RADARBEKASI.ID, BEKASI – Makin larut kapal makin jauh meninggalkan titik keberangkatan, pemandangan tidak terlihat, gelap, hanya cahaya lampu yang tampak di kejauhan. Hari berikutnya Kamis (17/3) tim Gerakan Anak Negeri (GAN) Radar Bekasi Group tiba di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sudah disambut keindahan alam sejak dari kejauhan.
Laporan : Surya Bagus
LOMBOK BARAT
Kencangnya hembusan angin di deck kapal Kapal Motor (KM) Kirana VII semakin malam terasa semakin menusuk badan. Sehingga mayoritas penumpang termasuk tim mengenakan baju hangat ketika berada di deck kapal.
Malam hari di deck kapal dihabiskan untuk menunggu kantuk, bercengkrama satu sama lain, sebagian besar dari mereka malam itu adalah laki-laki. Waktu malam dihabiskan di deck lambung kiri dan kanan kapal, di tempat duduk yang sudah tersedia, hingga duduk tepat di bawah tangga menuju deck paling atas kapal.
Tiupan angin membuat suhu di bagian luar kabin menjadi dingin, tapi perbincangan di berbagai sudut kapal nampaknya terasa hangat. Sesekali mereka tertawa, gelas kopi terbuat dari bahan dasar kertas diangkat, lalu menyalakan rokok lagi.
Kopi dan rokok sebagai teman saat berbincang atau hanya sekedar menghabiskan waktu luang kerap lalu meninggalkan cerita sampah berserakan bagi mereka yang tidak sadar. Bagi mereka yang sadar, puntung rokok dikumpulkan lalu dibuang saat perbincangan diputuskan selesai, atau saat aktifitas seorang diri di satu tempat sudah selesai.
“Permisi mas,” kata salah satu petugas saat mendekat, Rabu (16/3) malam.
Dua pasang kaki diangkat seraya mempersilahkan petugas untuk menyapu puntung rokok beserta abunya. Setelah bersih, petugas berlalu. Selama berada di deck kapal, petugas tadi bukan satu-satunya yang datang dan meminta izin membersihkan sampah puntung rokok maupun sampah lain bekas makan atau minum, beberapa kali petugas berseragam orange keliling sampai tengah malam.
Tiap sudut kapal nampak relatif bersih, pengakuan semacam ini muncul dari penumpang yang sudah tidak asing dengan perjalanan laut, salah satu dari penumpang yang mengakui kebersihan kapal ini merupakan pengusaha yang bergerak di bidang ekspedisi. Tidak heran penumpang nampak tidak segan duduk tanpa alas, keluar masuk kamar kecil, antrian kamar kecil bahkan terlihat Kamis (17/3).
Penumpang masih antri untuk membersihkan badan setelah semalaman berada di atas kapal sekira pukul 10:00 WIB. Di atas kapal, kamar kecil penumpang, petugas, dan pengemudi kendaraan ekspedisi terpisah.
Di dalam salah satu kamar kecil pengemudi, alat gantung pakaian dan wadah untuk menaruh alat mandi tertata rapi. Untuk membersihkan badan, kmar mandi dilengkapi dengan shower, serta closet cukup bersih untuk buang air besar. Bersih-bersih area deck kapal oleh petugas juga sempat disaksikan pada saat penumpang baru saja naik ke atas kapal.
Kapal Motor (KM) Kirana VII diluncurkan akhir Juni tahun lalu, peresmian dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno di pelabuhan Benoa, Bali pada bulan Desember 2021.
Kapal ini berkapasitas 561 penumpang, 21 Unit truk, dan 20 mobil jenis sedan. Di dalam kabin, ada 16 kursi VIP, ekonomi tidur 1 untuk 144 orang, ekonomi 2 untuk 72 orang, ekonomi 3 untuk 90 orang, dan ekonomi duduk 176 orang. Ruang pengemudi terpisah dengan kapasitas 63 orang.
Kapal jenis Roll on-Roll off (Ro-Ro) ini memiliki fasilitas cukup lengkap, di deck paling atas, tersusun rapi meja beserta tempat duduknya untuk penumpang bercengkrama, di tempat yang sama juga ada ruang bermain anak. Selain itu kapal juga dilengkapi mushola, kafetaria, dan area pertunjukan music.
Siang hari terasa sangat terik di area deck kapal, nampak hanya beberapa penumpang di bagian deck belakang kapal, disini biasa penumpang berkumpul, makanan dan minuman bisa dibeli disini.
“Jam berapa ini sampai katanya ?,” Kata salah satu penumpang seraya mengeluh panas terasa sangat terik siang itu, Kamis (17/3).
Sudah beberapa kali penumpang bertanya hal yang sama. Nampaknya mereka ingin segera tiba di tujuan.
Perairan laut relatif tenang selama perjalanan, guncangan di tengah laut sempat dirasakan beberapa saat. Namun, guncangan kapal masih relatif kecil.
Di saat itu juga satu keluarga datang ke kafetaria, suami istri dan satu anak laki-laki mereka. Satu keluarga ini ternyata berangkat dari Bekasi, mereka adalah warga Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.
Keluarga ini merupakan anggota komunitas mobil Subaru. “Saya berangkat tanggal 14, sampai di Surabaya tanggal 15 lalu kita nginep dulu di Surabaya, tanggal 16 nya baru berangkat (naik kapal),” kata salah satu warga Kota Bekasi yang berada di kapal ini, Saiful saat menemani keluarganya membeli makanan dan minuman di bagian belakang kapal.
Lima mobil Subaru berangkat beriringan dari Bekasi, tidak semua berangkat bersama anggota keluarga, terkhusus istri. Hanya Saiful saja yang membawa keluarganya pergi via jalur darat. Teman-teman yang lain berangkat seorang diri, istri mereka berangkat naik pesawat.
“Kalau saya bersama dengan anak dan istri, karena istri tidak mau ninggalin saya katanya,” ungkapnya membanyol.
Setibanya di Lombok nanti, Saiful dan kawan-kawannya akan berjumpa dengan anggota club dari berbagai daerah. Selama berada di Lombok, selain menonton ajang balap MotoGP, mereka juga berencana untuk mengeksplor tempat wisata dan kuliner.
Saiful dan keluarga nantinya akan bertahan di Lombok dan melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Keluarga ini memutuskan kembali ke Kota Bekasi akhir bulan Maret.
“Saya rencana sampai akhir bulan mas. Tanggung, sudah mau puasa juga, awal bulan nanti kan sudah puasa,” tukasnya sebelum kembali ke kabin.
Pukul 14:13 WITA, kapal bersiap menepi di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Luas nan indah sudah tampak dari kejauhan, beberapa pulau kecil nan indah tidak jauh dari pelabuhan juga ikut menyambut, seakan melambai-lambai.
“Kita akan bersandar di pulau Lombok. Kurang lebih sekitar 22 jam kita mengarungi lautan dari Surabaya menggunakan kapal Ferry KM Kirana VII,” kata konten kreator Radar Bekasi, Didik Ruyatman sesaat sebelum bersandar.
Ekspedisi Gerakan Anak Negeri episode Spirit Of Mandalika akan membuat konten kreatif, inspiratif, dan positif berkaitan dengan ajang balap MotoGP hingga pariwisata selama berada di Mandalika. Ajang balap dunia di Indonesia tahun ini merupakan ajang pertama kali sejak tahun 1997 silam di Sirkuit Sentul, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
“Mudah-mudahan hari ini kita tim rombongan Radar Bogor Group, khususnya Radar Bekasi bisa menyaksikan MotoGP. Dimana 25 tahun yang lalu itu sangat meriah, mudah-mudahan tahun ini bisa lebih meriah karena banyak sekali surprise yang diberikan oleh Lombok dan warga Indonesia,” tambahnya. (bersambung)











