Dinkes Garap Penanganan Stunting

ILUSTRASI: Anak-anak bermain di kawasan kumuh daerah Bekasi Timur, Kota Bekasi, belum lama ini. Penurunan kasus stunting menjadi target Pemkot Kota Bekasi.RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi menargetkan kasus stunting di Kota Bekasi bisa kembali mengalami penurunan tahun 2021. Sejumlah upaya tengah dilakukan mendukung program tersebut.

Kepala Dinkes, Tanti Rohilawati mengatakan, prevalensi stunting diperoleh berdasarkan hasil entry pengukuran balita bulan Agustus di elektronik pengukuran pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM).


Target pada tahun 2021 prevalensi stunting sebesar 10 persen. Sejauh ini belum dapat ditarik kesimpulan karena data akan dikategorikan valid apabila total entry minimal 80 persen, sedangkan hingga saat ini jumlah entry di e-PPGBM belum mencapai 80 persen.

“Upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi setelah mengetahui prevalensi stunting 2019 sebesar 10.7 persen, Dinas Kesehatan secara fokus melakukan beberapa upaya dalam penurunan prevalensi stunting,” ucapnya.


Lanjut Tanti, berdasarkan hasil entry sebelumnya, data prevalensi stunting tahun 2019 sebesar 109.777 penurunan 10,7 persen, dan prevalensi tahun 2020 dari 158.696 penurunan sebesar 10,6 persen.

Tanti juga menjelaskan, upaya yang dilakukan adalah dengan intervensi spesifik. Yakni intervensi yang ditujukan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dilakukan sektor kesehatan.

“Upaya kita memberikan suplementasi tablet tambah darah. Pemberian makanan tambahan (bantuan Kemenkes). Pemberian Vitamin A bulan Februari dan Agustus. Promosi konseling ASI, dan pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Pemberian makanan tambahan pemulihan untuk anak gizi kurang di wilayah lokus stunting. Melakukan validasi data hasil pengukuran balita yang terentry di e-PPGBM,” ujarnya.

Selanjutnya intervensi sensitive, halĀ  itu dikatakannya, merupakan intervensi yang ditujukan pada kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan.

Pertama, pembentukan tim konvergensi stunting, tim konvergensi stunting merupakan tim yang terdiri dari lintas sektor di Pemerintahan Kota Bekasi, yang terdiri dari, Bappelitbangda, Dinas Kesehatan, Dinsos, DP3A, DPPKB, Disperkimtan, Disdik, dan DKP3.

“Masing masing OPD memiliki irisan program yang sama, yakni dengan tujuan penurunan prevalensi stunting di Kota Bekasi,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan, penetapan lokus stunting tahun 2020 di 12 Kelurahan, tahun 2021 di 16 Kelurahan dan tahun 2022 di 29 Kelurahan.

Sebab, sejak tahun 2020 tim konvergensi stunting telah berhasil mengesahkan peraturan Wali Kota terkait penentuan lokus stunting.

“Penetapan lokus stunting akan terus bertambah secara bertahap, hingga pada tahun 2024 seluruh kelurahan di Kota Bekasi akan menjadi lokus stunting,”bebernya.

Ia berharap penanganan stunting ini bukan hanya tugas di Dinas Kesehatan saja. Tetapi di Dinas terkait lainnya juga terlibat. “Pasti kita target tahun ini berkurang lagi. Dan yang pasti semuanya harus berperan aktif cegah stunting,” tukasnya. (pay)