Berita Bekasi Nomor Satu

Resiko Kematian Tinggi

ILUSTRASI : Lansia mendapatkan dosis vaksin Covid-19 disalah satu Rumah Sakit Swasta di Bekasi, belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tugas Tenaga Kesehatan (Nakes) dan aparatur pemerintah tingkat kelurahan di Kota Bekasi kini bertambah. Selain memfasilitasi warga untuk vaksin, mereka juga harus merayu warga khususnya lanjut usia (Lansia) agar bersedia di vaksin. Pasalnya, ribuan Lansia di Kota Bekasi menolak divaksin sejak dosis satu, sementara resiko sakit berat dan kematian saat terpapar Covid-19 lebih tinggi pada salah satu kelompok rawan ini.

Selama ini sangat di wanti-wanti kelompok rawan diantaranya Lansia, masyarakat yang memiliki komorbid, dan masyarakat yang belum mendapat suntikan vaksin sama sekali untuk mentaati Protokol Kesehatan (Prokes) dan segera mendapat suntikan vaksin. Menteri Kesehatan (Menkes) beberapa waktu lalu di Kota Bekasi menyampaikan bahwa pasien dengan gejala berat dan meninggal dunia adalah kelompok masyarakat yang belum menerima vaksin sama sekali maupun baru mendapat satu dosis.

Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menilai pertimbangan pemerintah untuk tidak fokus pada jumlah kasus aktif lantaran gejala yang ditimbulkan ringan boleh saja dilakukan. Namun dengan catatan harus diimbangi dengan pelaksanaan booster tinggi dan cepat pada semua kelompok masyarakat.

Jika tidak, atau kecepatan vaksinasi booster sama dengan yang terjadi saat ini, maka berpotensi gagal melindungi banyak orang. Akibatnya, kematian akan terus bertambah dan tinggi, angka kesakitan juga akan membebani Faskes.

Saat ini, proteksi pada kelompok rawan dinilai masih jauh dari yang diharapkan, baik dosis satu, dua, terlebih booster. Jika tidak segera direspon oleh pemerintah maka potensi fatalitas tinggi.”Bukan hanya lansia atau komorbid, banyak masyarakat yang belum mendapat dua dosis atau belum divaksin. Nah ini yang harus direspon, kita belum melewati fase kritis, dan kalau tidak cepat merubah strategi dampaknya bisa serius,” paparnya, Selasa (22/2).

Sampai dengan saat ini, Dicky belum melihat alasan kuat untuk mengatakan wilayah Jawa, termasuk Jabodetabek sudah melewati puncak gelombang ketiga. Pasalnya, jumlah kasus aktif belum terdeteksi di masyarakat tinggi serta, jumlah testing dianggap menurun.

Ditambah dengan munculnya sub varian BA2 virus Omicron yang ia pastikan sudah ada di Indonesia. Keterbatasan kemampuan surveilans genomik di Indonesia akan sulit mengetahui keberadaan dan penyebarannya.

Ia meminta respon penanganan pandemi tidak boleh menurun, apalagi menganggap ringan. Sub varian virus ini dianggap lebih berpotensi menimbulkan infeksi lebih serius dibandingkan virus yang ada saat ini.”Ditambah lagi dengan potensi dampak dari sub varian BA2 yang bisa lebih serius dari BA1, dan itu sudah ada di Indonesia,” tambahnya.

Untuk diketahui, para ilmuwan telah memperingatkan munculnya sub varian BA2. Hasil eksperimen laboratorium baru dari Jepang menunjukkan bahwa sub varian BA2 dari varian Omicron mungkin memiliki fitur yang membuat varian ini mampu menyebabkan infeksi serius seperti varian Delta.

Vaksinasi masih digenjot oleh Kota Bekasi, belakangan digelar gebyar vaksinasi di lingkungan Stadion Patriot Candrabhaga, dilanjutkan dengan strategi door to door di masing-masing wilayah kelurahan. Hasilnya, capaian vaksinasi berdasarkan Faskes saat ini bertambah di angka 95.559 jiwa atau 61,22 persen. Sementara berdasarkan KTP, capaian lansia bertambah di angka 127.453 jiwa atau 81,62 persen.

Berdasarkan data hasil validasi sasaran vaksinasi kelompok Lansia, ada 204.729 Lansia di Kota Bekasi. Data ini didapat dari Data Konsolidasi Bersih (DKB) dan rekapitulasi By Name By Address (BNBA), dinamika lapangan membuat Kota Bekasi musti melakukan evaluasi kembali.”Nah makanya ini catatan kita, termasuk pak Kapolres, pak Dandim, beserta camat dan lainnya kita lagi verifikasi data,” kata Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto.

Total ada 24.636 jiwa tidak lagi dapat dijumpai sesuai dengan alamat yang tertera. Diantaranya 12 ribu jiwa telah meninggal dunia, 10 ribu jiwa pindah alamat, seribu tidak diketahui keberadaannya.

Dari 200 ribu jiwa lebih Lansia di Kota Bekasi, hasil validasi mengerucut sampai di angka 180.093 jiwa. Data ini rencananya akan dikomunikasikan dengan pemerintah pusat, hasil verifikasi memungkinkan jumlah sasaran lebih sedikit, sehingga capaian vaksinasi bisa tercatat lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Permasalahan tidak selesai pada data hasil validasi penduduk, ada ribuan lansia tercatat menolak vaksin.

“Masih cukup banyak, hampir sekitar delapan ribu warga kita yang masih menolak vaksin. Jadi saya kira butuh sosialisasi,” tambahnya.

Kembali merebaknya kasus aktif Covid-19 di Kota Bekasi membuat upaya vaksinasi kepada seluruh kelompok masyarakat membutuhkan percepatan. Kota Bekasi sempat mendapat sorotan pada capaian vaksinasi kelompok lansia yang beberapa waktu lalu masih di angka 58 persen.

Jumlah kasus aktif kian bertambah, data terakhir mencatat 25.171 kasus aktif, 613 diantaranya bergejala sehingga berada di Rumah Sakit (RS) untuk mendapat penanganan medis. Tambahan kasus aktif rata-rata tiga hari terakhir berada di angka dua ribu kasus.”Sekarang kita levelnya di dua ribuan, jadi mungkin angkanya mulai menurun lah. Tapi yang sembuh sudah naik,” tukasnya.

Data terakhir yang diterima oleh Radar Bekasi, Angka kematian kembali menghiasi kurva penanganan Covid-19 awal tahun ini. Total ada 11 kasus kematian di Kota Bekasi sejak bulan Januari, kasus kematian tinggi periode awal tahun terjadi pada tanggal 8 Februari lalu, lima kasus kematian dalam sehari.

Belasan kasus kematian ini berdasarkan usia terdiri dari satu kasus dibawah usia lima tahun, enam kasus pada usia 20 sampai 59 tahun, empat kasus pada usia diatas 60 tahun. Sementara berdasarkan status vaksinasi, paling banyak 7 kasus kematian pada kelompok masyarakat yang belum sama sekali divaksin, tiga kasus kematian juga terdata tidak memiliki komorbid.

Di masing-masing wilayah, Nakes, TNI, Polri, PNS, Satgas Pamor, Kader PKK dan Posyandu bergerak mendata, mengedukasi, hingga menuntaskannya sampai divaksin. Salah satunya di wilayah Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, dari 6.510 jiwa Lansia yang terdata berada di wilayah tersebut, 3.763 sudah menerima suntikan vaksin, 714 divaksin di luar Kota Bekasi, 300 dituntaskan vaksinasi lengkapnya selama beberapa hari kemarin.

Tersisa data sebanyak 900 jiwa yang belum divaksin sama sekali setelah divalidasi oleh petugas di lapangan, sisanya meninggal, pindah alamat, hingga tidak diketahui keberadaannya. Verifikasi dilakukan berlapis, mulai dari memilah daftar lansia berdasarkan status vaksinnya, kemudian dicocokkan dengan data yang diberikan oleh RT dan RW, terakhir petugas turun langsung untuk memastikan keberadaan berikut dengan kondisi kesehatannya.

“Meskipun sudah dapat dari RT dan RW, itu kita ulangi lagi, verifikasi ada nggak. Lalu kalau dia ada komorbid, komorbidnya apa,” terang Lurah Pejuang, Isnaini.

Setelah mengantongi data yang dipastikan benar-benar valid, petugas mulai bergerilya ke rumah-rumah, berbagai cara dilakukan. Mulai dari pendekatan emosional petugas dengan warga, pendekatan keperempuanan melalui kader PKK dan Posyandu, hingga memanfaatkan sembako. Minimal dua Nakes Puskesmas diminta untuk siaga dan segera meluncur sesaat setelah mendapatkan informasi warga berhasil dibujuk untuk vaksin.

Hasilnya, ada warga Lansia yang tidak bersedia divaksin. Alasannya memiliki komorbid, dalam keadaan sakit, masih ragu-ragu, merasa sudah tua sehingga tidak bepergian keluar rumah, hingga disarankan oleh keluarga untuk tidak divaksin karena alasan tertentu.

“Jujur kalau yang mau ya mau, tapi kalau kita lihat data itu kan orang-orang yang lahirnya tahun 40, 50, memang usia benar-benar sepuh. Alhamdulillah satu dua itu setiap hari pasti ada,” ungkapnya.

Asa belum habis, sosialisasi masih berjalan di setiap momen kegiatan masyarakat, kembali mendatangi rumah-rumah Lansia berharap diantara mereka ada yang berubah pikiran, mau divaksin. Harapan masih tersimpan pada kelompok yang belum jelas diketahui komorbidnya dengan surat atau keterangan dokter, ragu, dan tidak mau divaksin hanya karena alasan usia.

“Itu kita datangi terus, dengan harapan kalau misalnya mereka yang masih ragu, lalu yang kemarin tensinya tinggi kita datangi lagi dengan pendekatan yang berbeda lalu tensinya turun bisa divaksin,” tukasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan tiga hari terakhir trend kasus aktif di Provinsi Jawa Barat juga mengalami penurunan. Meski angka kasus tinggi, ia meminta masyarakat tidak terlalu khawatir.

Pada gelombang virus Omicron ini, fokus cenderung diberikan lebih pada tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di RS. Di sisi lain dari karakter varian virus yang cepat menular ini, penyembuhan pasien disebut relatif singkat, berkisar 2 sampai 3 hari.”Karena kalau dulu (gelombang virus Delta) dengan jumlah sekarang, BOR itu 90 persen. Kalau sekarang Omicron se Jawa Barat rata-rata hanya 30 persen,” ungkapnya. (Sur)