Strategi Komunikasi dalam Integrasi Smart City

Elfira Rosa Juningsih, peneliti BRIN

PERTUMBUHAN penduduk di Indonesia terus meningkat secara siginifikan dari waktu ke waktu. Kuatnya dorongan urbanisasi yang dilakukan masyarakat membuat penerapan dan pengembangan kota cerdas melalui Gerakan Menuju Smart City tak lagi terelakan.

Badan Pusat Statistika (BPS) melansir data yang memprediksikan bahwa pada tahuan 2030 terdapat sebanyak 66% pendudukan tanah air tinggal di wilayah perkotaan. Presentase tersebut diperkirakan akan terus melonjak hingga mencapai 66,6% pada tahun 2035.


Sementara itu, World Bank juga memprediksikan pada tahun 2045 sejumlah 70% dari total populasi Indonesia atau sekitar 220 juta akan tinggal di perkotaan. Informasi lainnya, PBB memproyeksikan jumlah penduduk dunia pada tahun 2050 dapat mencapai 9,8 miliar.

Hal ini tentu akan memerlukan banyak kota baru di permukaan bumi. Keberadaan smart city diharapkan dapat menjawab tantangan kependudukan tersebut sehingga kota yang terbentuk mampu mendukung tidak hanya pertumbuhan penduduk namun juga kebutuhan msyarakat terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang terus meningkat, khususnya di era digital.


Pentingnya pengembangan Smart City ini terus menjadi perhatian pemerintah. Dalam sebuah Konferensi bertajuk ‘Indonesia Smart City Conference, Forum Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan Pameran Smart City’ baru-baru ini, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan esensi vitalnya pengembangan Smart City.

Sebagaimana dikutip oleh invertor.id (14/12) Gerakan Menuju Smart City yang diinisiasi oleh Kemenkominfo merupakan sebuah strategi pengembangan kota yang akomodatif terhadap perkembangan zaman.

Konsep smart city diharapkan dapat menciptakan perencanaan dan pengembangan kota layak huni yang lebih baik di masa depan.

Hasibuan dan Sulaiman (2019) menyampaikan hasil penelitiannya terkait pentingnya paradigma pemerintah untuk menentukan arah pengembangan Smart City.

Kelembagaan pemerintah yang inklusif telah membuka banyak peluang bagi pesatnya pertumbuhan digitalisasi.

Pada Maret 2021, internetworldstats.com mencatat jumlah pengguna internet mencapai 212,35 juta dengan estimasi sebanyak 276,3 juta jiwa atau sekitar 76,8 persen total penduduk.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna ke-3 terbanyak di Asia di bawah India dan Tiongkok.

Dalam implementasi Smart City tentu ada tantangan dan peluang yang harus dihadapi. Terdapat enam pilar yang menjadi fondasi membangun Smart City, yaitu smart governance, smart society, smart living, smart economy, smart environment, dan smart branding.

Namun selain itu, pengembangan Smart City juga harus ditunjang oleh adanya Collaborative Governance dan Integrated Governance.

Pariera, dkk (2021) dalam karyanya berjudul “Increasing Collaboration and Participation in Smart City Governance: A Cross-Case Analysis Of Smart City Initiatives”, menuliskan bahwa peningkatan kemitraan antara pemangku kepentingan dan partisipasi masyarakat menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan dalam memperkokoh arah pengembangan Smart City di masa mendatang.

Di beberapa kota di Indonesia sendiri, penerapan konsep smart city ternyata memiliki berbagai kelemahan dan juga kelebihan. Meskipun masih memerlukan kajian yang mendalam, namun keragaman karakteristik dan latar belakang masyarakat di setiap kota memiliki pengaruh yang besar dalam penerapan konsep smart city.

Implementasi smart city di Jakarta dan implementasi di Surabaya ternyata tidak sama. Begitu pula dengan smart city yang dikembangkan di Bandung dengan smart city di Kota Makasar pun terdapat perbedaan.

Perbedaan potensi daerah baik dari sumber daya alam dan sumber daya manusia berdampak pada dimulai darimana sebuah smart city tersebut akan dibangun.

Dalam mengimplementasikan Smart City, Kota Bekasi mengimplementasikannya dengan berbagai aplikasi antara lain Sorot, Sikerja, SILAT, POT, Bekasi Iconic, RapoRTRW, SIAP, yang kesemuanya terintegrasi dengan Command Center.

Meski mendapatkan penghargaan dengan kategori kota tersiap ke tiga dalam ajang Indonesia Smart Nation Award (ISNA) ke tiga pada 2018, namun pada kenyataannya penerapan aplikasi-aplikasi smart city ini masih menghadapi berbagai kendala.

Kendala-kendala ini tentunya butuh dituntaskan melalui berbagai upaya dan juga menyusun strategi komunikasi yang tepat agar semua dapat diintegrasikan dengan baik.

Komunikasi sangat berpengaruh dalam mensosialisasikan konsep smart city kepada masyarakat. Komunikasi memegang peran penting terhadap proses kelancaran penyampaian pesan dan pertukaran pesan atau informasi. Melalui komunikasi pemerintah dapat menginformasikan pembangunan kepada masyarakat, karena pembangunan memerlukan partisipasi aktif masyarakat.

Effendy (2006) mengartikan komunikasi pembangunan sebagai “proses penyebaran pesan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada khalayak guna mengubah sikap, pendapat, dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah”.

Hal ini dapat dimaknai bahwa komunikasi pembangunan merupakan proses interaksi antara seluruh komponen yang terlibat dalam pembangunan terutama antara masyarakat dengan pemerintah, sejak dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pembangunan itu sendiri.

Komunikasi dapat menumbuhkan kesadaran dan menggerakkan partisipasi semua pihak melalui proses yang terencana, tertib, dan terkendali. Sebagai suatu aktivitas, komunikasi meliputi perasn dan fungsi pertukaran informasi secara timbal balik di antara semua pihak—masyarakat menjadi tahu konsep pembangunan yang direncanakan pemerintah, pemerintah mendapat dukungan dalam pelaksanaannya.

Dengan demikian, setiap pemimpin daerah harus dapat berpikir strategi komunikasi yang tepat guna mengembangkan kotanya dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Strategi Komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen (communications management) untuk mencapai suatu tujuan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, artinya bahwa pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan kondisi masyarakat, karena salah satu tujuan dari strategi komunikasi yang ingin dicapai adalah meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat.

Seiring perkembangan kehidupan manusia membuat kompleksitas permasalahan pada suatu kota turut berkembang semakin cepat. Smart city adalah konsep pemanfaatan teknologi informasi dan komunikas untuk semua kegiatan di setiap daerah, tidak hanya kegiatan pemerintahan, namun juga mencakup aktivitas masyarakat.

Konsep smart city membantu mengelola semua sumber daya secara efektif dan efisien dalam menyelesaikan berbagai tantangan, menggunakan solusi inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Untuk menjalankannya pemerintah perlu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai konsep smart city, agar masyarakat siap dalam menggunakan teknologi tersebut.

Strategi komunikasi adalah kombinasi yang terbaik dari semua elemen komunikasi mulai dari komunikator, pesan, saluran (media), penerima, sampai pada pengaruh (effect) yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi yang optimal.

Dengan mengenal karakteristik masyarakatnya, diharapkan komunikasi pembangunan dapat berjalan lebih efektif maka pengembangan smart city menjadi signifikan karena setiap kota/kabupaten mengembangkan strategi kolaborasi yang tepat dengan berbagai elemen pembangunan. (*/)