Guru SLB Harus Mengulang Materi Pelajaran

SAMPAIKAN MATERI: Guru menyampaikan materi pelajaran di hadapan siswa saat pembelajaran tatap muka secara terbatas di SLB Negeri Kabupaten Bekasi. ISTIMEWA
SAMPAIKAN MATERI: Guru menyampaikan materi pelajaran di hadapan siswa saat pembelajaran tatap muka secara terbatas di SLB Negeri Kabupaten Bekasi. ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Guru di sejumlah sekolah luar biasa (SLB) wilayah Bekasi harus mengulang materi pelajaran saat pembelajaran tatap muka secara terbatas. Pasalnya, materi yang disampaikan saat pembelajaran secara daring tak dipahami oleh sebagian siswa.

Hal itu mengakibatkan nilai akademik dan kemandirian mengalami penurunan. Kepala SLB As-Syafi’iyah Pawastri menuturkan, pembelajaran daring yang berlangsung selama dua tahun ini sangat berdampak pada kedua penilaian siswa, baik secara akademik maupun kemandirian.


“Yang sangat terlihat sekali sih akademiknya, disusul dengan penilaian  kemandirian,” ujar Pawastri kepada Radar Bekasi, Kamis (16/12).

Namun demikian, kata dia, penilaian sesungguhnya bagi siswa SLB tidak selalu dituntut baik. Sehingga peningkatan siswa SLB dapat dilihat dari keaktifannya dalam meniru, merespon dan menyimak.


“Sebenarnya kalo untuk nilai siswa SLB tidak dituntut harus bagus, itu tidak. Tetapi bagaimana kita bisa melihat progres siswa dari keaktifannya dalam meniru, menyimak dan merespon,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan, dalam keaktifan tersebut nilai akademik dan kemandirian dapat dilihat. Sehingga pihak sekolah dapat menyampaikan bahwa kedua nilai tersebut sangat menurun.

“Kita bisa menyampaikan bahwa sangat menurun sekali, karena siswa di rumah dengan siswa di sekolah itu daya tangkapnya berbeda untuk siswa SLB,” jelasnya.

Dijelaskan salah contohnya saat siswa mengikuti kegiatan pembelajaran normal dapat menangkap pembelajaran menghitung dengan menggunakan 10 digit angka, namun adanya pandemi membuat pengetahuan itu hilang.

“Itu hanya salah satu contoh, karena memang ketika kita mulai melaksanakan tatap muka kembali pengetahuan itu benar-benar hilang. Siswa kalo ditanya pasti lupa karena tadi daya tangkapnya sangat berbeda,” ucapnya.

Sehingga menjadi sebuah tantangan bagi guru SLB untuk mengulang kembali materi-materi pembelajaran yang sebelumnya pernah diajarkan melalui media daring.

“Banyak materi yang kita ulang kembali agar siswa SLB benar-benar menangkap. Beberapa praktek yang sebelumnya dilakukan di rumah saat ini kita lakukan kembali di sekolah. Karena bisa saja kalo di rumah ibunya yang mengerjakan,” terangnya.

Hal senada disampaikan Kepala SLB Raisya Puri Kabupaten Bekasi Ade. Ia mengatakan, penilaian akademik dan kemandirian siswa sangat menurun drastis pada saat pembelajaran daring diberlakukan.

“Sangat menurun sekali, karena memang siswa SLB sangat berbeda daya tangkapnya,” ungkapnya.

Sama seperti SLB As-Syafi’iyah, SLB Raisya Puri juga banyak mengulang pembelajaran yang sebelumnya disampaikan pada saat proses pembelajaran daring.

“Kita proses belajar tatap mukanya sekarang mengulang materi yang sebelumnya sudah disampaikan saat daring,” terangnya.

Belum banyaknya perubahan pada peningkatan nilai akademik dan kemandirian siswa membuat sekolah terus berupaya untuk kembali menormalkan proses pembelajaran siswa SLB.

“Wah, untuk saat ini masih jauh sekali untuk kembali menormalkan nilai-nilai kemandirian siswa dan akademik. Butuh waktu dan prosesnya,” terangnya.

Sampai saat ini, pihaknya terus berupaya untuk membahas beberapa materi lama agar siswa dapat kembali menyerap materi dengan baik. “Terus berupaya agar siswa kembali bisa paham, bisa menyimak semua pembelajaran yang kembali diulang,” pungkasnya. (dew/oke)