Bekasi

Perbaikan Rumah Belum Jelas

Korban Banjir Pebayuran Kabupaten Bekasi

TENDA PENGUNGSIAN : Dua orang anak berada di tenda pengungsian warga yang dibangun di bantaran sungai Citarum Kampung Babakan Banten Desa Sumbersari Pebayuran, Kamis (4/3)..ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Puluhan warga Kampung Babakan Banten RT 05/03, Desa Sumberurip, Kecamatan Pebayuran, belum mendapat kepastian kapan rumahnya akan di bangun atau diperbaiki, setelah hanyut terbawa banjir pada Minggu (21/2) dini hari lalu.

Kini, warga yang kehilangan rumahnya harus menetap gedung MTS Darusada, yang berada tidak jauh dari posisi rumahnya. Kondisi ruangan yang tidak terlalu besar itu harus di isi oleh lima Kepala Keluarga, sebanyak 15 orang. Selama 12 hari belakangan, puluhan warga ini harus tidur berdesakan.

Sambil menatap kearah posisi rumah yang sudah rata dengan tanah, mereka sangat berharap pembangunan rumah segera dilakukan. Pasalnya, selama rumahnya hanyut, warga tidak bisa mencari uang, karena semua peralatan untuk mencari nafkah ikut terbawa arus, bersama barang-barang lainnya.

Dari informasi yang Radar Bekasi dapatkan dilokasi pengungsian, sebanyak 24 rumah hanyut, dan 55 rumah lainnya mengalami rusak sedang dan parah. Sampai saat ini, warga yang kehilangan rumah itu belum mendapat kepastian kapan proses pembangunan akan dilakukan.

Salah satu warga yang kehilangan rumahnya, Eti (30) mengaku, sampai saat belum ada kepastian rumahnya akan diperbaiki. Selama ini hanya sebatas diminta tanda tangan untuk membuat Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Kata dia, ada lima Kepala Keluarga yang tinggal gedung MTS Darusada. Sejauh ini, warga yang tinggal di MTS itu sudah 12 hari, setelah sebelumnya tiga hari ngungsi di tanggul, karena masih terendam banjir. “Satu ruang kelas di tiduri 15 orang, tidurnya ngampar saja gelar kasur. Selama belum diperbaiki, ya tinggal disini aja,” tuturnya.

Dia mengaku, selama tinggal di MTS ini warga tidak ada yang memasak, mengingat tidak ada alat-alat untuk memasak. Untuk makan sehari-hari, dikirim oleh pihak desa, karena memang masih mendirikan dapur umum. Hanya saja, warga yang mengungsi ini kesulitan air bersih.”Mandi, mencuci, dan buang air besar susah. Sejauh ini, numpang-numpang di rumah tetangga.

Selama rumah warga hanyut, kata Eti, tidak ada yang usaha (mencari duit). Pasalnya, alat-alat yang biasa digunakan untuk berjualan tidak ada. Karena memang, rata-rata pengungsi sehari-harinya berjualan. Oleh karena itu, dirinya berharap, agar proses pembangunan rumahnya segera dilakukan.

“Kami berharap agar cepat-cepat di bangun, karena memang sudah mau memasuki bulan puasa Ramadhan. Intinya kita ingin punya rumah lagi, karena kaya gini enggak enak,” tukasnya.

Warga lainnya, Arman mengungkapkan, sejauh ini dirinya baru menerima simbolis berupa buku tabungan BJB, yang diberikan di kantor kecamatan Pebayuran. Namun demikian, belum dipastikan besaran anggaran yang akan diberikan kepada warga. Untuk sekarang, keluarganya tinggal di rumah anak.

“Di buku tabungan itu enggak ada besaran anggarannya. Tapi informasinya buat pencarian. Sekarang saya tinggal di rumah anak, kalau siang saya ke lokasi ke rumah, takut ada panggilan,” ucapnya.

Sebagai penjual bakso keliling, dirinya mengaku, sampai saat ini belum bisa berjualan. Karena gerobak untuk berjualan terbawa arus. Kata dia, warga yang terdampak banjir masih resah, mengingat belum ada kepastian mengenai pembangunan rumah. “Kami sudah resah, karena belum ada kepastian mengenai pembangunan rumah. Saya enam orang satu rumah,” bebernya.

Terpisah, Camat Pebayuran, Hanief Zulkifli mengatakan, bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Sosial, maupun yang lainnya belum ada kepastian. Saat ini, baru anggaran dari Pemerintah Kabupaten Bekasi saja yang sudah siap dianggarkan untuk perbaikan rumah warga.

“Sampai saat ini belum ada kejelasan bantuan dari Pemprov dan Kemensos. Tapi, Pa Bupati mau menganggarkan untuk perbaikan rumah warga melalui program Rutilahu. Setiap rumah akan diberikan Rp 20 juta,” jelasnya. (*)

Related Articles

Back to top button