Berita UtamaPolitik

Program Idris-Imam Lebih Relevan

Survey Democracy and Electoral Empowerment Patnership (DEEP) Kota Depok

Direktur Democracy Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi
Direktur Democracy Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok nomor urut 2, Mohammad Idris – Imam Budi Hartono unggul atas rivalnya Paslon Nomor Urut 1, Pradi Supriatna dan Hafifah Aliyah dalam survey program unggulan pasangan calon yang dilakukan Democracy and Electoral Empowerment Patnership (DEEP) Kota Depok pada rentang waktu 24 Oktober 2020 sampai 4 November 2020.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Radar Depok (grup Radar Bekasi), Direktur Democracy And Electoral Empowerment Patnership (DEEP) Indonesia, Yusfitriadi menyatakan, nuansa perpolitikan jelang Pilkada Kota Depok turut menarik perhatian masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada tingkat pengetahuan masyarakat mengenai program unggulan paslon dalam kontestasi Pilkada Kota Depok tahun 2020 yang relatif tinggi.

Yufitriadi menjelaskan, pihaknya telah melakukan survey dengan metode pengambilan data dalam studi melalui survey dengan enam buah pertanyaan sebagai instrumen pengambilan datanya. Yakni, di kecamatan mana responden tinggal/berdomisili, apakah responden mengetahui program unggulan paslon, paslon nomor urut berapakah yang selalu menyampaikan program unggulan secara massif, pasangan nomor urut berapakah yang program unggulannya paling relevan, pasangan nomor urut berapakah yang mengedepankan protokol kesehatan dalam berkampanye dan seandainya pelaksanaan pemungutan suara dilaksanakan hari ini dan siapakah pilihannya.

Dari survey tersebut diketahui bahwa mayoritas masyarakat mengetahui program unggulan paslon yang mengikuti Pilkada Kota Depok. Dengan hasil 88,1 persen mengaku tahu dan 11,9 persen masyarakat tidak tahu program unggulan paslon.

Kemudian, dalam aspek penyampaian program unggulan secara massif, Paslon Idris dan Imam lebih massif menyampaikan program unggulannya dibandingkan Pradi Supriatna dan Afifah Alia. Paslon Imam-Idris mendapatkan hasil 45,7 persen dan Paslon Pradi-Afifah 43,9 persen. Kemudian, terdapat sebanyak 10,4 persen responden yang menyatakan bahwa kedua pasangan calon sama-sama tidak menyampaikan program unggulan secara massif.

Selanjutnya, Paslon Idris-Imam juga unggul dari Paslon Pradi-Afifah pada survey dalam aspek program yang paling relevan. Sebanyak 47,3 persen responden menyatakan program Idris-Imam paling relevan dan 43,2 persen responden menilai Pradi-Afifah lebih unggul. Dan, 9,6 persen responden mengaku tidak tahu.

Kemudian, 45,3 persen responden menilai Idris-Imam lebih mengedepankan protokol kesehatan (prokes) dalam berkampanye dan 39,7 persen responden menyatakan Pradi-Afifah lebih mengedepankan prokes dan 14,9 persen mengaku tidak tahu.

Terakhir, jika Pilkada dilakukan pada rentang waktu 24 November 2020 sampai 4 Desember 2020, sebanyak 49,6 persen responden menyatakan akan memilih Pradi-Afifah. Sementara ada sebanyak 47,8 persen memilih Idris-Imam. Sebanyak 1,7 persen responden menyatakan tidak tahu dalam memilih dan 0,9 persen respon menyatakan tidak akan memilih paslon manapun.

Menurut Yufitriadi, berdasarkan hasil jawaban responden atas enam pertanyaan yang ditanyakan, dapat dilihat mengenai program unggulan yang paling massif, relevan dan elektabilitas paslon pada kontestasi Pilkada Kota Depok di mata publik.

Dia mengatakan, Pilkada di masa pandemi menjadi tantangan besar bagi paslon. Karena, akibat pandemi Covid 19, penurunan partisipasi pemilih masih terus menghantui jalannya Pilkadaml.nPaslon yang berkontestasi dalam Pilkada Kota Depok berlomba-lomba menarik simpati masyarakat dengan program unggulannya.

“Akan tetapi sangat disayangkan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui program unggulan pasangan calon yang sedang berkontestasi dalam Pilkada Kota Depok tahun 2020,” katanya, Senin (16/11).

Menurutnya, kurang masifnya pertarungan gagasan dalam bentuk program unggulan oleh paslon yang berkontestasi dalam Pilkada Kota Depok dibuktikan dengan masih adanya responden yang mengatakan bahwa paslon tak massif mengkampanyekan program
unggulannya. Padahal, menurut dia, program unggulan adalah wajah pasangan calon dalam membangun
Kota Depok menuju lebih baik.

Akibat kurang masifnya pasangan calon dalam mentransfer gagasannya dalam masa kampanye berakibat kepada ketidaktahuan masyarakat. Sehingga masih banyak masyarakat yang menyatakan bahwa program unggul pasangan calon tidak relevan dalam
menjawab tantangan Kota Depok.

“Ini dibuktikan dengan kurangnya program unggulan yang mengangkat potensi lokal masyarakat Kota Depok. Yang dengan program itulah program bisa relevan dengan kebutuhan potensi lokal,” katanya.

Selain itu, kata dia, potensi penularan covid19, terus menghantui jalannya Pilkada Kota Depok. “Bagaimana
tidak, pasangan calon masih belom mengoptimalkan protokol covid 19 dalam berkampanye. Ini dibuktikan dengan hasil 9,9 persen responden bahwa tidak ada pasangan calon yang mengedepankan protokol kesehatan dalam berkampanye,” ujarnya.

Berdasarkan hasil dari responden, elektabilitas Pradi Supriatna hampir seimbang atau lebih tinggi sedikit saja dibandingkan dengan lawan politiknya yakni Muhammad Idris dan untuk pasangan calon wakil wali kota Depok Imam Budi Hartono dan Afifah Alia.

“Akan tetapi,tentu hasil sampai saat ini hiruk pikuk kampanye terus digencarkan oleh pasangan calon ataupun koalisi partai untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas pasangan calon yang nantinya bisa dikonversi menjadi suara pemilih,” ujarnya.

Dia melanjutkan, saat ini kedua paslon masih berlomba-lomba berkampanye untuk meyakinkan pemilih. Terdapat banyak cara dan metode dalam menguatkan keberpihakan pemilih terhadap paslon tersebut.

“Apalagi perjalannya masih panjang, masih mempunyai banyak waktu untuk menguatkan figur, mendorong opini keberpihakan pemilih, serta meyakinkan pemilih,” tuturnya.(neo)

Related Articles

Back to top button