Bekasi

1.891 Siswa Dekat Sekolah Gugur

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ribuan siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah terpaksa gugur. Padahal, Pemerintah melalui Dinas Pendidikan (Disdik) dan satuan pendidikan telah memberikan Petunjuk Teknis (Juknis) ke setiap siswa atau orang tua wali menjelang pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) daring tahun ini. Namun, banyak siswa yang memilih daftar di jalur dengan jumlah kuota kecil.

Hingga hari ke empat pelaksanaan PPDB daring kemarin, tercatat pendaftar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri di Kota dan Kabupaten Bekasi mencapai 7.099 siswa. Pada tingkat SMK, pendaftar terbesar ada di jalur prioritas jarak terdekat, mencapai angka 3.093 pendaftar. Padahal, kuota untuk jalur ini hanya 10 persen dari total bangku yang tersedia, maka 1.891 siswa terdekat dari sekolah yang memilih jalur ini terpaksa gugur.

Sementara untuk tingkat SMA, jumlah pendaftar terbesar ada di jalur prestasi, baik nilai rapor maupun kejuaraan, mencapai 6.706 pendaftar. Jalur ini menyediakan kuota 25 persen dari total kursi yang tersedia, jalur zonasi untuk SMAN dibuka pada PPDB tahap 2 akhir Juni mendatang.

Disamping fenomena dominasi jalur prioritas sebagai pilihan saat mendaftar, beberapa siswa juga mempertanyakan sistim yang dinilai tidak realtime memperlihatkan data pendaftar pada tiap sekolah. Bahkan hingga kemarin, masih ada beberapa sekolah yang belum sama sekali menampilkan data pendaftar di semua jalur.

Pengamat Pendidikan dari Komnas Pendidikan, Andreas Tambah menilai jalur prioritas terdekat paling banyak dipilih lantaran sekolah di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi berada di wilayah padat, ditambah dengan jumlah sekolah yang relatif sedikit.”Memang untuk di daerah padat jangan disamakan dengan daerah longgar, kalau di daerah padat pasti terjadinya seperti itu, terjadi penumpukan,” katanya.

Selain faktor kepadatan penduduk, ia menilai orang tua siswa dituntut cerdik untuk memilih jalur pendaftaran ke sekolah negeri. Disamping sekolah asal dibutuhkan perannya untuk mengingatkan peserta didik.

Andreas juga menjelaskan adanya perubahan mekanisme pendaftaran dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yakni verifikasi. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, nama calon peserta didik segera muncul di laman website PPDB daring sesaat setelah mendaftar, namun tidak dengan tahun ini.

Ia menekankan proses sosialisasi oleh Disdik provinsi maupun sekolah asal kepada siswa dan orang tua, meskipun disadari pada masa pandemi ini sosialisasi secara tatap muka sulit dilakukan. Sekolah diminta untuk tidak berhenti memberikan informasi setelah mengirim Juknis kepada masing-masing siswa.

“Sekarang ada verifikasi, seharusnya perbedaan itu ditekankan terus ya, di juknis itu mungkin diingatkan kembali – diingatkan kembali,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Andreas terjadi juga di wilayah DKI Jakarta, sebagian besar siswa maupun orang tua tidak mengetahui perbedaan PPDB tahun ini dengan yang sebelumnya. Keterangan proses verifikasi dalam Juknis atau pada saat sosialisasi tidak dimengerti secara utuh oleh orang tua maupun siswa.

Masyarakat diminta untuk memaksimalkan kuota yang tersedia pada tiap jalur, baik SMAN maupun SMKN.

Sebelumnya, Kepala Disdik Provinsi Jawa Barat, Dedi Supandi kepada Radar Bekasi menyampaikan bahwa diperlukan verifikasi operator sekolah tujuan setelah siswa mendaftar online. Hasil dari verifikasi tersebut, siswa akan mendapatkan nomor pendaftaran dan dapat terlihat nama pendaftar di laman website PPDB online.”Nanti setelah diverifikasi akan kembali siswa tersebut mendapatkan nomor pendaftaran,” terangnya.

Ia meminta kepada calon siswa yang sampai saat ini masih menunggu namanya muncul di data pendaftar sekolah tujuan untuk bersabar. Secara umum Dedi menyebut proses PPDB online tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.”Sama saja, (tahun lalu juga) butuh waktu untuk verifikasi,” tukasnya. (sur)

Related Articles

Back to top button