Bekasi

Simbol Perlawanan Rakyat Bekasi Mempertahankan Kemerdekaan

Tugu Bambu Runcing, Monumen Sejarah yang Terlupakan

TUGU PERJUANGAN RAKYAT : Tugu Bambu Runcing di simpang Warung Bongkok Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, Selasa (10/11). Tugu Bambu Runcing itu didirikan saat masa penjajahan sebagai simbol perjuangan rakyat Bekasi.ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tugu Bambu Runcing, monumen sejarah yang berada di pertigaan Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi seolah terlupakan. Padahal itu sebagai simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seperti apa kondisinya?, berikut laporannya.

KARSIM PRATAMA
Cikarang Barat

Pancaran warna kuning dari tugu berbentuk sebatang bambu runcing yang menjulang, nampak terlihat saat melintas di Jalan Imam Bonjol, pertigaan Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Cikarang Barat. Tugu yang berdiri kokoh di tengah jalan ini, memiliki tinggi dua hingga tiga meter.

Pembuatan tugu yang diprakarsai oleh para pejuang yang ada di Bekasi, salah satunya Ketua LVRI Ranting Cibitung, Arnaen, sebagai simbol perlawanan rakyat Bekasi pada zaman penjajahan, untuk mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, di jadikan sebagai tempat mengenang para pejuang di Bekasi.

Bahkan, tugu yang diresmikan pada tanggal 5 Juli 1962 lalu, ditetapkan menjadi salah satu Monumen Sejarah. Hal itu tertuang di dalam buku Seri Monumen Sejarah TNI Angkatan Darat Jilid 1 terbitan tahun 1977 oleh Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat.

Namun sayangnya, tugu yang memiliki simbol perlawanan rakyat Bekasi ini, nampak tidak terlihat oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi. Pasalnya, hingga saat ini tidak ada kepedulian Pemkab untuk merawat salah satu sejarah yang ada di Kabupaten Bekasi.

Dalam kesempatan ini, Radar Bekasi berkesempat untuk berbincang dengan putra bungsu, salah satu pemrakarsa tugu bambu runcing ini, Arnaen. Dengan memakai baju veteran, Saripudin Arnaen, berdiri tegak di dekat tugu yang di dirikan orang tuanya ini.

Usai menabur bunga di tugu bambu runcing, bersama dengan anak-anak Komunitas Save Kali Cikarang dan beberapa lainnya, Saripudin Arnaen mulai bercerita sedikit tentang tugu bambu runcing ini. Menurutnya, tugu ini sebagai simbol perlawanan rakyat Bekasi.

“Simbol tugu bambu runcing ini perlawanan rakyat Bekasi, dan juga untuk mengenang para pejuang di Bekasi,” ujarnya usai menabur bunga di tugu bambu runcing, Selasa (10/11).

Dia menyanyangkan, tidak adanya kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Bekasi terhadap tugu bambu runcing ini. Padahal kata dia, tugu ini sebagai monumen sejarah yang ada di Bekasi. Dia berharap, agar kedepannya ada kepedulian dari Pemkab.

“Kami sebagai ahli waris dari tugu bambu runcing ini menyanyangkan, tidak adanya respon dari pemerintah, saya menginginkan ada respon dari pemerintah, karena ini monumen,” ungkapnya sambil melihat ke tugu bambu runcing.

Ditempat yang sama, Ketua Komunitas Save Kali Cikarang, Eko Jatmiko menuturkan, tugu bambu runcing ini sebagai simbol monumen perjuangan masyarakat Bekasi, yang diprakarsai oleh salah seorang pejuang bernama Arnaen.

Dia menilai, tugu ini merupakan rangkaian mercusuarnya Indonesia pada kepemimpinan Bung Karno, karena pembuatannya bersamaan dengan pembangunan Monumen Nasional (Monas), Stadion Gelora Bung Karno, dan monumen-monumen lainnya yang sifatnya monumental.

“Tugu bambu runcing merupakan monumen sejarah yang dibangun tahun 1962, sejarahnya tercatat di buku dinas sejarah TNI angkatan darat terbit 1977,” ungkapnya.

Hanya saja kata Eko, Pemkab Bekasi sendiri belum menetapkan tugu bambu runcing sebagai salah satu cagar budaya. Padahal, di dalam buku Seri Monumen Sejarah TNI Angkatan Darat Jilid 1 terbitan tahun 1977 oleh Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat, sudah ditetapkan sebagai monumen sejarah.

“Kita prihatin, karena di Kabupaten Bekasi sendiri belum ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya,” ucapnya.

Dirinya menegaskan, sampai saat ini tidak ada perhatian khusus dari Pemkab Bekasi terhadap tugu bambu runcing. Sebenarnya, apabila melihat durasi (waktu) dari awal pembuatan sampai sekarang, sudah lebih dari 50 tahun, harusnya ada perhatian serius.

Untuk perawat sendiri, dia mengaku, dari hasil swadaya masyarakat dan komunitas yang ada. Tentunya, kondisi seperti ini sangat memprihantinkan sekali, karena walau bagaimana pun, tugu ini ada maknanya.

“Kami sebagai para pemuda merasa prihatin melihatnya. Padahal menurut saya, ini bisa di jadikan simbol, karena Bekasi itu kota pejuang,” tukasnya.

“Kami berharap kedepannya, Pemkab lebih ngeh (peduli) tentang peninggalan sejarah dan tokoh-tokoh pahlawan, jangan sampai para pemuda buta sejarah,” sambungnya.

Sementara itu, Budayawan Bekasi, Ali Anwar menjelaskan, tugu bambu yang berada di warung bongkok pertama di Bekasi, dibangun oleh para pejuang 1945, bersama masyarakat, dan pemerintah. Kata Ali, tugu itu untuk memperingati para pahlawan di Bekasi.

“Tugu itu untuk memperingati ke pahlawanan atau keherokian para pejuang di Bekasi. Untuk itu sebenarnya si. Karena mulai dari Cakung, Bekasi, Tambun, Cibitung, Cikarang, sampai Karawang, daerah-daerah pertempuran (perjuangan),” ujarnya, Rabu (11/11).

Menurutnya, tugu bambu pernah tertabrak kontainer hingga roboh. Walaupun memang langsung diperbaiki kembali, namun sempat menjadi perbincangan. Untuk sekarang dia menilai, bambu yang ada di tugu terlihat lebih besar dari yang sebelumnya.

“Setau saya, kalau dulu itu bambunya lebih kecil. Karena dulu itu, kalau mau ke Cikarang dari Bekasi saya lewat situ,” ungkapnya.

Dirinya menyarankan, agar Pemkab Bekasi bisa melebarkan jalan disekitar tugu bambu, karena memang banyak pabrik, sementara area jalan semakin menyempit. Dalam hal ini, Pemkab bisa membeli lahan warga, sehingga transportasi tidak menyenggol tugu. Dan dibuatkan taman.

“Karena dianggap bersejarah, mungkin lebih baik Pemkab mengupayakan untuk melebarkan akses jalan disekitaran tugu,” ucapnya.

Ali menegaskan, agar Pemkab Bekasi tidak melupakan peninggal sejarah seperti tugu bambu, karena yang membangun itu para tokoh masyarakat (pejuang) dan pemerintah.

“Kalau dilupakan, sama saja melupakan jasa-jasa pejuang dan pemerintah zaman dulu. Daerah Bekasi itu memang real daerah perjuangan, apa lagi bambu runcing itu simbol perjuangan. Jadi harus dilestarikan,” jelasnya. (*) 

Back to top button