Pemkab Didesak Tindak Tegas Perusahaan Buang Limbah ke Sungai

TUTUP HIDUNG: Warga menutup hidung saat melintas di bantaran saluran irigasi Sungai Cilemahabang Karangbahagia Kabupaten Bekasi. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, KARANG ASIH – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi harus tegas menindak perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap lingkungan. Sebab, dari pendataan serta verifikasi, hanya 13 perusahaan yang memiliki izin terkait pembuangan limbah.

Keluhan ini berasal dari sejumlah masyarakat yang memanfaatkan aliran Kali Cilemahabang untuk keperluan Mandi, Cuci, Kakus (MCK).


Kemudian, warga sekitar berharap agar Pemkab Bekasi membongkar akses jembatan dan pintu air. Pasalnya, jembatan dan pintu air yang dibuat rendah menyebabkan sampah tersangkut, sehingga terjadi penumpukan.

“Kami berharap ada tindakan tegas dari Pemkab Bekasi untuk memberantas perusahaan yang tidak peduli lingkungan serta aliran kali,” ucap salah satu warga, Dien (35).


Kemudian, kata dia, terkait pembongkaran jembatan butuh waktu berhari-hari untuk membersihkan sampah yang tersangkut di jembatan dan pintu air. Terlebih lagi, warga terkendala keterbatasan alat berat.

“Kalau yang nyangkut gelondongan kayu kan susah untuk mengangkatnya. Waktu itu, saya ikut bantu bersihin sama warga juga. Sampai dua hari belum selesai ngangkutin sampahnya,” beber Dien.

Lanjutnya, belum lagi warga juga dipusingkan manakala terjadi banjir akibat meluapnya Kali Cilemahabang. Sampah-sampah yang tersangkut itu ikut terbawa luapan air hingga ke permukiman warga.

Dien menilai, jembatan dan pintu air yang dibuat lebih tinggi bisa meringankan beban warga saat melakukan pembersihan kali yang jadi sumber kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar Kali Cilemahabang.

“Semisal jembatannya tinggi, kan sampahnya bisa mengalir ikut sungai, jadi tidak semua nyangkut di sini,” terangnya.

Terkait perusakan lingkungan yang diduga oleh produksi perusahaan, menurut Dien, dilakukan saat malam hari. Sebab, dirinya menyaksikan sendiri ketika air kali yang awalnya berwarna hijau perlahan berubah menjadi hitam. Kejadian itu biasanya terjadi setelah pukul 00.00 WIB.

“Kejadian itu saya lihat sendiri, awalnya ya bersih warna hijau, terus airnya surut, lama-lama air warna hitam datang kecampur,” ucapnya.

Wanita yang diajak bercengkrama oleh Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan, saat kunjungan, juga menuturkan, sebenarnya air kali tak selalu hitam, ada kalanya berwarna hijau meski hanya terjadi satu atau dua kali dalam seminggu.

“Memang tidak selalu hitam begini, tapi seringnya hitam. Kalau sudah begini, biasanya tiga hari baru kembali hijau lagi,” katanya.

Dien juga mengakui, saat ini air kali lebih sering berwarna hitam,dibanding setahun yang lalu.

“Kalau dulu kebalik, keseringan hijau daripada hitamnya. Paling warnanya hitam, seminggu sekali atau dua kali saja. Sekarang keseringan hitamnya,” tutur Dien.

Sebelumnya, Pj Bupati Bekasi, Dani Ramdan menyampaikan, pencemaran sungai di Kabupaten Bekasi oleh limbah industri kecil dan besar berada dalam kategori mengkhawatirkan. Padahal, air dari sungai yang tercemar itu merupakan sumber air baku kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan rapat koordinasi yang dilakukan jajaran Gakkumdu dari unsur Dinas Lingkungan Hidup, Kejaksaan Negeri dan Polres Metro Bekasi, hanya terdapat 13 perusahaan saja yang mengantongi izin membuang limbah ke sungai.

“Yang berizin, ada 13 perusahaan, sementara yang lain tidak punya. Maka dari itu, hasil yang punya izin ini harus ada uji laboratoriumnya, karena dia harus ada IPAL-nya,” tegas Dani. (and)