RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Kasus aktif Covid-19 Kota Bekasi melaju kian cepat sejak 24 Januari lalu. Sebanyak 54 sampel sudah dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS). Perbaikan sarana dan prasarana kesehatan oleh pemerintah telah disesuaikan dengan karakter virus varian Omicron, sampel dengan hasil positif diminta untuk melakukan isolasi mandiri atau menggunakan layanan telemedicine, di Kota Bekasi sampai akhir pekan kemarin tercatat ada 3.149 kasus menjalani isolasi mandiri, 73 sisanya berada di Fasilitas Kesehatan (Faskes).
Terakhir tren penyebaran virus terutama varian Omicron direspon oleh Presiden Joko Widodo. Presiden meminta masyarakat untuk tidak panik, hasil sampel positif Covid-19 setiap sampel yang diperiksa diminta untuk menjalani isolasi mandiri selama lima hari di rumah.
Presiden juga menyampaikan sarana dan prasarana Faskes saat ini diperbaiki sesuai dengan karakter virus. Pasalnya, perbedaan karakter virus Omicron juga membuat pola penanganan pada pasien ikut berbeda, kecenderungan gejala yang dinilai tidak berbahaya pada penderitanya membuat tidak semua kasus membutuhkan layanan langsung di Faskes.
Sementara jika gejala batuk, pilek, atau demam muncul ditengah isolasi mandiri, masyarakat diminta memanfaatkan telemedicine, mendatangi Puskesmas, atau dokter terdekat dari rumah.
“Dengan demikian beban Puskesmas sampai Rumah Sakit (RS) bisa berkurang. Ini penting agar fasilitas kesehatan kita bisa lebih fokus menangani pasien dengan gejala berat, maupun pasien lain yang membutuhkan layanan intensif,” kata Presiden belum lama ini.
Catatan kasus aktif Kota Bekasi Sabtu (29/1) kemarin sebanyak 3.222 kasus, sebagian besar menjalani isolasi mandiri di rumah. Hanya sebagian kecil yang berada di 17 RS di Kota Bekasi, satu diantaranya menjalani isolasi mandiri di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta.
Positivity Rate kota Bekasi saat ini tercatat 13,31 persen, temuan kasus sehari terakhir 689 kasus, kasus baru hampir ditemukan di semua wilayah kelurahan, hanya minus Kelurahan Ciketing Udik dan Cikiwul. Dewasa ini, rata-rata temuan kasus baru mencapai 28 kasus per jam, 3 ribu kasus aktif tersebar di 56 kelurahan, tidak ada lingkungan kelurahan nihil kasus Covid-19.
Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus, jumlah sampel yang diperiksa juga bertambah banyak. Sepekan terakhir, ada lebih dari 15 ribu sampel diperiksa menggunakan PCR, lebih dari 31 ribu sampel diperiksa menggunakan rapid test antigen.
Sampai dengan akhir pekan, belum ada sampel positif varian Omicron diterima oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi hasil dari pemeriksaan menggunakan metode WGS. Tingginya tingkat penyebaran virus membuat Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto menduga sudah ada penyebaran Omicron di wilayahnya.
“Jadi sementara ini kita berasumsi, merek mungkin Omicron, bukan lagi delta. Karen semuanya hampir OTG, tanpa ada gejala yang signifikan, tapi begitu di tes dia positif,” kata Tri.
Sejumlah upaya dilakukan oleh Pemkot Bekasi untuk bersiaga, diantaranya melakukan monitoring dan evaluasi oleh Forkopimda, menekankan kembali operasi penegakan hukum, hingga mempersiapkan RS, tempat karantina mandiri, dan oksigen. Sebanyak 50 ribu persediaan masker yang dimiliki oleh Pemkot Bekasi segera disebar di lingkungan masyarakat.
“Kita sudah mempersiapkan, hari ini sudah ada tiga lantai yang kita persiapkan di gedung F (RSUD dr Chasbullah Abdulmajid), nanti kita persiapkan lagi di gedung E, untuk kemudian dipersiapkan terkait dengan lonjakan yang ada,” tambahnya.
Catatan tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Ratio (BOR) Kota Bekasi saat ini masih di angka 29 persen, total merawat 259 pasien, 33 persen diantaranya ber-KTP luar Kota Bekasi.
Pemkot Bekasi hingga pekan kemarin telah mengirimkan 54 sampel untuk dilakukan pemeriksaan WGS. Dari jumlah tersebut, Pemkot Bekasi masih menunggu hasil pemeriksaan 33 sampel yang belum selesai dilakukan pemeriksaan.
“Dari sampel yang dikirim, dengan hasil 17 sampel varian Delta, empat (hasil pemeriksaan sampel) tidak terbaca, dan sisanya belum ada hasil,” ungkap Sekretaris Dinkes Kota Bekasi, Nia Aminah Kurniati.
Penularan virus yang terjadi saat ini berada pada transmisi komunitas, sebesar 24,85 persen, pasien yang dirawat di RS 2,76 persennya transmisi komunitas. Nia mengingatkan warga Kota Bekasi untuk melakukan pencegahan, kepatuhan masyarakat terhadap Prokes atau 5M menjadi kunci penting menahan laju pertumbuhan kasus.
“Pemerintah Kota Bekasi berupaya untuk meningkatkan tracing dan testing, mempersiapkan tempat isolasi dan Rumah Sakit, serta meningkatkan capaian vaksinasi, termasuk vaksinasi booster,” tukasnya.
Sebelumnya, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman kepada Radar Bekasi menyampaikan bahwa situasi saat ini sebagian besar kasus Covid-19 di Indonesia terinfeksi varian Omicron. Besar kemungkinan kasus aktif Covid-19 yang belum terdeteksi saat terinfeksi Omicron, terlebih di Jabodetabek.
Masa krisis gelombang ketiga Covid-19 diprediksi terjadi di bulan Februari hingga Maret mendatang. Ia meminta pemerintah tidak menganggap remeh kasus Omicron yang ia sebut akan memberi dampak jangka panjang. Vaksinasi dosis lengkap dan perubahan pada tata laksana tiap leveling pada PPKM dinilai menjadi solusi jalan keluar ancaman infeksi virus Omicron.
“Apalagi kalau (vaksinasi dosis lengkap) sudah 80 persen, artinya ke arah Lockdown itu makin jauh,” ungkap Dicky.
Saat ini, capaian vaksinasi dosis satu berdasarkan Fasilitas Kesehatan menginjak lebih dari 1,7 juta orang atau 88,24 persen, dosis dua lebih dari 1,4 juta orang atau 73,56 persen, dan booster lebih dari 62 ribu orang atau 3,10 persen dari total sasaran vaksinasi. (Sur)











