Manfaatkan Lahan Terbatas untuk Budidaya Udang Vaname

BERI MAKAN: Pembudidaya udang vaname di Muaragembong, Ali Fauzi, memberi makan udang di area yang terbatas dengan menggunakan sistem bioflok. IST/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, MUARAGEMBONG – Salah seorang warga di Muaragembong, Ali Fauzi, melakukan pengembangan budidaya udang vaname dengan menggunakan sistem bioflok. Cara tersebut dilakukan, agar masyarakat yang tidak mempunyai lahan luas dan tambak, serta modal yang besar, tetap bisa melakukan budidaya.

Menurut Ali, budidaya udang vaname itu menjadi peluang dan potensi yang cukup bagus. Walaupun sebagian orang menilai, kondisi alamnya kurang mendukung, tapi kenyataannya potensi untuk pengembangannya membuahkan hasil.


“Pembudidayaan udang vaname di Muaragembong ini, saya kira menjadi peluang dan potensi yang bagus,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Senin (6/12/).

Oleh karena itu, selain di tambak, mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi ini, mulai mengembangkan sistem bioflok untuk melakukan budidaya udang vaname, dengan harapan, agar masyarakat yang tidak memiliki tambak dan modal besar, bisa menggunakan sistem bioflok, karena biayanya yang lebih murah.


“Sekarang, saya mencoba mengembangkan pola budidaya menggunakan sistem bioflok,” tuturnya.

Lanjut Ali, budidaya dengan menggunakan lahan tambak, biayanya bisa mencapai Rp 180 juta, untuk lahan 1.000 meter. Sementara, jika dihitung dengan biaya operasional dari awal sampai panen, bisa mencapai sekitar Rp 315 sampai Rp 350 juta.

 

Sedangkan, untuk budidaya menggunakan sistem bioflok, kata dia, biayanya jauh lebih murah, yakni sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, dengan diameter tiga meter dan dalamnya satu setengah meter. Kemudian untuk besaran bibitnya, antara 3.000 sampai 5.000 ekor. Dan budidaya udang vaname, dari awal sampai panen, 120 hari.

“Saya kira nggak begitu beda dengan budidaya di tambak. Hanya saja, bedanya kalau di bioflok, lebih terkontrol, karena jangkauannya tidak begitu luas. Pola-pola ini bisa dikembangkan kedepannya,” terang Ali.

Hanya saja, ia mengaku, sistem bioflok belum banyak digunakan oleh masyarakat di Muaragembong. Hal itu mengingat dirinya baru memulai sistem tersebut, dan jika berhasil, baru bisa disampaikan ke masyarakat, termasuk cara-caranya. Sejauh ini, Ali menegaskan, budidaya udang vaname yang dilakukan, menggunakan sistem bioflok berjalan cukup bagus.

“Insya Allah, kalau melihat dari sisi perkembangannya, saya kira cukup bagus, tingkat kematiannya juga sangat kecil. Kalau sudah berhasil, akan saya sampaikan ke masyarakat cara-cara budidaya udang vaname,” janjinya. (pra)