BEKACITIZENOpini

Dongeng : Pemantik Kreativitas Rupa Anak

Oleh : Rizki Taufik Rakhman, Dosen Pendidikan Seni Rupa, FBS, UNJ

Rizki Taufik Rakhman

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dongeng merupakan warisan budaya lisan bangsa Indonesia yang sarat akan pesan agar memiliki budipekerti yang luhur. Peran tersebut memperjelas posisi dongeng sebagai media yang tepat untuk memperkenalkan sebuah informasi penting terkait generasi muda. Jika kegiatan dongeng itu terbatas pada pendongeng dan audiens, dimana audiens menikmati setiap sajian pendongeng dengan atau tanpa alat bantu berupa media (visual).

Tema dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat (P2M) program studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah kreativitas rupa anak terbentuk melalui sebuah dongeng. Tim P2M yang diketuai oleh Rizki Taufik Rakhman ini menjelaskan adanya perubahan lokasi yang menjadi tempat tujuan kegiatan. Perubahan tersebut sebagai dampak pandemic covid-19 yang tidak kunjung mereda dan adanya aturan PPKM yang diterapkan oleh Pemerintah maupun pihak kampus UNJ sendiri. Menurut Eko Hadi Prayitno selaku kordinator lapangan P2M bahwa rencana awal kegiatan akan dilakukan di kasepuhan ciptagelar, sukabumi. Tim P2M bahkan sudah melakukan survey dan perencanaan kegiatan di kasepuhan ciptagelar tersebut.

Foto 1: Desa Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi sebagai lokasi awal kegiatan P2M
(dokumentasi: pribadi, 2021)

Pada akhirnya tim P2M memindahkan lokasi kegiatan ke daerah Tangerang selatan. Hal ini disampaikan oleh ibu Ririn Despriliani sebagai kordinator acara P2M. Kegiatan P2M dilakukan secara daring dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. Acara dibagi menjadi 2 tahap. Pada tahap pertama, widya salah satu anggota P2M membacakan sebuah dongeng berjudul,”Raja Lebah dan sesendok Madu…”. Setelah dibacakan dongeng, peserta P2M yang terdiri dari 15 siswa-siswi SDN Cipondoh 3 Tangerang diminta untuk merespon cerita dongeng tersebut melalui visual. Hasil yang didapat selanjutkan dikelompokkan menjadi 4 kategori: karakter lebah, karakter lebah-manusia, kerajaan lebah, dan situasi cerita lebah.

Foto 2: Karya tahap 1 dari peserta kegiatan P2M (dokumentasi: pribadi, 2021)

Pada tahap kedua, anggota tim P2M lainnya seperti: Yara, Fariz dan Kahfi dengan teknik teaterikal membacakan narasi dongeng berjudul,”Lutung Kasarung”. Setelah itu, peserta P2M meresponnya dengan membuat sebuah karya rupa dengan media bebas. Waktu yang diberikan untuk berkarya adalah 1 jam. Selama mereka berkarya tim P2M melakukan interaksi berupa tanya jawab sebagai pemantik ide peserta dalam kreativitas rupa. Hasil tahap kedua ini dikelompokkan menjadi 3 kategori, yakni: karakter, setting, dan kategori lainnya.

Foto 3: Karya tahap 2 dari peserta kegiatan P2M (dokumentasi: pribadi, 2021)

Menurut Aprina Murwanti, Ph.D selaku praktisi seni, peneliti, dan pendidik bahwa kreativitas rupa itu dapat dikembangkan melalui cara apapun, termasuk dongeng. Hal ini terbukti dari karya yang dihasilkan oleh peserta P2M. Namun untuk memperoleh hasil yang lebih optimal perlu diadakan kegiatan serupa yang berkelanjutan sehingga kreativitas rupa anak menjadi terbentuk dengan sendirinya. (*)

Foto 4: Tim P2M dan Peserta P2M (dokumentasi: pribadi, 2021)

Related Articles

Back to top button