dinyatakan negatif pada 16 Oktober 2020.

Berdasarkan hasil swab test pada 16 Oktober itu pula, UPTD Puskesmas Telukpucung menerbitkan surat keterangan tertanggal 22 Oktober 2020 yang menyatakan Kholis dan kedua orangtuanya sehat. (*)

Related Articles

Back to top button