Ramadan

Pengrajin Dodol Betawi Rasakan Berkah Ramadan

Pesanan Melonjak, Pembeli hingga Luar Daerah

MENINGKAT : Pekerja mengaduk dodol di Desa Sukajaya Cibitung Kabupaten Bekasi. Bulan Ramadan 1442 Hijriah permintaan dodol meningkat 80 persen.ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Berbagai aneka kue banyak diburu selama Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Tak heran jika jumlah produksi harian para pengrajin kue meningkat. Seperti pengrajin kue dodol khas Betawi di bilangan Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung Kabupaten Bekasi.

Ibu Hj Dobleh itu nama yang akrab disapa masyarakat sekitar. Ia adalah salah satu pemilik rumah produksi olahan kue dodol khas Betawi di Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung. Usaha itu turun termurun dari orang tuanya H. Inal (Ma Nadih).

Usaha yang diberi anam ”Empat Sodara” ini mempekerjakan 14 karyawan untuk menunjang aktivitas produksi. Apalagi selama Ramadan ini, ia selalu kebanjiran order. Pemesan dari dalam hingga luar kota. Untuk meningkatkan jumlah produksi selama Ramadan, ia juga menambah pekerja di bagian packing hingga total ada 20 karyawan yang ia miliki.

“Sebelumnya sih kita hanya memproduksi kebutuhan orang yang hajatan (pesta pernikahan) saja. Karena di bulan Ramadan ini banyak yang pesan juga, maka kita produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dodol di Bekasi dan luar Bekasi,” katanya.

Dodol yang diproduksi oleh Bu Dobleh juga memiliki varian warna hingga rasa. Ada dodol merah, hitam, dodol duren, dodol ijo dan wijen.Ia bersyukur selama Ramadan ini bahan baku tidak melonjak tinggi, sehingga tak terbebani biaya produksi.

“Saya perkirakan ada kenaikan penjualan mencapai 80 persen. Karena setiap hari kita produksi dodol sampai 75 kilogram seharinya,” ucapnya.

Dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, jumlah produksi ada peningkatan di tahun tahun ini. Ia sudahmenambah jumlah produksi dari 65 kilogram menjadi 75 kilogram dalam sehari. Dirinya juga berhadap pemesan dodol akan bertambah dan bertahan hingga akhir Ramadan. Ia menjelaskan untuk harganya pun terjangkau perkilo Rp35 hingga Rp 45 ribu.

“Saya harap produksi dodol terus bertambah. Dan karyawan saya bisa mendapatkan nilai ekonomi untuk keluarganya. Semoga terus meningkat ya produksinya,” pungkasnya. (*)

 

Related Articles

Back to top button