Pengamat: Jangan Terburu-buru PTM 100 Persen

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SDN XVI Kayuringin Jaya mengikuti PTM secara terbatas, belum lama ini. PTM dengan kapasitas siswa 100 persen harus dilakukan secara hati-hati dan tidak terburu-buru. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
ILUSTRASI: Sejumlah siswa SDN XVI Kayuringin Jaya mengikuti PTM secara terbatas, belum lama ini. PTM dengan kapasitas siswa 100 persen harus dilakukan secara hati-hati dan tidak terburu-buru. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan kapasitas siswa 100 persen harus dilakukan secara hati-hati dan tidak terburu-buru. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum pelaksanaan PTM 100 persen berlangsung.

Pengamat Pendidikan Tengku Imam Kobul Mohammad Yahya menilai Dinas Pendidikan sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan pembelajaran tatap muka 100 persen. Sehingga, PTM masih dilakukan secara terbatas.


“Memang saya lihat Disdik ini sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, untuk pelaksanaan PTM 100 persen di Kota Bekasi,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu, (16/1).

Lebih lanjut dikatakan, banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengizinkan sekolah untuk melaksanakan PTM 100 persen. Antara lain, angka level wilayah, persentase capaian vaksinasi, serta sarana dan prasarana sekolah.


Namun, ujar dia, hanya dua hal lain yang harus utama ditekankan oleh Dinas Pendidikan. “Ini umum, tapi yang harus ditekankan adalah Kota Bekasi harus jujur dalam daftar periksa sekolah dan setiap sekolahnya harus memiliki QR PeduliLindungi. Kalau belum ada dua ini saya rasa Kota Bekasi belum layak untuk PTM 100 persen,” ucapnya.

Dirinya berharap, Disdik tidak mengizinkan sekolah yang belum memiliki QR Code PeduliLindungi untuk melaksanakan PTM 100 persen. “Kalau belum punya QR PeduliLindungi, jangan diperbolehkan dulu untuk PTM 100 persen,” jelasnya.

Terkait daftar periksa, Imam menyarankan Disdik memiliki laman resmi berisi informasi kesiapan daftar periksa di setiap sekolah dengan menampilkan angka persentasenya.

“Disdik seharusnya punya website yang bisa diakses oleh masyarakat, agar masyarakat tahu mana sekolah yang sudah siap dan mana sekolah yang belum siap berdasarkan daftar periksa yang dilakukan secara jujur. Dan bisa juga ditampilkan persentasenya,” katanya.

Dikatakannya, Kota Bekasi diharapkan tidak terburu-buru untuk melaksanakan PTM 100 persen. “Jangan terburu-buru, karena kita lihat Jakarta saja sekarang sudah menutup kembali enam sekolah karena penyebaran virus. Makanya harus dilakukan sangat hati-hati,” tukasnya. (dew)