Metropolis

Menengok Kisah Perjuangan Relawan PMI di Tengah Pandemi

Disambut Segelas Kopi Hangat Sampai ‘Panci Terbang’


TERUS BERJUANG : Relawan PMI Kota Bekasi, Rizky Prima (kiri) dan Ardian Septiantoro (kanan) terus berjuang melayani masyarakat dengan melakukan penyemprotan disinfektan. Mereka juga ikut mensosialisasikan terkait penerapan protokol kesehatan di tengah pandemi. NEO/RADAR BEKASI

Dua orang relawan dari PMI Kota Bekasi, Rizky Prima (23) dan Ardian Septiantoro (23) turun langsung dalam penanganan dan pencegahan Covid-19. Mereka aktif melakukan penyemprotan dan sosialisasi Covid-19. Apa saja ‘asam-manis’ pengalaman yang mereka rasakan selama menjadi relawan ?. Simak Laporannya.

Neo Bano

BEKASI SELATAN

Kemarin, Senin (9/11), dua orang relawan PMI Kota Bekasi, Rizky Prima (23) dan Ardian Septiantoro berada di Markas PMI di Jalan Pramuka, Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan.

Rizky dan Ardian yang saat itu lengkap mengenakan rompi PMI berwarna merah, menyempatkan waktunya untuk bercerita tentang ‘asam-manis’ pengalaman mereka selama menjadi relawan Covid-19 sekitar delapan bulan kebelakang. Tepatnya, sejak kasus pertama terdeteksi di Depok pada 1 Maret 2020 lalu.

Diketahui bersama, pada momen-momen awal tersebut, banyak kebijakan baru dan kampanye di media sosial untuk beraktivitas di rumah. Mulai dari kerja hingga sekolah. Semuanya di rumah.

Tetapi, terdapat orang-orang yang berjuang di lapangan untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, Cina tersebut. Termasuk kedua orang ini.

Mereka secara aktif melakukan penyemprotan disinfektan di fasilitas umum maupun pemukiman warga. Selain itu, juga melakukan sosialisasi pencegahan Covid-19.

Rizky memulai perbincangan dengan menceritakan awal mula dirinya bergabung menjadi relawan. Mahasiswa jurusan manajemen di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) ini mengaku sudah bergabung sejak awal 2020, saat bencana banjir ‘mengepung’ sejumlah wilayah di Kota Bekasi.

Lalu, pada Maret 2020, dia dikirim untuk bertugas di Jakarta membantu penanganan Covid-19 di ibu kota. Kemudian, balik lagi ke Kota Bekasi sekitar bulan Agustus lalu.

Sementara, Ardian tetap menjadi relawan di kota patriot. Dia menjadi relawan untuk melakukan penyemprotan di fasilitas umum dan pemukiman warga bersama dengan relawan lainnya.

Ardian mengaku sempat takut saat pertama kali menjadi relawan di tengah pandemi. Apalagi, saat harus melakukan penyemprotan disinfektan di rumah warga yang positif Covid-19.

“Benar-benar panik, panik benar-benar panik, ya mau nggak mau kita harus terjun ke dalam situ (rumah warga yang positif),” kata mahasiswa semester tujuh jurusan hukum di Ubhara Jaya Bekasi ini.

Rizky juga sama, takut seperti Ardian karena Covid-19 merupakan hal baru yang ada di dunia. “Tapi di balik itu, niat kita sudah ada untuk membantu memutus mata rantai penyebaran, yang penting bagaimana diri kita proteksi diri kita untuk menggunakan APD,” ujarnya.

Kini mereka telah terbiasa. Yang paling penting, kata keduanya, harus tetap menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat terlebih saat harus pulang ke rumah.

Rizky dan Ardian selalu mandi sebelum dan saat sampai di rumah usai bertugas. Mereka juga menerapkan protokol kesehatan serta rutin melakukan pemeriksaan Covid-19 secara berkala.

Dalam menjalankan tugas, terdapat beberapa pengalaman menarik yang mereka alami. Asam manis respon masyarakat sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka berdua. Mulai dari yang ramah sampai yang ketus menanggapi kehadiran relawan melakukan penyemprotan.

Kata Rizky, dia pernah dilempar panci oleh warga saat mereka bertugas di salah satu kelurahan di Bekasi Utara bersama dengan Ardian dan relawan lain. Penyebabnya, karena sosialisasi penyemprotan disinfektan tidak sampai ke seluruh warga.

Sehingga, saat melakukan penyemprotan disinfektan terkena kerupuk milik warga yang sedang dijemur. Sontak hal itu membuat pemiliknya mengamuk dan melempar tim relawan PMI dengan panci.

“Ada yang pernah dilempar panci juga kita, ada juga warga yang menjemur kerupuk atau apa, karena kurangnya koordinasi,” kenang Riky.

Ardian menambahkan, relawan juga kerap mendapatkan sambutan hangat dari warga saat atau setelah melakukan penyemprotan. “Ditawari kopi, ditawari minum, disambut warga,” katanya.

Tak ada gaji dari menjadi relawan. Mereka mengaku menjalaninya karena ingin bermanfaat bagi banyak orang. “Panggilan jiwa sih, di saat kita sudah nyaman dengan kegiatan sosial kemanusiaan, di situ kita lihat ada kesenangan atau kepuasan dari orang banyak yang membuat kita senang juga, nah di situ suatu kebanggaan buat kita,” kata Rizky.

“Kalau saya lebih baik saya menjadi relawan daripada saya diam di rumah, panik, mendingan saya membantu, bersosial dengan masyarakat,” tambah Ardian.

Keduanya berharap agar masyarakat terus menerapkan protokol kesehatan (prokes) di tengah pandemi dengan selalu menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

“Semoga pandemi ini cepat berakhir, kita juga pengin hidup normal kembali, perekonomian stabil lagi, warga juga tidak ada kekhawatiran lagi,” tutup Rizky.(*)

Back to top button