Biaya Operasional Membengkak

NAIK: Harga telur ayam di Pasar Kranji, Kota Bekasi dijual Rp 26 ribu per kilogram. Kenaikan terjadi jelang Ramadan 1443 Hijriah. MG4/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Wacana naiknya harga BBM Pertamax dikeluhkan sejumlah pengemudi taksi daring yang selama ini menggunakan BBM Pertamax untuk kendaraan operasional mereka. Terlebih adanya kabar kenaikan harga hingga mencapai Rp16 ribu.

Mereka mengaku memilih bahan bakar terbaik untuk menjaga kendaraan operasional. Namun jika harga pertamax bakal melonjak, opsi beralih ke bahan bakar pertalite menjadi pilihan atau mereka merogoh kocek lebih dalam untuk biaya operasional. Terlebih mereka harus tetap mengikuti tarif sesuai aplikasi.


“Kalo menurut saya tentang masalah kenaikan ini membebani bagi para driver, karena sebagian juga ada yang pakai Pertamax. Kalau mau menggunakan Pertalite, tapi dari segi mesin mobil pun itu disarankannya pertamax,” ujar Agung (23) salah satu pengemudi taksi daring kepada Radar Bekasi Rabu, (30/3).

Ia mengaku mendapat informasi tentang wacana kenaikan BBM Pertamax di salah satu media daring. Sepengetahuannya kenaikan BBM juga terjadi di beberapa negara di Asia seperti yang dialami oleh Negara China.


“Pernah baca, cuman kan waktu di berita ada wacana kenaikan BBM, di Asia mau naik semua, kayak di China itu udah pada naik kan, disini jadinya belum dinaikin,” tuturnya.

Agung menerangkan setiap harinya ia paling sedikit harus merogoh kocek Rp 100 ribu untuk pembelian bahan bakar Pertamax yang saat ini dengan harga Rp 9.500 per liter. Jika ada kenaikan, ia mengaku merasa terbebani di tengah menurunnya jumlah penumpang saat ini. Biaya operasional otomatis bakal membengkak. Mereka juga tidak bisa menaikan tarif karena harus mengikuti ketentuan penyedia aplikasi.

“Kalau saya pribadi namanya juga driver kan keliling terus ya, sehari bisa habis seratus ribu penggunaan BBM pertamax. Kalau pake Pertalite kan Rp 100 ribu bisa dua hari,” kata Agung yang memilih menggunakan Pertamax untuk menjaga performa kendaraannya.

Sementara, terkait informasi resmi rencana kenaikan BBM jenis Pertamax belum diterima pihak Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU) di Kota Bekasi.

Penanggung Jawab SPBU Harapan Mulya, Kota Bekasi, Hernandang (38) mengatakan belum mendapatkan informasi resmi tentang kenaikan harga BBM Pertamax. “Oh belum ada informasinya, jadi kalau kita tinggal ikutin pemerintah aja kalau memang berubah harga ya kita ikut aja,” ujarnya ketika ditemui Radar Bekasi, Rabu (30/3).

Ia juga menjelaskan rumor kenaikan BBM Pertamax langsung ke harga Rp 16.000 ribu per liter terhitung mahal. Sepengetahuannya kenaikan biasanya bertahap mulai dari Rp 500 perak – Rp 1.000 setiap kenaikannya.

“Kalo dari saya ini sih gimana ya, lumayan besar ya mas Rp 16.000 per liter, kita lihat kompetitor juga kan. Harga pesaing berapa, kita bisa dibawahnya dikit, adapun untuk naiknya bertahap mas, kadang Rp 500, kadang juga Rp 1000, gak langsung naik segitu,” tutupnya.

Diketahui, wacana kenaikan harga itu dipicu tren harga minyak dunia yang terus meningkat. Kondisi itu diperparah adanya konflik Rusia dan Ukraina sehingga membuat harga minyak dunia kian melambung. (cr1).