Metropolis

Waspada Lonjakan Kasus IMS

BERIKAN KETERANGAN: Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Dezy Syukrawati, ketika memberikan keterangan kepada awak media di komplek Stadion Patriot Candrabhaga Kota Bekasi belum lama ini. SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dunia kesehatan sedang menaruh fokus pada Covid-19, virus yang tak kunjung berhenti meneror kehidupan sosial masyarakat. Namun, pemerintah perlu berhati-hati dengan gangguan kesehatan lainnya, salah satunya Infeksi Menular Seksual (IMS), penyakit ini berujung pada Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Angka kasus IMS maupun HIV cenderung kecil pada tahun 2020, penurunan angka ini salah satunya disinyalir lantaran kegiatan pemeriksaan dibatasi selama masa pandemi. Sejak pendemi melanda dan kegiatan apapun dibatasi dengan ketat kurun waktu bulan Maret hingga bulan Juni lalu.

Meskipun salah satu tempat dengan risiko tinggi seperti tempat hiburan malam sempat ditutup total operasionalnya pada kurun waktu ini, namun teknologi masih memungkinkan Pekerja Seks Komersial (PSK) menjaring pelanggan melalui platform daring atau online.

Kasus terbaru terjadi di Kota Bekasi, pada situasi new normal, saat operasional tempat hiburan malam dibatasi, satu PSK tewas ditangan pelanggannya lantaran tergiur oleh sejumlah uang yang dimiliki oleh PSK yang ia pesan.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Dezy Syukrawati mengakui bahwa Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah saatnya kembali memikirkan program dan masalah kesehatan lainnya. Salah satunya adalah IMS dan HIV. Pasalnya pembatasan kegiatan yang bersentuhan langsung di lingkungan masyarakat dikhawatirkan muncul fenomena gunung es. Terlihat sedikit di permukaan, tanpa mengetahui apa yang terjadi dibagian dasar.

“Kemarin kalau HIV Aids itu menjadi sangat rendah di tahun 2020 karena mungkin satu, kita tidak banyak melakukan pemeriksaan,” ungkapnya saat dijumpai Radar Bekasi beberapa waktu lalu.

Catatan kasus HIV tahun lalu sebanyak 335 kasus, tahun ini, hingga Juli 2020 tercatat 126 kasus. Sebagian kasus ditemukan saat masyarakat yang bersangkutan mengakses fasilitas kesehatan untuk berobat.

Sementara IMS, tahun ini tercatat 199 kasus, lebih sedikit dibandingkan dengan catatan kasus hingga pertengahan tahun 2019 sebanyak 440 kasus. Dalam situasi normal, kunjungan atau visity untuk melacak kasus di wilayah berisiko tinggi dilakukan rutin setiap bulan.

Kelompok berisiko tinggi IMS ini diantaranya adalah PSK, pekerja hiburan malam, penyuka sesama jenis, hingga ibu hamil. Ibu hamil menjadi sasaran dan termasuk dalam kelompok risiko lantaran dikhawatirkan menular pada anak yang dilahirkan.

Namun, lebih dikhawatirkan adalah pasangan yang tidak setia. Interaksi seksual salah satu pasangan dikhawatirkan dapat menularkan penyakit IMS kepada pasangannya. Untuk itu, perlu kesetiaan terhadap pasangan.

“Pekerja seksual sama pekerja hiburan malam (kelompok dengan resiko paling tinggi),” tambahnya.

Ia mengakui, dalam situasi apapun tidak bisa memaksa kelompok risiko ini untuk menghentikan aktivitasnya. Rata-rata mereka terpaksa beraktivitas dengan risiko terjangkit IMS dengan alasan ekonomi.  Sekalipun dalam situasi pembatasan aktivitas apapun beberapa waktu lalu, menurutnya tidak menutup kemungkinan aktivitas seksual tetap berjalan dengan media yang lain seperti platform digital.

Bulan November ini, aktivitas penjaringan dan visit mulai kembali dilakukan pada wilayah dan kelompok beresiko IMS maupun HIV. Tentunya, Dezy menyebut kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) penggiat HIV telah memberikan laporan untuk melakukan visit, begitu pun dengan Puskesmas di lingkungan warga sudah mulai bergerak.

“Kita sekarang sedang evaluasi lagi, intinya kita sudah harus kembali memikirkan program (visit maupun penjaringan IMS dan HIV),” tukasnya. (sur)

Back to top button