BEKACITIZEN

The Power Of Ramadan Values, What Next After Ramadan ?

Oleh : Assoc Prof. T.S. Reza 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Bulan penuh rahmat, bulan bernilai seribu bulan dan bulan Behaviour Training Super Camp yang langsung di monitor oleh Allah SWT sendiri, sesuai hadist dari Rasulullah SAW “ Puasa Ramadhan itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan membalas (pahala) nya”, (begitu lebih kurang arti dalam bahasa Indonesia ) baru saja berakhir, lalu What Next ?

Apakah setelah ramadhan berlalu proses Behavior Training telah berakhir ? sebagian orang menganggap “bulan pengekangan hawa nafsu“ telah berlalu, Artinya “ Kehidupan Normal” telah kembali ! Suatu pemahaman yang paradox, boleh di katakan hampir setiap tahun, situasi seperti ini sering berulang. Ada yang salah pada diri sebagian muslimin tentang makna puasa ramadhan serta apa maksud dan tujuannya.

Ramadhan Bukan Bulan Biasa

Bulan Ramadhan bukan bulan biasa, Ramadhan adalah “ BOS” semua bulan, sama dengan hari jum’at, merupakan “BOS” semua hari, begitu juga dini hari (Tahajud Time) merupakan “BOS” nya setiap hari. Begitu hebat dan dahsyatnya bulan Ramadhan sehingga siapa saja yang berpuasa pada bulan ini semata-mata untuk tunduk patuh mencari Ridho-Nya, maka ganjarannya tak tanggung-tanggung, Syurga Firdaus, pelakuknya “disuci” kan semua dosa hingga laksana bayi baru lahir.

Adakah bulan lain yang ganjaran (reward) Nya sehebat seperti bulan Ramadhan ?, sudah pasti jawabannya tidak ada !, itu sebab diakhir ramaradhan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita agar berdoa memohon diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan ramadhan ini di tahun berikutnya.

Kembali pada pertanyaan awal apakah behavior training sudah berakhir ? What Next?, Justru pembuktian apakah Training Super Camp Ramadhan telah berhasil atau tidak dimulai dari 1 Syawal. Setelah ramadhan kita akan melihat dan  mengetahui adakah puasa kita dan semua amalan di bulan suci itu “berbekas” dalam perilaku kehidupan setelah bulan ramadhan ?, Jangan-jangan belum satu bulan atau pekan perilaku kita di bulan ramadhan “sudah raib” bahkan di pekan dan bulan pertama selepas ramadhan, janganlah di tanya lagi bulan-bulan berikutnya.

Ada yang salah dengan perikaku yang  berulang atau balik ke “kehidupan normal (Normal Life) ” setelah menjalani “ Tarining Behavior” satu bulan penuh itu kalau tidak membuat kita kaum muslimin mendapatkan Insight “New Normal Life”. Makna new normal life, bukan hanya  berlaku di masa covid-19 Pandemi atau setelahnya, namun seharusnya juga setiap berakhir ramadhan selalu ada peningkatan dalam kehidupan spiritual dan sosial kita, bahkan harus meningkat dari tahun ke tahun, apabila kita tidak tergolong orang-orang yang rugi yaitu yang hari kemarin tahun kemarin sama saja dengan hari atau tahun ini

The Power Of Ramadhan Values

Kekuatan utama orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan, adalah kesabaran. Ternyata sabar merupakan suatu kekuatan yang dahsyat, sabar merupakan suatu kata luar biasa. Begitu hebatnya sikap sabat ini sehingga Allah SWT sendiri berfirman “ Sesungguhnya Aku (Allah) bersama orang-orang yang sabar”

Benarkan sabar itu berarti pasif, terima keadaan apapun, pasrah begitu?. Ternyata makna sabar adalah kalimat sikap aktif, bukan nerima apa adanya (pasrah), lalu apa makna sabar yang sesungguhnya sehingga dipahami sebagai “Activation”

Menurut Arvan Prodiansyah dalam buku “ The 7 law of happiness(2008 : 152-175), ada 7 makna sabar yang sesungguhnya.

Pertama, sabar berarti menunda respon untuk beberapa saat atau waktu sehingga pikiran benar-benar tenang atas sesuatu yang mempengaruhi emosi kita, Kedua, menyatukan badan dan pikiran di suatu tempat  jadi jangan sampai berpikir “loncat-loncat”, yang satu belum tuntas sudah loncat ke hal yang lain lagi. Ketiga, berupaya keras untuk terus memperjuangkan suatu cita-cita dengan istiqomah. Keempat, melakukan suatu hal di satu waktu, artinya jangan kita makan sambil membalas whatsap misalnya atau mendengar curhat staf sambil bermain bilyar. Kelima, menikmati proses tanpa menunggu hasil akhir, Keenam, menyesuaikan tempo kita dengan tempo orang lain. Ketujuh, menyesuaikan diri dengan hukum alam.

Jadi mari kita buktikan apakah amalan puasa di bulan ramadhan kemarin benar telah berhasil atau memberi Imfact pada perilaku kita ?. pembuktiannya kita lihat mulai dari bulan syawal hingga ke bulan sya’ban yang akan datang, Semoga Allah SWT memberi kesempatan berikutnya setelah ramadhan yang baru saja meninggalkan kita. (*)

Institut Stiami, Jakarta

Related Articles

Back to top button