Pendidikan

Semangat Mengajar untuk Mencerdaskan Generasi Penerus Bangsa

Mulki, Guru Honorer Berpostur Mini  

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Memiliki postur mini setinggi 140 sentimeter tak membuat Mulki sebagai guru merasa minder. Pemuda berusia 27 tahun ini justru memiliki semangat dan dedikasi yang tinggi untuk mencerdaskan anak didik sebagai generasi penerus bangsa.

Pemilik nama lengkap Mochamad Mulki Rudiatama ini merupakan guru honorer. Baginya, guru merupakan profesi yang sangat menyenangkan untuk dijalani.

“Saya baru 4 tahun mengajar, memang waktu ini bukan waktu yang lama untuk bisa banyak bercerita pengalaman saya menjadi seorang guru,” ungkapnya kepada Radar Bekasi, Rabu, (24/11).

Lelaki yang belum berkeluarga ini menjadi guru honorer di SMAN 17 Kota Bekasi selama tiga tahun hingga kini. Sebelumnya, selama setahun Mulki mengajar di Yayasan Ki Hajar Dewantara.

Selama menjadi tenaga pengajar, ia menempatkan posisinya kepada siswa sebagai teman. “Saya menganggap siswa-siswa saya ini teman, kenapa begitu. Karena mereka akan lebih mudah menerima masukan dan materi-materi yang saya berikan,” ucapnya.

Memiliki tinggi badan pendek tak menghambat Mulki dalam mengajar. Ia memiliki metode khusus agar pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan maksimal.

“Saya seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang mengajar siswa kelas 10 dan kelas 12, saya memiliki keterbatasan tinggi badan. Tidak bisa mencapai papan tulis seperti guru-guru lain, membuat saya lebih kreatif dalam mengajar siswa saya,” tuturnya.

Ketika para guru lain menerangkan materi dengan menggunakan papan tulis, dirinya cukup menggunakan infokus. “Saya beda dengan guru lain, kalo guru pada umumnya menjelaskan materi bisa dengan papan tulis. Kalo saya dengan cara menyebarkan paper clip atau menggunakan infokus,” imbuhnya.

Sebagai guru, dirinya akan terus berusaha menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya. Oleh karena itu, Multi selalu menerapkan kedisiplinan dengan tiba tepat waktu di sekolah.

“Ketika saya memilih menjadi guru, maka contoh baik harus saya berikan kepada siswa saya. Salah satunya hadir lebih awal, saya itu setengah 7 sudah ada di sekolah,” ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan seorang guru adalah melihat siswanya bisa mencapai kesuksesan. Hal tersebut yang terus mendorongnya tetap semangat menjadi tenaga pengajar.

“Saya senang ketika siswa saya sukses, kadang suka nangis sendiri kalo lihat salah satu siswa kita berhasil. Karena itu menjadi kebanggaan bagi seorang guru,” tuturnya.

Menjadi guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu mimpinya. Meskipun demikian, dirinya tidak memiliki ambisi berlebihan untuk menggapainya.

Sebab yang utama di dalam hidupnya saat ini adalah bisa ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa. “Siapa tidak ingin menjadi PNS, pasti itu impian semua guru bahkan semua orang. Tapi saya tidak terlalu mementingkan itu, karena yang terpenting menurut saya saat ini, bisa terus mengajar dan ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa,” pungkasnya. (dew)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button