BekasiBerita Utama

Sebelas Kelurahan Waspada Banjir

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Bulan Januari hingga Februari mendatang diprediksi menjadi puncak musim penghujan. Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk waspada menghadapi bencana banjir selama 10 hari kedepan sejak 19 Januari lalu.

Potensi bencana alam yang harus diwaspadai menurut keterangan BMKG diantaranya banjir, longsor, dan banjir bandang. Meskipun, hingga saat ini pantauan Tinggi Muka Air (TMA) di hulu sungai Cikeas, Cileungsi, dan Kali Bekasi masih terpantau normal.

“Alhamdulillah masih normal, BPBD selalu memantau kondisi TMA di hulu Cileungsi dan Cikeas,” terang Kasi Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD Kota Bekasi, Suhendra.

Kemarin, hujan dengan intensitas ringan hingga deras mengguyur wilayah Kota Bekasi. Dia juga mencatat, ada sebelas kelurahan di Kota Bekasi untuk waspada banjir saat musim penghujan seperti saat ini. Kendati demikian, pihaknya sudah melakukan antisipasi.

Tercatat genangan air di lima wilayah kecamatan saat hujan pada kamisi kemarin. Setidaknya ada lima ruas jalan di Kota Bekasi tergenang air, akibat saluran air di ruas jalan tersendat, tidak mengalir lancar. Sementara itu, ada 3 lingkungan permukiman warga tergenang air, ketinggian bervariasi mulai dari 30 sampai 50 cm, juga disebabkan aliran air tersendat.”Penyebab drainase tidak berjalan lancar dan pompa air mati,” tambahnya.

Menindak lanjuti genangan air di berbagai titik ini, BPBD Kota Bekasi disebut telah berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA). Tindakan yang perlu dilakukan yakni dengan mengatasi genangan air dengan mengevakuasi pohon dan bambu yang menghalangi aliran air.

Sejauh ini wilayah rawan banjir ada di lingkungan permukiman yang berdekatan dengan aliran Kali Bekasi. Diantaranya ada enam kecamatan dan 11 kelurahan. Pihaknya meminta kepada warga yang tinggal di wilayah tersebut tetap waspada terhadap cuaca ekstrim yang mungkin terjadi di musim penghujan.”Himbauan tetap waspada adanya cuaca ekstrim pada musim penghujan ini, BPBD terus melakukan monitoring di 12 Kecamatan,” tukasnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) pada dinas BMSDA, Zainal Abidinsyah melaporkan ada beberapa genangan di jalan nasional pagi hingga menjelang siang. Salah satunya adalah jalan utama, Jalan Ahmad Yani.

Pantauan Radar Bekasi, genangan air di jalan utama Kota Bekasi ini sempat memicu kemacetan panjang dari berbagai arah, mulai dari arah Kawasan Summarecon, hingga dari kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Ruas jalan lainnya yakni Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Ir H Juanda.”Tadi di Juanda itu ada bongkahan (pohon) jatuh ke saluran jadi macet. Sudah lancar sekarang, ini teman-teman lagi mompa yang di depan Giant (Jalan Ahmad Yani),” katanya.

Untuk mengantisipasi genangan di ruas-ruas jalan Kota Bekasi, pihaknya telah mengerahkan tim pematusan untuk membersihkan saluran air, serta mobil pompa untuk membuang air dari badan jalan. Hambatan pada saluran air menjadi catatan BMSDA saat awal memasuki musim penghujan.
“Tali airnya banyak nih kayanya, jadi lambat,” ungkapnya.

Situasi TMA masih terpantau normal, ketinggian muka air di sungaj Cileungsi kemarin tercatat paling tinggi 85 cm, Cikeas 100 cm, dan pertemuan kali Cikeas dan Cileungsi atau hulu Kali Bekasi 300 cm. Intensitas hujan di wilayah hulu sampai dengan saat ini masih ringan cenderung sedang.

“Rata-rata hujan sekarang hanya hujan sesaat (paling lama 30 menit), intensitasnya ringan dan sedang, belum ada yang lebat,” terang Ketua Komunitas Peduli Sungai Cikeas dan Cileungsi (KP2C), Puarman.

Hujan dengan intensitas tinggi dan lama dikhawatirkan jika terjadi di hulu sungai Cileungsi dan Cikeas. Masyarakat di sepanjang aliran Kali Bekasi memiliki waktu enam jam sejak informasi TMA dan peringatan dari KP2C diterima oleh masyarakat.

Meskipun puncak musim hujan seperti yang telah dihimbau oleh BMKG belum terjadi hingga saat ini. Namun, masyarakat tetap diminta untuk waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi.

“Masyarakat masih trauma akibat banjir besar yang terjadi bulan Januari dan Oktober 2020, mereka akan khawatir saat hujan terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Yang paling ditakutkan itu, di hilirnya nggak kenapa-kenapa, tapi di hulunya lebat,” tukasnya. (Sur)

Related Articles

Back to top button