Bekasi

Pasien Meninggal di Ruang Isolasi RSUD, Keluarga Meradang

Keluarga pasien RSUD Kota Bekasi yang meninggal di ruang isolasi Minggu (25/10).

BEKASI SELATAN, RADARBEKASI.ID-Seorang pasien RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, meninggal dunia setelah masuk ruang isolasi Covid-19. Pihak keluarga mensinyalir ada unsur kelalaian dokter dan tenaga kesehatan (nakes) saat menangani pasien, Minggu (25/10) sore.

Pasien bernama Nasir (41) warga Kampung Gabus Ujung RT1/5, Desa Srimukti, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi ini, meninggal dunia setelah dipindahkan secara paksa ke ruang isolasi di RSUD tersebut. Saat bersamaan kondisi pasien tak stabil.

Fajar Febriyandi (24), kerabat dari pasien menyampaikan, RSUD Kota Bekasi telah lalai menangani pasien, baik soal keterlambatannya informasi, mal administrasi, dan keputusan sepihak.

“Hal ini kami jelaskan, dan beberkan kepada bagian pengaduan di IGD rumah sakit,” kata Fajar dihubungi Radar Bekasi, Selasa (27/10).

Tudingan ini bukan tanpa alasan, sebab dia dan pihak keluarga yang merasakan hal tersebut.

Dijelaskan Fajar, awal pasien masuk ke RSUD Kota Bekasi, Sabtu (24/10), pasien dalam kondisi tak sadarkan diri dan dan kejang-kejang saat dibawa keluarga.

“Pas waktu itu, masih baik-baik saja dan langsung ke ruang IGD dan ditangani dokter IGD. Dan hasil dari diagnosa awal, sakit tetanus. Dan sesuai ptrotokol pasien pun dirapid test yang hasilnya keluar pukul 22.00 wib, yaitu ‘non reaktif’,” ujarnya seraya mengaku sebagai pendamping keluarga pasien.

Keesokan harinya, lanjut Fajar, sanak keluarga datang mengecek kondisi pasien yang kala itu hanya ditemani sang istri. Mulai dari situ, diakuinya, terjadi masalah sebab dokter tertera pada lampiran edukasi sudah mengambil tindakan PCR pada pukul 08.30, dan keluarga tidak mengetahui hal tersebut.

“Padahal keluarga ada yang tunggu untuk mendampingi, tapi tak diberi kabar atau informasi terkait swab test. Terlebih, kami dari keluarga itu anggap pasien baik-baik saja pada pukul 13.00 dengan landasan hasil rapid test sebelumnya,” terangnya.

Sambil mencari keterangan terkait hal itu, sekaligus meneruskan atas tindak lanjut mengenai perawatan pasien yang harus segera pindah ke ruang bedah isolasi sesuai dengan anjuran dari dokter. Fajar bersama dengan adik pasien pun berusaha mencari ruangan ke gedung RSUD Kota Bekasi lantai 4.

“Pencarian kami waktu itu berbuah hasil, kami mendapatkan ruangan dengan berkoordinasi ke suster di lantai 4 tersebut. Tapi, ruanganya itu bersifat sementara dan darurat. Dan kami pikir gak masalah yang penting ada. Dan kami turun untuk kembali ke ruang IGD guna berikan informasi rawat ruangan tersebut,” ungkapnya.

Namun demikian, lanjut Fajar, pihak dokter IGD rupanya menganjurkan hal berbeda, karena pasien ternyata mendapatkan penanganan di ICU tapi saat itu kondisi kamar ICU harus menunggu antrian sekitar 10 pasien. Akhirnya, keluarga pasrah dan mengiyakan untuk menunggu di pindahkanya ke ruang ICU.

“Waktu kami menunggu sampai ada kejelasan pemindahan pasien ke ruang ICU, pada pukul 16.30 wib itu keluarga dikabarkan bahwa pasien positif Covid, dan dalam keadaan tak stabil itu pasien dipindah paksa ke ruang isolasi Covid-19 tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Sampai akhirnya, pukul 17.30 wib, keluarga dapatkan kabar pasien telah tiada,” tuturnya.

Mendengar kabar itu semua pihak keluarga di rumah sakit pun semua terkejut, dan histeris. Bersamaan itu pula, Fajar bersama adik pasiennya langsung menghadap bagian administrasi dan dokternya, untuk menanyakan kejelasan meninggal pasien. Bahkan, mendesak supaya rumah sakit untuk menjelaskannya.

“Kami hanya minta kejelasan pada rumah sakit soal kondisi si pasien seperti apa, dan kenapa meninggal. Namun, bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, kami mendengar dari salah satu dokter yang melontarkan ‘saya tidak bertanggung jawab atas kematian pasien’. Disitu, kami pun rasa jatuh harga dirinya sebagai manusia mendengar kalimat itu,” ucapnya.

Akhirnya, Fajar mengakui, dengan penuh rasa emosi dan kesal, sekitar pukul 18.15, seiring keadaan mulai stabil keluarga kemudian langsung ke bagian pengaduan pelayanan di IGD.

Disitulah, tegas Fajar,  keluarga menuturkan tudingan kalau rumah sakit telah lalai menangani pasien, sekaligus menanyakan bagaimana pihak keluarga membawa pulang jenazah.

“Rumah sakit telah lalai dalam menangani pasien, baik dari keterlambatanya informasi, mal administrasi, dan keputusan secara sepihak. Sementara itu, terkait soal pemulangan jenazah tanpa protokol Covid, disetujui dan disepakati dari pembuatan surat penyataan,” urai Fajar.

Akhirnya, Fajar menambahkan, jika pasien bisa dibawa pulang dengan protokol Covid-19 dan sesampainya di rumah menjadi tanggung jawab keluarga, karena rumah sakit hanya mengantar jenazah saja.

“Pihak keluarga menyetujuinya, dan kami mengurus administrasi yang harus diketahui oleh keluarga. Atas kejadian ini, tentu keluarga merasa kecewa meski menandatangani surat pernyataan tersebut. Dan soal sakit pasien, dia sudah seminggu yang lalu sakit karena kecelakaan tapi cuma dirawat di rumah saja, sampai Sabtu kemari dibawa ke klinik, dan akhirnya ke RSUD sesuai rujukan dokter klinik,” tutupnya

Terpisah, saat dikonfirmasi Direktur RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Kusnanto hingga kini belum memberi respon apapun terkait kasus tersebut, baik telpon maupun pesan WhatsApp. (mhf)

Back to top button