Usaha Parsel Lebaran Sepi Pembeli

BUAT PARSEL: Pekerja menyelesaikan pembuatan parsel di Jalan KH Noer Ali Kalimalang Kota Bekasi, Selasa (19/4). Penjualan parsel jelang Lebaran 2022 belum ada kenaikan secara signifikan dibanding tahun sebelumnya. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Selama dua tahun pengusaha parsel mengalami penurunan pemesanan menjelang Lebaran akibat pandemi Covid-19. Namun setelah landainya Covid-19, mereka masih mengeluhkan belum ada kenaikan pemesanan yang signifikan.

Pemilik Situtup Parsel yang beralamat di Jalan KH Noer Ali Kalimalang Kota Bekasi Jamal (36) mengatakan, pemesanan parsel tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.


Biasanya pekan kedua Ramadan sudah banyak pembeli, seperti tahun lalu sudah menjual mencapai 10 paket. Namun sekarang masih belum ada pemesanan satu pun.

“Tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu, tahun lalu minggu kedua aja sudah sampai ke jual 10 paket, sekarang udah dua minggu belum laku sama sekali,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (19/4).


Meskipun pada minggu kedua tidak ada sama sekali, dirinya memprediksi pemesanan parsel akan meningkat pada minggu terakhir menjelang Idulfitri 1443 Hijriah.

“Kita prediksi untuk ramai orderan biasanya seminggu terakhir menjelang lebaran biasanya rame,” tuturnya.

Parsel yang dijual berisikan aneka makanan dan minuman ringan serta sirup. Tingginya harga bahan baku membuat harga parsel di tempat ini naik 10 persen setiap paket.

“Karena harga barangnya mahal kita naikin 10 persen dari harga sebelumnya. Normalnya Rp200 ribu sekarang menjadi Rp250 ribu untuk parsel paket kecil,” pungkasnya.

Adapun harga parsel dibanderol mulai dari Rp250 ribu sampai Rp300 ribu untuk paket ukuran kecil, Rp450 ribu sampai Rp550 ribu untuk paket ukuran sedang, dan Rp700 ribu sampai Rp800 ribu untuk paket ukuran besar.

Biasanya paket ukuran kecil paling laris dibeli dibandingkan parsel dengan ukuran yang besar. Adapun biasanya orang-orang kantor yang membeli parselnya.

“Yang sering paket yang kecil harganya murah, untuk paket yang gede jarang laku. Biasanya yang beli tuh orang-orang kantor,” katanya.

Jamal pun akan tetap membuat parsel dengan bahan baku makanan ringan karena harga yang tidak terlalu mahal. Dibandingkan dengan parsel yang bahannya seperti baju koko, sarung, dan sebagainya.

“Kita fokus ke makanan ajah murah modalnya, kalau baju koko sarung nanti dulu ajah, belum stabil soalnya,” tutupnya. (cr1)