Siswa Positif Covid

Illustrasi: Guru menyampaikan materi mata pelajaran di hadapan siswa saat pembelajaran tatap muka secara terbatas di SDN Kota Baru III Kota Bekasi, Senin (6/9). Sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Bekasi bersiap melaksanakan penilaian PTS pada bulan ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Sejumlah siswa di Kota dan Kabupaten Bekasi terkonfirmasi positif Covid-19 di tengah pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Sebelumnya, data hasil survei Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menjadi perbincangan setelah menunjukkan ada ribuan kasus positif Covid-19 dari satuan pendidikan yang telah melaksanakan PTMT, penyebaran virus terjadi 2,8 persen pada pelaksanaan PTMT.

Data perkembangan kasus Covid-19 per 28 September kemarin di posko Komite Penanganan Covid-19 dan Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi, terdapat peringatan untuk melakukan pemantauan Protokol Kesehatan (Prokes) di tiap sekolah. Data tersebut berisi informasi temuan satu anak berusia 11 tahun terkonfirmasi Covid-19 satu hari sebelumnya.


Temuan kasus ini menambah data jumlah kasus usia 0 sampai 19 tahun menjadi 16.554 kasus. Sementara jumlah kasus keseluruhan didominasi oleh masyarakat usia produktif atau 20 sampai 60 tahun sebanyak 58.220 kasus.

Menjawab temuan kasus pada anak usia Sekolah Dasar (SD) ini, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan bahwa siswa tersebut masih melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Ia memastikan bahwa anak yang bersangkutan belum datang ke sekolah.


“Informasi yang kami terima, yang positif usia 11 tahun belum masuk sekolah. Ya (masih melakukan pembelajaran dalam jaringan),” katanya, Rabu (29/9).

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bekasi, Inayatullah mengaku belum menerima laporan siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 sampai dengan awal pekan kemarin. Ia menduga yang bersangkutan bukan terpapar di sekolah lantaran belum ada laporan dari kepala sekolah maupun pengawas sekolah kepada Disdik Kota Bekasi.

Pria yang akrab disapa Inay ini menyampaikan, peringatan pelaksanaan Prokes selama pelaksanaan PTMT telah dilakukan kepada sekolah maupun pengawas sejak jauh-jauh hari. Laporan yang diterima sepanjang perjalan PTMT, Prokes berjalan dengan baik, maka ia menggaris bawahi peran serta masyarakat saat siswa berada di luar jam belajar di sekolah.

“Satu hari waktu kita itu 1×24 jam, sedangkan waktu di sekolah itu paling lama enam jam, tapi kalau (di lingkungan) masyarakat itu kan full tanggung jawab kita bersama. Nah ini yang harus benar-benar, bagaimana kita disiplin terhadap penerapan Prokes, jadi kalau sudah sampai di rumah harus tetap Prokes,” paparnya.

Menyusul kabar ini, pihaknya tengah mencari informasi anak tersebut bersekolah. Jika benar ditemukan kasus tersebut, maka PTMT di satuan pendidikan yang bersangkutan dihentikan selama empat sampai tujuh hari guna melakukan tracing dan memastikan dimana siswa tersebut terpapar bersama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes).

“(diberhentikan) Empat sampai satu minggu ya, jadi kita lihat dulu, kita tracing, kalau (terpapar) disekolah bisa kita perpanjang sampai satu minggu. Jadi teman-teman terdekat akan kita tracing dulu,” tambahnya.

Sejauh ini, tercatat lebih dari 600 SD, 160 SMP, serta 1.226 PAUD dan TK telah melaksanakan PTMT di Kota Bekasi. Dengan jumlah ini, diperkirakan sudah 80 persen satuan pendidikan melaksanakan PTMT, awal Oktober mendatang direncanakan semua satuan pendidikan sudah melakukan PTMT.

Sementara itu di Kabupaten Bekasi, dua siswa tingkat SMA terkonfirmasi positif. Namun demikian, pelaksanaan PTM masih terus berjalan, karena tidak sampai menjadi cluster. “Dua yang positif laporannya dari SMA, walaupun kewenangannya provinsi, tapi kesehatannya Pemkab Kabupaten Bekasi yang menjaga. Jadi kami tetap pantau sampai SMA/SMK, Madrasah, dan selama ini justru SD maupun SMP belum ada laporan,” ujarnya Penjabat Bupati Bekasi, Dani Ramdan.

Dia mengaku sudah mengeluarkan surat edaran untuk seluruh kepala sekolah dan kepala puskesmas, agar melakukan pemantauan yang lebih erat, dan pelaporan cepat. Misalkan ditemukan gejala, seperti batuk, pilek, maupun panas, segera menelpon puskesmas, setelah petugas datang, langsung dilakukan pemeriksaan swab.

“Sekarang kita sedang pengadaan antigen, nanti kalau sudah ada akan kita lakukan tracing dan testing secara rutin. Jadi per Minggu itu berapa sampel untuk terus menerus mengecek agar lebih dini lagi mengetahui kalau ada kasus positif,” katanya.

Dirinya memastikan, sejauh ini pembelajaran tatap muka masih berjalan lancar. Sehingga pelaksanaan PTM tidak dihentikan. Walaupun masih ada beberapa sekolah yang belum diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka. Karena dari awal fasilitasnya belum memadai (memenuhi syarat).

“Masih ada sekolah yang belum kita izinkan sampai saat ini. Tapi yang sudah berjalan belum ada yang kita tutup kembali,” ucapnya.

Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah III Provinsi Jawa Barat, Asep Sudarsono juga mengaku belum menerima laporan adanya siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 selama pelaksanaan PTMT, baik di Kota maupun Kabupaten Bekasi. Pihaknya selama ini berkoordinasi dengan Puskesmas di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi untuk memastikan situasi penyebaran Covid-19 di sekolah selama PTMT.

Ia mengaku sempat mendengar informasi siswa yang terpapar Covid-19 di wilayah Kabupaten Bekasi. Namun, setelah dikonfirmasi kepada Penjabat (PJ) Bupati maupun Kepala (Dinkes) diperoleh informasi tidak ada siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Kemudian saya cek juga ketemu juga dengan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, beliau juga mengatakan sampai dengan saat ini dari Puskesmas yang ada di Kabupaten Bekasi belum ada laporan itu,” ungkapnya.

Selama ini KCD wilayah III menugaskan kepada pengawas pembina untuk mengawasi perjalanan PTMT di semua sekolah jenjang menengah ke atas dan kejuruan. Belum semua sekolah melaksanakan PTMT, sebagian sekolah urung melaksanakan PTMT sampai semua siswa telah menerima vaksin dosis kedua.

Meskipun vaksinasi tidak menjadi syarat mutlak mulai melaksanakan PTMT, ketenangan warga sekolah menjadi alasan sekolah belum memulai PTMT. “Jadi kebijakan mereka nanti kalau sudah vaksin kedua,” tukasnya. (zar/sur/pra)