Pendidikan

SMA Marsudirini Upgrade Kompetensi Guru

SMA-Marsudirini
FOTO BERSAMA: Guru SMA Marsudirini saat foto bersama usai mengikuti In House Training, kemarin. Kegiatan ini untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dalam mengajar melalui Dalam jaringan (Daring), SMA Marsudirini Kota Bekasi menghelat In House Training (IHT). Kegiatan bertajuk peningkatan kompetensi pendidikan dalam menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang tepat tersebut dilaksanakan di aula sekolah, Kamis (12/11).

Kepala SMA Marsudirini Kota Bekasi Hubertus Nugroho Sudjatmiko mengaku, kegiatan tersebut bertujuan membuat sistem pembelajaran yang membahagiakan siswa.  “Adanya In House Training ini mengarah kepada perubahan, tidak ada hal yang berbeda dari model, pendekatan, strategi, metode dan teknik yang digunakan, namun sisi pendekatan personal yang humanis justru membuat kondisi “Student Wellbeing” atau kebahagiaan siswa,” ujarnya kepada Radar Bekasi

Dia mengaku, sebelumnya melakukan survey untuk mengetaui efektivitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). ”Survei yang bersifat personal memberikan jawaban terbuka dengan pertanyaan hal apa saja yang membuat suatu mata pelajaran membosankan dan menyenangkan, kalau untuk teknis lebih kepada persoalan jaringan dan medianya,” tuturnya.

Dari hasil survey, 44,7 persen siswa merasa kesulitan dalam melaksanakan PJJ dan 71,8 persen siswa menjawab tidak ada masalah. Selain itu, 74,3 persen siswa masuk tepat waktu, 32,3 persen kejelasan suara guru, 61,4 persen guru selalu mengajak berdiskusi, 75,8 persen guru selalu melakukan tanya jawab, setelah akhir materi, menurut siswa ada 93,8 persen guru mengadakan tes.

Dalam pelaksanaan In House Training ini ada beberapa hal yang akan diperbaiki. Diantaranya model, pendekatan, strategi, metode dan teknis pembelajaran.

“Untuk narasumbernya kita hadirkan dari internal sekolah. Dua guru sebagai narsum ini dipilih langsung oleh siswa melalui survey,” ucapnya.

 Dia mengaku, sejumlah keluhan siswa dalam proses PJJ diungkapkan dalam beberapa hal. Diantaranya seperti  guru menjelaskan dengan bahasa yang sukar di mengerti, cara guru menjelaskan yang terkadang sangat terburu-buru, setiap pembelajaran cara penyampaian materinya selalu sama, pembawaannya kurang menyenangkan dan kurang interaksi atau candaan untuk relaksasi.

“Ini sebagian kecil ungkapan siswa bagi, ketika ditanyakan mengenai materi pembelajaran yang tidak disukainya,” jelasnya.

Sementara siswa lebih senang belajar jika  guru menerangkan materi dengan jelas, proses pembelajarannya santai tapi menyenangkan, penjelasan dan catatannya yang sekali diterangkan langsung mengerti.

Wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMA Marsudirin Han Christian berharap, setelah In House Trainning guru bisa menerapkan dalam kegiatan pembelajaran. ”Kita harap ada perubahan yang baik dalam metode pembelajaran baru nanti,” pungkasnya. (dew/pms)

Back to top button