RADARBEKASI.ID, BEKASI – Unjuk rasa gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Indonesia di depan Gedung DPR/MPR RI berakhir ricuh. Aparat kepolisian yang berjaga bahkan sampai menembakan water cannon dan gas air mata ke arah massa. Sementara itu, ketegangan terjadi dalam aksi mahasiswa di depan kantor DPRD Kota Bekasi, senin (11/4)
Ya, aksi saling dorong dan melempar botol dalam aksi ribuan mahasiswa tersebut terjadi usai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, Sufmi Dasco, dan Lodewijk pergi meninggalkan massa aksi yang sebelumnya menemui pengunjuk rasa untuk berdialog.
Sesaat kemudian, massa aksi tiba-tiba saling dorong sambil berteriak bahwa ada provokator. Beberapa di antaranya bahkan melempar botol plastik. Pendemo yang mengamuk kemudian dipukul mundur oleh polisi menggunakan tembakan gas air mata. Massa aksi pun terurai dan berpencar ke arah timur dan barat di Jalan Gatot Subroto, di depan Gedung DPR/MPR. Suara letupan terdengar beberapa kali, diiringi asap yang memenuhi jalanan.
Di Kota Bekasi, ratusan massa aksi menutup dua ruas jalan Chairil Anwar depan Kantor DPRD Kota Bekasi. Ketegangan antara massa dan petugas keamanan sempat terjadi meski tidak menimbulkan tindakan anarkis. Mahasiswa mendatangi kantor DPRD sebagai respon dinamika ekonomi, kenaikan berbagai komoditas ikut membebani masyarakat Kota Bekasi akhir-akhir ini.
Mahasiswa meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengambil sikap pro rakyat atas kenaikan Bahan Pokok, BBM, hingga PPN. Sikap ini sedianya diambil oleh Pemkot Bekasi sebagai wujud pelaksanaan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
“Kenaikan sembako saat ini menjadi polemik yang sangat penting untuk masyarakat menengah kebawah. Karena itu menyebabkan mereka sengsara, serta pelaku UMKM dimana itu menjadi bahan dasar untuk memenuhi keberlangsungan hidup,” kata Koordinator Lapangan Aliansi BEM Kota Bekasi, Rama Fiqri Rahman Amin, Senin (11/4).
Massa mengingatkan bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Mereka meminta DPRD mendeklarasikan bersama-sama dengan aksi massa terkait dengan penolakan kenaikan BBM, kenaikan PPN, dan perpanjangan masa jabatan presiden, serta minta pemerintah segera menstabilkan harga sembako.
Selain isu nasional, massa juga membawa isu lokal yang mesti segera diselesaikan oleh DPRD, yakni belum meratanya jaminan kesehatan di Kota Bekasi, serta berkurangnya kualitas hidup masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.
Massa diterima langsung oleh Ketua DPRD Kota Bekasi, Saifuddaulah. Setelah menemui aksi massa, Saifuddaulah menyampaikan bahwa DPRD telah menyepakati tuntutan yang disampaikan oleh ratusan mahasiswa tersebut.
Hanya saja menurutnya beberapa poin tuntutan yang disampaikan mahasiswa bukan kewenangan wakil rakyat di tingkat kota, melainkan DPR RI.”Cuman kan, kaitannya dengan poin-poin itu kan bukan ranahnya kebijakan DPRD, yang pertama gitu ya. Baik itu masalah kenaikan BBM, baik itu masalah perpanjangan, cuma tadi bagian dari ranah dari DPR Pusat,” ungkapnya.
Sementara terkait dengan permasalahan di tingkat kota, ia menyebut tuntutan massa telah dilaksanakan oleh DPRD. Salah satunya terkait dengan belum meratanya jaminan kesehatan bagi masyarakat Kota Bekasi, disampaikan bahwa Komisi IV DPRD tengah bekerja.”Nah itu akan menjadi spirit bagi DPRD untuk selalu memberikan yang terbaik seperti apa yang diharapkan masyarakat Kota Bekasi,” tukasnya.
Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto yang menemui masa, mengajak mahasiswa bersama-sama mengikuti dinamika yang terjadi. Usai menemui massa, Tri menyampaikan bahwa aspirasi yang telah disampaikan bertujuan untuk mengingatkan pemerintah.
Ia meyakini aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa adalah bentuk kontribusi membangun bangsa. Aspirasi yang diterima akan disampaikan kepada pemerintah pusat.”Ya nanti akan kita laporkan saja ya,” ungkapnya.
Massa berhasil membubarkan diri setelah aspirasinya diterima oleh Ketua DPRD dan Plt Walikota Bekasi. Aspirasi tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada pemerintah di tingkat lebih tinggi, pemerintah provinsi dan pusat.
“Ada dua (aksi demonstrasi) dengan tuntutan yang berbeda tapi hampir mirip-mirip saja. Menyangkut masalah harga BBM dan tiga periode presiden, setelah sore ini sudah selesai Alhamdulillah semua berjalan aman, lancar, dan tertib,” ungkap Metro Bekasi Kota, Kombes Pol Hengki.
Pihaknya mengapresiasi massa yang telah menahan diri. Meski tidak dipungkiri beberapa momen ketegangan antara massa dan petugas sempat terjadi, demonstrasi sempat diwarnai aksi saling dorong.
“Walaupun tadi ada dorong-dorongan itu masih hal yang sangat wajar. Artinya tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti anarkis dan lain-lainnya,” tukasnya. (Sur)











