Opini

Iman, Imun dan Masker

Oleh: Saiful Bahri (Dosen Fidkom UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

Saiful Bahri, dosen Fidkom UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Peristiwa pelarangan jemaah memakai masker saat shalat di Masjid Al Amanah, Medan Satria, Kota Bekasi menghentak publik. Viral di media sosial, ramai diberitakan media nasional. Sampai-sampai seorang juru bicara Wakil Presiden ikut menanggapi.

Sempat sampai di kepolisian, kasusnya kini dianggap selesai. Ketua DKM Masjid Al Amanah dan korban sepakat damai usai ditengahi Kapolsek Medan Satria, Kota Bekasi pada 27 April 2021.

Menarik dikaji soal alasan pelarangannya. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah beralasan masjid adalah rumah suci yang dilindungi Allah SWT. Perbanyak saja doa.

Ada pandangan membasmi Covid-19 bukan dengan masker, melainkan dengan kekuatan doa. Iman akan memunculkan imun penghambat corona. Jadi tak perlu bermasker.

Penjelasan itu tidak sepenuhnya salah. Tapi cenderung bisa menyesatkan jika tak dielaborasi lebih detail. Ada kekhawatiran, di tengah apatisme dan kebosanan publik menghadapi pandemi corona sejak Maret 2020, hal itu makin mengendorkan penerapan protokol kesehatan di masyarakat, khususnya di Kota Bekasi.
Upaya Pemkot Bekasi beberapa kali memperpanjang Surat Keputusan (SK) tenang Adaptasi Tatanan Hidup Baru (ATHB) Masyarakat Produktif Aman Corona Virus Disease 2019 dipastikan bakal menjadi sia-sia.

Iman, Imun dan Aman

Menurut syara’ dalam Ensiklopedia Iman (2016) karya Syaikh Abdul Majid Az-Zandani mengartikan iman adalah tashdiq (mempercayai) sebagaimana makna linguistiknya. Melansir dari beberapa sumber, ada pula ulama yang berpendapat, iman adalah keyakinan yang terbentuk di dalam hati.
Merujuk pada Hadits Riwayat Muslim, sabda Rasullullah SAW yang berkaitan dengan pengertian iman, terdapat enam rukun Iman yang harus diyakini umat Islam.

Sementara imunitas atau yang biasa kita sebut imun merupakan mekanisme dari sejumlah sel, molekul, dan organ yang secara bersama-sama aktif dalam mempertahankan tubuh dari berbagai serangan benda asing yang menimbulkan penyakit dan merugikan tubuh. Seperti virus bakteri atau jamur.

Dalam kajian Psikologi, ada cabang ilmu Psikoneuroimunologi. Ini adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara perilaku, kerja syaraf, fungsi endokrin dan proses kekebalan tubuh (Ader dan Cohen, 1993).

Psikoneuroimunologi menjelaskan bagaimana jiwa “menyembuhkan” tubuh? Bagaimana jiwa, sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh saling berkorelasi menjaga kesehatan individu? Penelitian ini menunjukkan sistem kekebalan tubuh kita rupanya juga ditentukan oleh status emosi.

Rajin beribadah seperti shalat dan puasa Ramadahan bagian dari rumus mempertebal keimanan. Dan keimanan membuat hati tenang. Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenang.” (QS ar-Ra’d: 28).

Maka, ibadah selain bisa mendekatkan diri kepada Tuhan juga sebagai cara meningkatkan imunitas tubuh dan dapat mengendalikan penyakit.

Namun Iman dan Imun tak cukup menghambat laju pandemi corona. Harus ditambah dengan satu kata yakni aman. Satgas Covid-19 jauh hari mensosialisasikan tiga konsep yakni iman, imun dan aman.

Aman dimaksudkan kepatuhan masyarakat kepada protokol kesehatan 3M; Memakai masker yang benar, menjaga jarak dan jauhi kerumunan dan mencucui tangan pakai sabun. Aman adalah ikhtiar lahiriyah menangkal virus corona.

Jadi menggunakan masker adalah upaya mencegah penularan dari yang sudah terinfeksi. Masker bisa memblokade partikel sarat virus yang mungkin dipancarkan oleh orang yang terinfeksi Covid-19.
Maka kurang tepat, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah hanya mengandalkan iman dan imun, tapi menafikan aman untuk mencegah virus yang hingga kini masih merajalela.

Salat Pakai Masker

Ada juga sebagian masyarakat yang beranggapan bermasker saat salat bisa membatalkan salat.

Ini berdasarkan hadis yang riwayat Imam Abud Daud dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, ia berkata” Rasulullah SAW melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.

Hadist itu benar adanya. Namun itu berlaku dalam kondisi normal dan tidak ada kebutuhan atau sebab yang mengharuskan kita menutupi mulut.

Apalagi alasannya sekadar modis, pamer, atau gegayaan. Jika ada kondisi atau sebab yang mengharuskan kita untuk menutup mulut, maka hal itu diperbolehkan.

Kita bisa mengembalikan kesimpulan ini pada kaidah-kaidah ushul fiqih yang menjadi landasan penarikan kesimpulan hukum dalam kaidah ushul fiqih : Ada tidaknya suatu hukum itu tergantung ‘illat (sebab/alasannya).

Hukum makan daging babi adalah haram, misalnya. Tetapi kalau kita sedang berada di hutan dan tidak menjumpai makanan lain kecuali babi, dan jika kita tidak makan babi itu kita akan mati, maka hukum babi menjadi halal.

Di sini, ‘illat-nya adalah kita akan mati kalau tidak makan babi itu. Dalam kondisi ini, hukum haram babi menjadi hilang, berganti menjadi halal. Ini juga sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor 24 tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan ibadah bulan Ramadan dan Syawal 1442.

Tanggungjawab Bersama

Angka kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Bekasi terus menunjukkan tren kenaikan dari pekan ke pekan. Pekan ini angka kesembuhannya mencapai 97.84 persen atau naik 0.3 persen dari pekan lalu.

Kenaikan angka kesembuhan itu juga dibarengi angka kematian yang cenderung stabil dan tidak mengalami peningkatan yakni di 1,28 persen sementara 0,88 persen sisanya merupakan kasus aktif saat ini.

Zona oranye penyebaran kasus Covid-19 di Kota Bekasi juga hanya menyisakan dua persen saja sedangkan 98 persen lainnya sudah masuk ke dalam kategori zona hijau.

Menekan dan memutus mata rantai corona bukan hanya tugas Satgas Covid-19 semata. Semua pihak bertanggungjawab menekan laju corona yang meluluntahkan ekonomi Indonesia, termasuk ulama.

Ulama termasuk pengurus DKM masjid memiliki tanggung jawab memberikan edukasi kepada masyarakat bersama-sama mematuhi anjuran pemerintah. Dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan umat, ulama punya peran penting menyelamatkan umatnya. Salah menafsirkan pandangan agama tentang corona, tidak hanya berakibat pada menambahnya kasus corona, namun mencederai agama itu sendiri. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button