Neni Sedang Siapkan Sarapan Pagi, Gemuruh Banjir Bandang Menerjang

Neni Sulastri, korban banjir bandang Puncak, Bogor. Foto Arifal/Radar Bogor
Neni Sulastri, korban banjir bandang Puncak, Bogor. Foto Arifal/Radar Bogor

RADARBEKASI.ID, BOGOR-Neni Sulastri baru saja selesai masak. Ia pun menyajikan masakannya dalam piring pada Selasa (19/1/2021) pukul 09:00 WIB.

Ada oseng sayur dan telur. Dengan santai Neni membawa piring berisi lauk-pauk itu ke tengah rumah.


Sejurus kemudian, warga Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, ini memanggil anak-anaknya untuk makan.

Suap demi suap nasi Neni nikmati beserta sambal goangnya. Pun dengan anak-anaknya nampak lahap menyantap kudapan khas yang disajikan Neni pagi itu.


Hingga pada suatu suapan, suara gemuruh air terdengar. Bercampur dengan teriakan suara orang. “Keluar, keluar cai (air), cai,” ucap wanita berusia 37 tahun itu menirukan suara orang yang tengah berlarian.

Seketika itu juga Neni menoleh keluar rumah. Melihat banyak warga berlarian. Tidak pikir panjang, dia mengajak anak-anaknya keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka berusaha berlari.

Tak banyak yang ia bawa, hanya sedikit uang yang ada di saku. Pakaian abu-abu dengan hijab model langsung yang ia kenakan.

Masker juga belum sempat pakai. Pikiran Neni hanyalah menyelamatkan diri bersama dengan keluarganya. Ia pun berlari. Tak henti pula bibirnya bergumam. Mengucap kalimat tayyibah, istigfar.

“Ya Allah, astagfirullah, ya Allah,” ceritanya kepada radarbogor.id (radarbekasi.id group), Selasa (19/1/2021).

Lama berlari, nafasnya tersengal. Ia pun akhirnya behenti sejenak. Sembari melihat ke belakang. “Airnya cokelat. Banyak tanah dan lumpur. Ada batang pohon juga,” tutur Neni.

Tak lama ia pun tiba di pengungsian. Di sana ia diberikan masker gratis oleh petugas. “Iya ini masker dikasih petugas tadi,” ujarnya.

Neni menceritakan, banjir bandang tidak hanya sekali terjadi. Hujan yang mengguyur kawasan Puncak, Kabupaten Bogor sejak Senin (18/1/2021) malam sempat membuat banjir. Namun tidak sebesar dengan yang terjadi pada Selasa pagi.

“Malam sempat banjir juga. Tapi yang paling besar pagi ini,” katanya. Ia pun mengaku cukup trauma. Namun Neni hanya bisa pasrah. Wanita yang berprofesi sebagai pemetik teh itu hanya bisa berdoa dan meminta pertolongan dari Allah semata.

“Saya hanya bisa pasrah. Semoga tidak terjadi banjir bandang lagi,” katanya. (all/rbg)