RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kekosongan vaksin Booster beberapa hari terakhir, membuat sejumlah warga di Kabupaten Bekasi merasa waswas tidak bisa mudik lebaran lagi tahun ini. Pasal, vaksin dosis ketiga atau Booster menjadi salah satu syarat mudik 2022. Sementara pemerintah Kabupaten Bekasi hingga saat ini belum mengetahui kapan akan menerima dosis vaksin dari pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Seperti pengakuan Yanto (41), warga perumahan Karang Satria Kecamatan Tambun Selatan ini mengaku sejak sepekan terakhir mencari dosis vaksin Booster, tapi selalu kehabisan,”Dan terakhir hari senin kemarin katanya sudah habis,”katanya.
Karyawan swasta ini mengaku khawatir tidak bisa mudik lagi tahun ini, karena belum melengkapi salah satu syarat mudik lebaran,”Sudah dua tahun tidak mudik. Tahun ini diusahakan harus mudik,” katanya kepada Radar Bekasi, kemarin.
Senada juga dirasakan Sheila (20), warga asal Cikarang ini harus bersabar karena kesulitan mendapatkan vaksin Booster. Padahal, dirinya sudah mendatangi beberapa lokasi layanan vaksin “Sudah cari tadi ke beberapa tempat, terus katanya disini (stasiun) ada. Ekh, disini kehabisan,” ungkapnya.
Wakil Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi, Masrikoh mengaku persediaan vaksin booster sudah habis sejak senin (28/3) kemarin. “Biasanya kalau sudah di Gedung Dinas Kesehatan Provinsi langsung dikirim, tapi enggak tau juga belum ada info. Yang pasti Minggu-Minggu ini pasti turun,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (29/3).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi ini menuturkan, kekosongan vaksin booster ini karena permintaan yang tinggi. Sementara sebelumnya antusias warga sangat rendah, sehingga pihaknya menyiapkan dosis sedikit.
“Kadaluarsanya sebentar, hanya satu Minggu, makanya kita mendingan nyicil sesuai kebutuhan yang sudah direncanakan. Sebelumnya, kita mengusulkan 20 ribu, nyatanya masih tersisa banyak,” katanya sembari mengaku, pihaknya sudah mengusulkan 6000 dosis vaksin booster.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Bekasi. Meskipun tak sampai kehabisan, namun untuk mendapatkan vaksin booster saat ini sangat sulit, karena persediaan yang menipis. Hingga kemarin, menyisakan empat merk vaksin saja, yakni Sinovac 61 ribu dosis, Astrazeneca 760 dosis, Moderna 1.900 dosis, dan Covovax 1.600 dosis, Sinopharm dan Pfizer kosong.
Sementara pada tanggal 27 Maret yang lalu, persediaan vaksin booster di sentra vaksin GOR Stadion Patriot Candrabhaga kosong, di RSUD dr Chasbullah Abdulmajid hanya ada moderna 308 dosis, di Puskesmas masih memiliki stok vaksin Astrazeneca dan Moderna untuk booster. Sedangkan selasa kemarin, sejumlah puskesmas mengaku kehabisan stok vaksin.
“Di GOR, kemudian di beberapa puskesmas, kita berharap hari ini datang vaksinnya,” ungkap Staf Khusus Walikota Bekasi Bidang Kesehatan, Sudirman, Selasa (29/3).
Awal pekan kemarin, Pemkot Bekasi telah mengajukan penambahan stok vaksin kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Total Pemkot mengajukan 2.500 vial vaksin, terdiri dari 1.500 vial merk Astrazeneca dan 1000 vial merk Moderna. Jika booster diberikan masing-masing setengah dosis setiap orang sesuai ketentuan regimen dosis booster, maka tambahan stok vaksin ini bisa memenuhi kebutuhan booster bagi 50 ribu jiwa.“Kalau astraZeneca kan setengah dosis, jadi dikali 20, jadi sekitar 30 ribu,” tambahnya.
Dia juga menyarankan kepada warga untuk mencari informasi lokasi pelayanan vaksinasi melalui media social, serta mendaftar secara online. Tiga lokasi layanan vaksinasi di Kota Bekasi kemarin juga mayoritas yang datang telah mendaftar secara online.
“Sebaiknya masyarakat saat ini cari informasi pelayanan vaksin melalui media social ya, dan nanti pendaftaran juga kalau bisa online gitu. Jadi supaya tidak capek nyari. Kalau online kan berarti di layanan itu sudah menyediakan (vaksinasi booster,” tukasnya.
Terkait dengan persyaratan mudik, Pemkot Bekasi masih mengkaji kemungkinan untuk membuka sentra layanan vaksinasi di simpul-simpul transportasi seperti terminal dan stasiun.
Pertengahan pekan kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan secara daring bahwa total pemerintah sudah menerima 475 juta vaksin, sudah terpakai 395 juta vaksin, tersisa 80 juta dosis vaksin. Sisa vaksin diyakini bisa untuk mengamankan proses layanan vaksinasi empat bulan mendatang.
Rata-rata pemakaian vaksin sepekan berkisar lima sampai enam juta. Jika terjadi peningkatan animo dalam jumlah besar mendekati mudik lebaran, persediaan yang ada diklaim cukup.
“Seminggu rata-rata 5 juta ,6 juta lah seminggu, jadi kalau kondisi normal ya 20 jutaan lah satu bulan, yang kita miliki cukup untuk 4 bulan stok. Jadi masih cukup untuk suntikan dosis dua maupun booster kalau dibutuhkan peningkatan yang cukup banyak,” kata Menkes, Budi Gunadi Sadikin.
Setelah diizinkan mudik, survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghasilkan data sebanyak 80 juta orang akan mudik. Aspek Kesehatan pada transportasi mesti diterapkan dari sekarang. Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI, Djoko Setijowarno menilai pusat layanan vaksinasi maupun antigen bagi masyarakat yang belum mendapat dosis ketiga disediakan di simpul-simpul transportasi.
Komorbid perlu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang berencana mudik menggunakan kendaraan pribadi. Saran dari ahli Kesehatan dinilai perlu dilakukan bagi mereka yang memiliki komorbid.
“Pemudik yang menggunakan angkutan umum tinggal memilih akan vaksin ketiga atau tes antigen, karena bisa saja ada pemudik yang belum boleh vaksinasi ketiga,” paparnya.
Di sisi pemulihan ekonomi akibat dua kali lebaran dibatasi pandemi, mudik gratis bisa memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat ekonomi menengah kebawah sampai Perusahaan Otobus (PO). Pengguna kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua juga berpeluang mengangkat perekonomian masyarakat di sepanjang jalur mudik. Djoko mengingatkan bahwa pemberhentian pemudik di jalan tidak efektif, sehingga tidak perlu lagi dilakukan.
“Agar tidak lagi dilakukan pencegatan di jalan karena tindakan itu tidak efektif,” tukasnya. (pra/sur)











