Berita UtamaPendidikan

Sarana Pendukung Blended Learning Memadai

ILUSTRASI: Guru SDN Jatimakmur V Kota Bekasi saat melaksanakan proses pembelajaran tatap muka. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah guru di sekolah telah menerapkan blended learning atau metode pembelajaran yang menggabungkan daring dan luar jaringan (luring) selama Adaptasi Tatanan Hidup Baru Satuan Pendidikan (ATHB-SP). Hingga kini, tak ada masalah dalam penerapannya lantaran sarana pendukung yang memadai.

Guru SDN Kota Baru IX Kota Bekasi Nugraheni Rachmawati mengatakan, blended learning menjadi pilihan selama ATHB-SP berlangsung di sekolahnya.

“Blended Learning menjadi alternatif selama ATHB di SDN Kota Baru IX, kami menggunakan metode Combine Office 365,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Kamis (6/5).

Menurutnya, para guru telah berikan pelatihan pemanfaatan Office 365 oleh microsoft. Para guru menggunakan aplikasi sway untuk pengembangan materi dan evaluasi baik secara daring ataupun luring.

Metode ini diberikan agar proses pembelajaran secara daring maupun luring mendapatkan perlakukan yang sama. Dalam blended learning, guru tidak lagi harus mengajar dua kali.

“Untuk pengumpulan tugas semua menggunakan one drive baik luring maupun daring, kami melakukan pembelajaran secara bersamaan. Tetapi jika sinyal agak mandek-mandek alternatifnya ya menggunakan metode pembelajaran sway itu,” jelasnya.

Sebagai sarana pendukung, pihak sekolah menambah kuota internet dengan kecepatan 30 mbps. Hal senada disampaikan Wakil Kepala SMPN 29 Kota Bekasi Bidang Humas Nining. Ia mengungkapkan, blended learning menjadi salah satu solusi pelaksanaan ATHB-SP.

“Adanya ATHB-SP ini pasti perlu adanya kombinasi, nah salah satunya adalah blended learning ini,” ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur, sekolah tempatnya mengajar memiliki sarana yang memadai untuk penerapan blended learning. Seperti proyektor, zoom premium dan laptop.

“Alhamdulillah sebagai sarana pendukung sekolah sudah menyiapkan hal tersebut. Jadi tinggal memaksimalkan saja,” ucapnya.

“Jika saran nya sudah ada, maka kita harus membuat metode pembelajaran yang bisa disampaikan baik secara daring maupun luring. Agar pekerjaaan kita sebagai guru tidak dilakukan dua kali,” tukasnya. (dew)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button