BEKACITIZENOpini

Syukurmu adalah Untuk Dirimu

Oleh : Achmad Muwafi, Lc (Kepala SDIT Baitul Halim Tambun Bekasi)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – ALLAH SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah kami berikan nikmat kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah). Maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman: 12)

Syukur artinya pengakuan terhadap nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah swt dengan disertai ketundukan dan kepatuhan kepada-Nya dengan memanfaatkan nikmat dan karunia tersebut sesuai dengan perintah dan kehendak-Nya.

Bersyukur adalah bentuk ibadah dan ketaatan sesorang kepada Allah swt. Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk selalu bersyukur kepada Allah swt. Di antaranya dalam surat Al-Baqarah ayat 172, Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”.

Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah swt, meskipun beliau telah dijamin masuk surga. Diceritakan oleh Sayyidatina Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama sehingga kakinya mengeras kulitnya. Lalu Aisyah ra bertanya. ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankah dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah bersabda” ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’(HR Bukhari dan Muslim)

Bersyukur adalah sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Ia selalu menunjukkan nikmat yang telah Allah swt berikan kepada dirinya, dengan ucapan, hati dan anggota badannya. Ia selalu memuji kebesaran Allah swt, meyakini bahwa nikmat tersebut merupakan pemberian dari Allah swt, serta menggunakan seluruh anggota badan untuk mematuhi dan mentaati perintah Allah swt.

Dikisahkan ada salah seorang tabi’ut tabiin terkemuka yaitu Ibrahim bin Adham. Suatu hari ketika berjalan, ia menyaksikan ada seorang laki-laki yang tidak memiliki tangan dan kaki berada di pinggir jalan. Sesekali, orang-orang yang melewatinya menyuapkan makanan kepada laki-laki tersebut.

Dari kejauhan Ibrahim bin Adham mendengar bahwa laki-laki itu selalu membaca “Allahumdulillah ‘ala ni’amihi ‘adhimah wa ‘aythaayahul jasimah” Segala puji bagi Allah swt atas nikmat-nikmat-Nya yang agung dan karunia-Nya yang besar.

Ibrahim bin Adham merasa tertarik, lantas menghampiri laki-laki tersebut. Beliau perhatikan bahwa laki-laki itu ternyata ia juga buta dan terkena kusta. “Wahai saudaraku, aku mendengar bahwa engkau selalu mengatakan “Allahumdulillah ‘ala ni’amihi ‘adhimah wa ‘aythaayahul jasimah” Segala puji bagi Allah swt atas nikmat-nikmat-Nya yang agung dan karunia-Nya yang besar. ‘Nikmat apa yang engkau syukuri? Sementara kamu mendapatkan ujian yang sangat berat, kamu tidak bisa berjalan, tidak bisa beraktifitas normal, dan kamu juga tidak bisa melihat.’

Orang laki-laki itu kemudian menjawab “Wahai saudaraku, bukankah Allah swt masih memberiku lisan yang bisa aku gunakan untuk berdzikir, dan hati untuk bersyukur? Dan nikmat yang mana lagi yang lebih agung daripada ini?” Mendengar jawaban ini Ibrahim bin Adham merasa takjub karena ada orang yang selalu bersyukur, walaupun diuji oleh Allah swt dengan ujian yang sangat berat.

Semoga Allah swt menggolongkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Amin. (*)

Related Articles

Error, no group ID set! Check your syntax!
Back to top button