RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gelombang Varian Omicron di Kota dan Kabupaten Bekasi masih tinggi. Bahkan, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi serta Tenaga Kesehatan (nakes) terkonfirmasi positif. Sementara itu, pemerintah meprediksi puncak gelombanng tiga terjadi pekan ini, setelah itu kembali turun. Masyarakat bisa menjalani hidup normal selama mentaati Protokol Kesehatan (Prokes) serta telah divaksin.
Di Bekasi, grafik kasus aktif masih naik turun tak menentu. Kota Bekasi khususnya, pernah berada di 3 ribu kasus ditemukan dalam satu hari, kemudian sepekan turun konsisten rata-rata 2 ribu kasus per hari, terakhir pada 15 Februari grafik naik kembali di 3 ribu kasus.
“Di Kota Bekasi kami belum bisa menyampaikan bahwa ini sudah terjadi penurunan kasus, ini grafiknya masih turun naik. Mudah-mudahan nanti kalau sudah turun, itu akan turun terus,” kata Kepala Dinkes Kota Bekasi, Tanti Rohilawati, Rabu (16/2).
Kabar baik bagi DKI Jakarta bukan tidak mungkin terjadi di Kota Bekasi, dua wilayah ini tergabung dalam satu wilayah aglomerasi ditambah dengan beberapa kota dan kabupaten lain di Jabodetabek. Selama perjalanan pandemi Covid-19, situasi yang terjadi di satu daerah akan mempengaruhi daerah lain di sekitarnya.
Prediksi terakhir dari epidemiolog, gelombang varian Omicron yang terjadi di awal tahun ini terjadi sampai akhir bulan Februari atau pertengahan Maret mendatang. Vaksinasi sebagai salah satu syarat hidup normal masih menjadi pekerjaan rumah Pemkot Bekasi, terutama pada sasaran lansia.
Dinas kesehatan telah menentukan target sampai akhir bulan Februari capaian vaksinasi mencapai 70 persen, saat ini target capaian masih di angka 60 persen sejak dilaksanakan door to door empat hari ini. “Dari hari Minggu sampai sekarang hari Rabu, itu dimulai dari semula capaian vaksinasi Lansia berdasarkan Faskes di 58 persen sekarang 60,05 persen. Alhamdulillah terjadi peningkatan,” tambahnya.
Vaksinasi kelompok Lansia sempat menjadi sorotan lantaran capaian masih rendah. Pemerintah kota meminta masyarakat dalam kelompok lansia dan keluarga yang memiliki anggota keluarga berusia Lansia untuk memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah berupa vaksin geratis, sehingga tujuan melindungi kelompok masyarakat ini bisa tercapai.
Nakes sebagai salah satu kelompok rentan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di pusat layanan kesehatan tidak pernah luput dari resiko terpapar. Sejak terjadi gelombang kasus dewasa ini, tercatat ratusan Nakes terpapar, mulai dari Dinkes, Puskesmas, hingga Rumah Sakit (RS). “Yang terkonfirmasi saat ini di lingkup Dinkes ada 225, ada di Dinkes, Puskesmas, dan rumah sakit,” tukasnya.
Pihaknya telah mengirimkan nota dinas kepada ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi terkait dengan situasi yang terjadi pada Nakes, saat ini Dinkes masih menunggu langkah yang akan diambil. Meski demikian, Tanti menjamin layanan kesehatan bagi masyarakat tidak terganggu.
Selain Nakes, pegawai pemerintah juga menjadi salah satu yang memiliki resiko, setiap terjadi lonjakan kasus tinggi, mereka diikutsertakan bersama dengan semua unsur seperti TNI dan Polri untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Dua bulan terakhir total ada 489 orang pegawai pemerintah yang terpapar Covid-19.
“Pegawai pemerintah yang terpapar untuk TKK 244, PNS 245,” ungkap kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bekasi, Karto.
Karto menjelaskan saat ini pegawai pemerintah diterjunkan ke lingkungan masyarakat untuk menertibkan disiplin Prokes dan sosialisasi kepada masyarakat. Situasi ini juga pernah dilakukan beberapa kali saat terjadi lonjakan kasus.
Terpisah, Sebanyak 204 tenaga kesehatan (Nakes) di Kabupaten Bekasi terkonfirmasi positif Covid-19. Dimana, 41 orang diantaranya sudah berhasil sembuh, sementara sisanya masih menjalani Isolasi Mandiri (Isoman). Mereka terpapar karena kontak erat dengan yang terkonfirmasi positif Covid-19, dan kondisi tubuhnya sedang menurun (kurang sehat).
“Ya sekarang data terbaru ada 204 Nakes yang terpapar Covid-19. Sebelumnya hanya 135 Nakes,” ujar Wakil Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi, Masrikoh, kepada Radar Bekasi, Rabu (16/2).
Perempuan yang akrab disapa Ikoh ini menuturkan, Nakes yang terpapar hampir di seluruh Puskesmas di Kabupaten Bekasi. Seperti di Puskesmas Sukaindah ada 15 Nakes, Babelan 1 ada 11, Karang Bahagia ada 10, termasuk di Dinas Kesehatan ada 6. Sementara untuk yang lainnya rata jumlahnya dibawa sepuluh kasus. “162 Nakes masih menjalani Isoman, satu dirawat, dan 41 sudah sembuh,” tuturnya.
Menurutnya, penyebaran wabah Covid-19 di kalangan Nakes ini karena ada masyarakat yang tidak jujur saat terpapar Covid-19. Akhirnya, para Nakes menjadi kontak erat dengan yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kendati demikian, masih ada faktor-faktor lainnya yang menyebabkan Nakes terpapar.
“Bisa karena kondisi saat itu lagi kurang sehat, atau kontak erat dengan yang terkonfirmasi, bisa juga karena prokes,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Sry Enni Mainarti menuturkan, penyebaran kasus positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi memang terus mengalami peningkatan, namun dirinya belum bisa memastikan ada berapa yang terpapar Omicron, mengingat membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hasilnya. “Sekarang kasus aktif 67.797 di Kabupaten Bekasi, sementara vaksinasi 208.265.720,” jelasnya.
Saat ini dirinya sudah meminta rumah sakit meningkatkan kembali kapasitas tempat tidur. Walaupun diharapkan tidak terisi, tapi harus diantisipasi seperti itu. Sekarang di RSUD ada 28 bor yang terpakai, jumlah tersebut terus meningkat. Kendati demikian, pihak rumah sakit sudah membuat skenario untuk mengantisipasi gedung-gedung menjadi tempat isolasi Covid-19.
“Ini meningkat terus, untuk tempat tidur rumah sakit sudah ditambah. Bahkan, BPBD akan siapkan tenda, kalau misalnya tempat tidur dikhawatirkan kurang,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan masyarakat tetap dapat melakukan aktivitas normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.”Kalau itu sudah dijalani (taat protokol kesehatan), ya tetap hidup normal. Boleh bekerja, boleh ke mall. Tapi jangan lupa sekarang lagi musim Covid-19, pakai masker dan vaksinasinya dikerja,” ungkap Menkes Budi dalam konferensi pers
Menkes Budi menyampaikan hidup normal di tengah pandemi Covid-19 sama halnya seperti saat kita menghadapi musim hujan yang rentan terkena flu. Maka dari itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada agar tak terinfeksi.
“Yang simpel-simpel saja, kalau misalnya sekarang lagi musim hujan dan kita lagi musim flu, jangan keluar hujan-hujanan, keluar pakai payung atau jas hujan. Sekarang sama juga kalau Covid-19 lagi naik, protokol kesehatannya, masker tetap dipakai, vaksin tolong dilengkapi,” katanya. (sur/pra)











