BEKACITIZENOpini

Kemuliaan Seorang Guru

Oleh. Achmad Muwafi, Lc, Kepala SDIT Baitul Halim Tambun Bekasi

MENJADI seorang guru memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw menggambarkan bahwa orang yang mengajak kepada kebaikan, guru, pendidik, dan orang yang berilmu akan mendapatkan pahala yang sangat banyak, “Siapa yang menempuh jalan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sekaligus pahala dari orang-orang yang turut mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Guru adalah orang yang yang berilmu, memiliki wawasan yang luas dan memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengajak orang lain kepada kebaikan dan mencegahnya dari keburukan dan kemungkaran.

Oleh sebab itu, agama Islam mendorong kepada umatnya untuk menjadi seorang guru, pendidik yang berilmu yang senantiasa dapat menyebarluaskan serta mengamalkan ilmunya.  Nabi Muhammad saw bersabda, “Jadilah engkau sebagai orang yang berilmu (pendidik), atau pembelajar, atau penyimak ilmu, atau pencinta ilmu. Namun jangan engkau menjadi yang kelima (pembenci ilmu), niscaya engkau akan celaka.” (HR. Baihaqi)

Menjadi seorang guru dapat menjadi ladang pahala yang akan selalu mengalir meskipun sang guru nantinya sudah meninggal dunia berpulang ke rahmat Allah swt. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad saw bersabda. “Apabila seorang manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Guru adalah orang yang sangat mulia dan memuliakan guru menjadi amalan yang sangat mulia yang akan dibalas oleh Allah swt dengan surga. Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa memuliakan orang yang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku, Barangsiapa memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah, maka tempatnya adalah surga.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra adalah orang yang sangat memuliakan guru-gurunya. Beliau pernah berkata, “Aku menjadi hamba bagi orang yang mengajariku (guruku). Ia dapat menjualku, memerdekakannku, atau tetap menjadiklan aku sebagai hamba sahayanya.”. Hamba yang dimaksud oleh sayidina Ali ra bukanlah hamba sahaya atau budak, akan tetapi orang yang harus mengabdi dengan sepenuh hati kepada guru. Dalam kesempatan lain, beliau juga berkata, “Barangsiapa mengajari aku satu huruf, maka baginya seribu dinar.”

Nabi Muhammad saw berasabda, “Siapa yang memberikan kebaikan untukmu, maka balaslah (kebaikannya) itu. Jika kamu belum mampu membalasnya, maka doakanlah ia senhingga kamu yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Dawud)

Pada kesempatan yang bahagia ini, dengan kerendahan hati kami ucapkan Selamat Hari Guru Nasional. Ya Allah, ampunilah guru-guru kami dan orang-orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang di anatara penyayang. Amin. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button