
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Mayoritas perguruan tinggi swasta siap melaksanakan perkuliah tatap muka pada masa pandemi Covid-19 dengan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Namun terkait dimulainya pelaksanaan, masih menunggu arahan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV.
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah IV Makmur Heri Santoso mengatakan, seluruh perguruan tinggi swasta ingin memulai perkuliahan tatap muka.
Berdasarkan kunjungan yang dilakukan oleh APTISI, perguruan tinggi swasta telah mempersiapkan protokol prokes. “Semua sudah memiliki keinginan untuk PTM (Pembelajaran Tatap Muka), berbagai kesiapan juga sudah dilakukan. Namun kembali lagi vaksin sebagai salah satu syarat diizinkannya PTM, mungkin masih menjadi salah satu kendala,” ujar Makmur kepada Radar Bekasi, Rabu (2/6).
Vaksin bagi dosen, staf, dan mahasiswa menjadi syarat perguruan tinggi untuk bisa melaksanakan perkuliahan tatap muka. Menurutnya, secara persentase perguruan tinggi swasta yang telah siap melaksanakan kuliah tatap muka di atas 50 persen.
“Saya kira sudah 60 persen perguruan tinggi sudah siap, tapi kesiapan secara menyeluruhnya dikembalikan lagi kepada masing-masing perguruan tinggi,” pungkasnya.
Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) MPD Bekasi Raya Wawan Hermansyah menambahkan, bahwa regulasi pembukaan kuliah masih berpegangan pada protokol kesehatan.
“Masih berpegangan oleh prokes itu, yang dimana semua kesiapan itu diserahkan oleh perguruan tinggi masing-masing,” tuturnya.
Menurutnya, saat ini penerimaan mahasiswa mengalami penurunan hampir 30 persen – 40 persen. Maka, jumlah siswa di dalam kelas tentu akan berkurang. Oleh karena itu, secara otomatis salah satu syarat jumlah mahasiswa hadir akan sesuai dengan prokes yang dianjurkan.
“Kalo masalah jumlah mahasiswa di kelas, saya rasa sudah dapat dikondisikan. Karena hampir rata-rata perguruan tinggi memiliki penurunan jumlah mahasiswa 30 persen – 40 persen,” ucapnya.
Vaksinasi bagi warga di lingkungan perguruan tinggi harus dipenuhi sebagai syarat perkuliahan tatap muka. Berdasarkan data ADI, hanya 30 persen dosen sudah divaksin melalui APTISI.
“Kebanyakan dosen di Kota Bekasi vaksin secara mandiri. Tidak semua melalui APTISI, kita jadi tidak bisa kontrol juga berapa banyak yang sudah divaksin. Mungkin ini jadi salah satu masukan untuk melakukan pendataan secara menyeluruh. Mana dosen yang sudah di vaksin dan yang belum divaksin,” tuturnya.
Menurutnya, Kota Bekasi sudah siap untuk melaksanakan kuliah tatap muka. Namun yang perlu diingatkan kembali ialah mengenai proses vaksin yang harus dilakukan secara menyeluruh baik kepada dosen, staf maupun mahasiswa.
“Saya rasa sudah banyak perguruan tinggi yang sudah siap PTM, tapi kembali lagi pada persiapan secara menyeluruh dari proses vaksinasi ini yang harus diperhatikan,” katanya.
Rektor Universitas Bina Insani Indra Muis mengungkapkan, bahwa kesiapan perkuliahan tatap muka yang dilakukan oleh pihaknya sudah memasuki angka 100 persen.
“Jika ditanya kesiapan prokes, kami sudah 100 persen,” tukasnya. (dew)











