BekasiBerita Utama

Waspada Potensi Banjir

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat Bekasi diminta untuk waspada mengahadapi cuaca ekstim akhir-akhir ini. Potensi banjir bisa saja terjadi mengingat curah hujan yang tinggai di sejumlah wilahan di Jakarta Bogor Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) beberapa hari terakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Agus Harpa Senjaya mengatakan pihaknya telah mempersiapkan penanggulangan dan mitigasi bencana sejak memasuki musim penghujan. Tenda darurat, perahu, serta petugas telah ditempatkan 12 kecamatan di Kota Bekasi.

Terkait dengan peringatan yang dikeluarkan oleh BMKG, ia meminta kepada masyarakat untuk waspada terhadap kondisi cuaca yang setiap saat dapat berubah.”BPBD kota Bekasi sudah menempatkan perahu dan mendirikan tenda di 12 kecamatan, Satgasnya pun sudah pemantapan serta pemantauan setiap hari kondisi cuaca di 12 kecamatan,” ungkapnya.

Stasiun Klimatologi Bogor menyampaikan hasil analisis dinamika atmosfer pertumbuhan awan hujan pada saat kejadian dipicu oleh labilnya kondisi atmosfer, serta anomali suhu permukaan laut yang masih hangat, ditambah perlambatan angin.

“Terdapatnya daerah perlambatan angin yang melewati wilayah Jawa Barat, sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa Barat,” terang Kepala Stasiun Klimatologi Bogor, Abdul Mutholib, Selasa (19/1).

Ia mengingatkan, Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrim yang akan berlangsung selama tiga jam untuk wilayah Jawa Barat, khususnya Jabodetabek. Potensi terjadinya banjir bandang ini lantaran kurun waktu Januari hingga Februari tahun ini, yang telah diprediksi Wilayah Jawa Barat akan mengalami puncak musim hujan.

Masyarakat diminta untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrim, seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir, serta angin kencang, puting beliung, maupun hujan ringan hingga sedang yang berlangsung secata terus menerus.”Proses cuaca tiga hari kedepan, potensi hujan sedang hingga lebat masih terdeteksi di wilayah Perkebunan Teh Gunung Mas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Desiminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko membenarkan bahwa puncak musim hujan di wilayah Jawa Barat terjadi pada bulan Januari hingga Februari, situasi ini telah diprediksi sejak bulan Oktober tahun lalu. Tidak stabilnya dinamika atmosfer dalam beberapa hari kedepan disebabkan oleh menguatnya angin Monsun Asia, yang ditandai dengan semakin menguatnya aliran angin lintas ekuator di selat Karimata.

Ditambah dengan kuatnya pengaruh gelombang atmosfer ekuatorial tropis Madden Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby yang saat ini aktif di wilayah Indonesia.”Saat ini tercatat sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu 94 persen dari 342 zona musim telah memasuki musim hujan,” terangnya.

Mulai tanggal 18 hingga 24 Januari mendatang, potensi cuaca ekstrim diprediksi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat. Cuaca ekstrim ini sangat berpotensi menimbulkan dampak bencana seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang membahayakan masyarakat.

Hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan gelombang tinggi berpotensi membahayakan pelayaran dan penerbangan. Upaya mitigasi bencana BMKG, informasi potensi banjir disampaikan dalam kategori menengah hingga tinggi selama 10 hari kedepan.

Potensi ini terjadi pada beberapa daerah pada sepuluh hari ke tiga bulan Januari, salah satunya Jawa Barat. “Untuk itu, BMKG terus meminta masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus mewaspadai potensi cuaca ekstrim yang cenderung meningkat dalam periode puncak musim hujan ini,” tukasnya. (Sur)

Related Articles

Back to top button