Rumah Warga di Pinggir Sungai Citarum Bakal Direlokasi

Illustrasi SUNGAI CITARUM: Foto udara Sungai Citarum yang membentang, di sepanjang pemukiman warga Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (10/11). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, CIKARANG PUSAT – Belasan rumah dan satu sekolah yang berada di Kecamatan Pebayuran, akan direlokasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, karena posisinya persis di bantaran Sungai Citarum.

Hal itu dilakukan, karena rumah dan sekolah tersebut, dianggap menghambat saat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, melakukan pengerjaan tanggul secara permanen.


Pelaksana tugas (Plt) Bupati Bekasi, Akhmad Marjuki menyampaikan, keberadaan tanggul Sungai Citarum yang kritis, dalam waktu dekat ini akan diperbaiki secara permanen oleh BBWS.

Walaupun, untuk perbaikan sementara sudah mulai berjalan. Namun rencana untuk pengerjaan tanggul secara permanen itu, BBWS menugaskan Pemkab Bekasi, untuk mengosongkan area kerja tersebut.


Khusus di Kecamatan Pebayuran, Pemkab Bekasi, harus merelokasi belasan rumah, dan satu sekolah, yang posisinya berada di bantaran Sungai Citarum. Tujuannya, agar alat berat, bisa dengan leluasa bekerja.

“BBWS menugaskan ke Pemkab Bekasi, untuk mengosongkan area kerja itu. Ada 15 rumah, dan satu sekolah yang akan direlokasi. Nanti dipindahkan kemana, masih dimusyawarahkan dengan perangkat desa,” kata Marjuki kepada Radar Bekasi, usai meresmikan kantor Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cabangbungin.

Menurutnya, perbaikan tanggul sementara yang sudah berjalan di 14 titik, tersebar di Pebayuran, Cabang Bungin, dan Muaragembong. Sementara, untuk tanggul yang sempat meluap, sudah dilakukan penanganan sementara.

“Untuk tanggul yang sempat meluap, sudah bisa ditangani menggunakan biotek,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Bastari menjelaskan, dari hasil survei di Citarum hilir, ada 23 tanggul yang kondisinya sangat kritis. Dari 23 tanggul itu, tiga diantaranya, ada enam yang sudah dikerjakan awal tahun 2021. Kemudian, sekarang ada 17 yang masih tahap pengerjaan. Di mana, tiga titik dikerjakan oleh Citarum Harum, dan 14 titik oleh BBWS.

“Untuk tanggul yang sebelumnya meluap, sudah ditangani secara darurat, seperti menggunakan biotik, dan diperkuat dengan dolken. Harapannya, jika air naik, tidak meluap lagi,” bebernya.

Bastari juga mengimbau, agar warga tidak mendirikan bangunan di bantaran Sungai Citarum. Dan para camat yang berada di wilayah, dan berdekatan, bisa mensosialisasikan itu ke masyarakat.

“Kami minta pihak kecamatan Muaragembong, mensosialisasikan ke warga, untuk tidak mendirikan bangunan di pinggiran sungai, soalnya bisa menghambat proses pengerjaan,” tandas Bastari.

Sedangkan Camat Pebayuran, Hanief Zulkifli, mengakui di wilayahnya, ada satu RT yang kerap dilanda banjir, yakni RT 02/04, karena memang tinggalnya di bantaran Sungai Citarum, jumlahnya sekitar 15 rumah.

“Memang ada satu RT di Kampung Bojong Poncol RT 02/04, Desa Sumber Sari, yang tinggal di bantaran Sungai Citarum,” ucapnya.

Lanjut Hanief, masyarakat yang berada di RT tersebut, sudah lama tinggal di bantaran Sungai Citarum. Sebelumnya, sempat ada rencana mau melakukan relokasi, tapi warga tidak ada yang mau.

“Saat akan direlokasi, mereka (warga) tidak mau. Alasannya, itu sudah direncanakan sejak dari dulu, tapi tak kunjung dilakukan,” tutup Hanief. (pra)